nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Selfie di Lokasi Bencana, Berikut Deretan Faktanya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 30 Desember 2018 13:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 30 196 1997753 fenomena-selfie-di-lokasi-bencana-berikut-deretan-faktanya-KasBLWKRuc.jpg

KELAKUAN sejumlah orang selfie di lokasi bencana tsunami di Banten menuai kritik pedas dari masyarakat. Tak hanya kali ini saja, saat bencana erupsi Gunung Agung di Bali, terungkap sejumlah wisatawan dan orang biasa melakukan hal serupa. Begitu pula saat gempa melanda Lombok.

Apakah ini khas perilaku orang Indonesia?

Media asing Guardian memotret fakta banyak orang Indonesia mengunjungi lokasi tsunami di Banten agar bisa melakukan swafoto atau selfie dan mendapatkan 'like' di media sosial.

Disebutkan seorang perempuan rela menempuh perjalanan selama dua jam, dari Cilegon ke lokasi tsunami, agar bisa berbagi foto di media sosialnya, yang memperlihatkan dia dan teman-temannya di lokasi. Foto itu, tulis Guardian, dijadikan "bukti di Facebook bahwa mereka benar-benar sampai di lokasi dan memberikan bantuan."

Ditambahkan, seorang perempuan muda lain yang sedang berlibur di Jakarta dari Jawa Tengah, rela menghabiskan tiga jam di mobil (dan memangkas liburannya) untuk sampai ke Banten karena "ingin melihat kerusakan dan orang-orang yang terkena tsunami", serta tentu saja membagikannya di media sosial.

Tulisan itupun menuai respons di (lagi-lagi) media sosial, kebanyakan berupa kecaman terhadap orang-orang yang disebut kurang peka dan tak punya empati terhadap para korban.

Terlepas dari apakah yang dilakukan para pengejar 'like' di media sosial itu etis atau tidak, apa yang dilakukan mereka bukanlah sesuatu yang unik.

Sebagai seorang jurnalis, saya menyaksikan hal yang sama juga dilakukan oleh banyak orang asing ketika saya meliput erupsi Gunung Agung di Bali dan gempa di Lombok.

Ketika meliput warga di pengungsian di GOR Swecapura Klungkung, Bali, saya melihat sendiri banyak turis datang, melihat-lihat dan berfoto - meski pada saat itu saya tak benar-benar memperhatikan mereka karena sedang fokus pada tugas.

Bukan hanya di sana. Setiap kali saya ke pengungsian, saya selalu melihat pemandangan yang sama: turis-turis melihat-lihat para pengungsi dan mengambil foto. Bahkan saya sempat mengunggahnya ke media sosial saat itu.

Di artikel itu, ada wawancara dengan Peter Robert, yang saat ditemui sedang berfoto-foto dengan pasangannya.

"Ini pengalaman sekali seumur hidup. Kita tidak tahu lagi kapan terjadi. Dan di negara saya, tidak ada gunung sebesar dan seaktif ini," tutur turis Australia itu tentang alasan mereka masih berada di lokasi, meski kerap merasakan gempa vulkanik akibat aktivitas Gunung Agung.

Tak sekedar berfoto, sebagian turis bahkan nekad mendaki gunung api itu. Pada Januari lalu, dua turis dari Australia dan seorang turis Rusia diamankan karena diam-diam mendaki gunung meski telah diperingatkan bahwa kawasan tersebut ditutup untuk pendakian karena berbahaya.

(Baca Juga: Selamat, 3 Zodiak Ini Bakal Temukan Jodoh di 2019)

Di sisi lain, kawasan yang terkena tsunami Selat Sunda adalah Lampung Selatan dan pesisir Banten. Bukan kebetulan, kawasan pesisir Banten cukup populer juga sebagai tujuan wisatawan lokal.

Memang sering ada wisatawan asing, namun umumnya adalah pekerja asing alias ekspatriat yang bermukim di Jakarta, yang menjadikan Tanjung Lesung, dan Carita, misalnya, sebagai tempat plesiran akhir pekan, sebelum kembali ke Jakarta dan bersibuk-sibuk dalam pekerjaan.

Andai saja Banten atau Lampung Selatan adalah daerah tujuan utama wisatawan asing seperti Bali dan Lombok, yang para turisnya berjubel dan berada di sana berhari-hari untuk sepenuhnya berlibur, saya bisa membayangkan, mereka juga hilir mudik ke pengungsian dan lokasi kerusakan, lalu berfoto. Sebagaimana terjadi di Gunung Agung dan Lombok.

(Baca Juga: Sederet Perempuan Seksi di Samping Hotman Paris, Maunya Nempel Terus)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini