Tak Menua, Barbie Sambut Ultah ke 60 Tahun

Agregasi VOA, Jurnalis · Jum'at 04 Januari 2019 19:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 04 194 2000129 tak-menua-barbie-sambut-ultah-ke-60-tahun-KkLz5I0yy5.jpg Boneka Barbie Sambut Ulang Tahun ke 60 (Foto: VoA)

Tahun ini Barbie akan berulang tahun ke-60 dan tak ada tanda-tanda penuaan sedikit pun. Tak tampak keriput pada kulitnya. Berambut pirang atau berambut coklat, bertubuh langsing atau padat berisi, berkulit hitam atau putih, putri atau presiden, Barbie adalah favorit gadis-gadis muda, meski sering menjadi kontroversi selama bertahun-tahun.

Boneka ikonik itu juga sudah mengikuti zaman. Coba cek akun Twitternya. Di tengah sengitnya kompetisi industri mainan, 58 juta boneka Barbie dijual setiap tahun di lebih dari 150 negara. “Dalam industri dimana hitungan sukses itu tiga hingga lima tahun, 60 tahun itu prestasi,” kata Nathan Baynard, direktur pemasaran merek global untuk Barbie seperti dikutip kantor berita AFP.

Baca juga:

Di seluruh dunia, Barbie sangat terkenal seperti layaknya Coca-Cola atau McDonald’s, kata Baynard dalam kunjungan baru-baru ini ke studio desain Barbie di El Segundo, di pinggiran Kota Los Angeles.

Secara keseluruhan, lebih dari satu miliar boneka Barbie sudah terjual sejak debut dalam Pameran Mainan Amerika di New York pada 9 Maret 1959.

Barbie tercipta dari tangan Ruth Handler, salah satu pendiri Mattel. Dia mendapat inspirasi dari anak-anaknya sendiri untuk menciptakan boneka.

“Pilihan mainan untuk putrinya, Barbara, terbatas. Hanya punya boneka-boneka bayi,” kata Baynard mengenang.

“Satu-satunya peran dalam imajinasinya adalah pengasuh dan ibu.” Sementara putra Handler bisa “berimajinasi menjadi seorang astronot, koboi, pilot, dokter bedah.” Barbie, tentu saja, kependekan dari nama Barbara.

Boneka seharusnya mengajarkan anak-anak perempuan bahwa “mereka punya pilihan, mereka bisa jadi apa saja. Pada 1959, itu ide yang radikal!” ujar Baynard.

Barbie langsung sukses. Pada tahun pertama, 300 ribu boneka terjual, kata Baynard menambahkan.

Ide Tak Terwujud?

 Dari awal standar gadis cantik yang ditampilkan Barbie tidak tampak feminis dan akan menuai kritikan selama berdasawarsa kemudian.

“Pada 1959, struktur tubuhnya dibuat berlebihan untuk menyesuaikan dengan estetika waktu itu dan bahan kain yang tersedia,” kata desainer Barbie, Carlyle Nuera. 

Sejak boneka cantik berambut pirang itu dijual di toko-toko dan setelah hujan keluhan atas proporsi tubuhnya yang tidak realistik, Mattel sudah membuat banyak perubahan. Mattel mulai memperkenalkan berbagai ukuran tubuh dan puluhan warna kulit.

MG Lord, pengarang “Forever Barbie” juga berargumen bahwa kritikan awal tidak beralasan.

“Dia adalah sosok yang diimpikan anak-anak bila besar nanti. Bagaimana seorang anak melihat boneka Barbie sering kali dibingkai oleh bagaimana ibu dari anak itu memandang ide feminitas,” kata Lord kepada AFP.

“Masalahnya dbukan pada benda plastik berukuran 11,5 inci. Masalahnya adalah budaya yang lebih luas dan ide tentang feminitas.” kata Lord menambahkan.

Pada 1965, empat tahun sebelum Neil Armstrong berjalan di Bulan, Barbie menjadi astronot. Pada 1968, boneka Barbie kulit hitam pertama, yang dinamakan Christie, mulai dijual.

Lisa McKnight, wakil presiden senior dan manajer umum global untuk merek Barbie, mengatakan saat ini sekitar 55 persen dari boneka Barbie yang dijual di seluruh dunia tidak berambut pirang atau memiliki mata biru.

Mattel punya lebih dari 100 orang bekerja di studio desain di El Segundo, yang menempati bangunan seperti hangar besar. Studio desain Mattel terletak antara Bandara Internasional Los Angeles dan sebuah jalan raya.

Para perancang mulai dengan sketsa sederhana. Dari sana, setiap purwarupa dibuat oleh para ahli. Mulai dari membentuk boneka menggunakan perangkat lunak canggih dan pencetak 3 Dimensi untuk melukis wajah, menata rambut, memilih kain dan merancang pola pakaian.

Keseluruhan proses desain untuk Barbie baru bisa memakan waktu 12-18 bulan. Kemudia, purwarupa itu dikirim dari ruang kerja di California ke pabrik-pabrik di China dan Indonesia untuk produksi masal.

“Kadang-kadang, kamu melihat dia di rak dan kamu ingat: oh iya, saya merancang yang satu ini!” kata Nuera sambil tersenyum.

(ren)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini