nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pernikahan Kusumo Bimantoro & Maya Lakshita Kental Budaya Jawa, Tradisi Kuno Jadi Kejutan!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 05 Januari 2019 12:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 05 406 2000308 pernikahan-kusumo-bimantoro-maya-lakshita-kental-budaya-jawa-tradisi-kuno-jadi-kejutan-sjGR8IP7nl.jpg Pernikahan Kusumo Bimantoro dengan Maya Lakshita Noorya kental budaya jawa (Foto:Ig/pasachanel/kadipatenpakualama)

 

PAKU ALAM X  melangsungkan pernikahan anak sulungnya Bendara Pangeran Harya (B.P.H.) Kusumo Bimantoro dengan dr Maya Lakhsita Noorya, Sabtu 5 Januari 2019.

Dalam beberapa kesempatan, Paku Alam X menjelaskan bahwa Dhaup Ageng yang menjadi bagian dari pernikahan anaknya itu tidak akan berlangsung meriah. Meski begitu, adat Jawa akan sangat terasa di setiap prosesi acara pernikahan tersebut.

BACA JUGA:  Seksinya Naomi Zaskia Pacar Baru Sule Panas-panasan di Pantai, Bikin Pria Basah Kuyup!

Salah satu yang menarik perhatian adalah hiburan yang bakal ditampilkan dalam Dhaup Ageng yang dimulai hari ini hingga besok, Minggu 6 Januari 2019. Dalam pernyataan resmi Kadipaten Pakualam di Instagram @kadipatenpakualam, dijelaskan di sana bahwa hiburan yang bakal diberikan adalah kesenian lima beksan (tarian).

BACA JUGA:  DJ Seksi dari Singapura Ini Minta Teman-Teman Cicipi ASI-nya

Dapat dijelaskan, pada Sabtu (5/1/2019), akan ada tiga beksan yang diperlihatkan. Adalah Bedhaya Kembang Mas, Beksan Wilayakusumajana, dan Beksan Putri Melati. Sedangkan, di hari kedua beksan yang ditampilkan ialah Golek Prabudenta dan Beksan Lawung Alit.

 

Penasaran dengan setiap beksan ini? Simak penjelasannya berikut ini

 

1. Bedhaya Kembang Mas

Bedhaya ini merupakan yasan dalem K.G.P.A.A. Paku Alam X bagi mempelai. Bedhaya yang diperagakan oleh enam abdi dalem Langen Praja putri ini merepresentasikan pertemuan sepasang insan yang berjanji untuk bersatu dalam ikatan perkawinan. Dalam bedhaya ini, diselipkan kidung Asmaradana Pameling sebagai berikut

Ywan sira nambut akrami

Tansah muhung kang Kawasa

Murih bagya sedayane

Aywa lena kaprayitna

Kehing godha rencana

Iku piweling satuhu

Luwih becik dentindakna

atau artinya,

Jika engkau menikah

Selalu memohon kepada Tuhan

Supaya berbahagia semuanya

Jangan lengah

Dari godaan

Itu nasihat yang sebenarnya

Lebih baik dilaksanakan

2. Beksan Wilaya Kusumajana

Beksan ini diciptakan pada masa pemerintahan S.D.K.G.P.A.A. Paku Alam IX (tahun 1999 - 2015) yang diambil dari naskah Sestradisuhul. Sestradisuhul itu sendiri berarti rasa yang tinggi sebagai sarana nyata untuk berkontemplasi (mawas diri) terhadap segala sesuatu yang lebih agar tercapai makna kehidupan yang sebaik-baiknya. Naskah ini berisi pelajaran yang memuat berbagai cerita tentang para nabi, para wali, para raja di tanah Jawa, serta terdapat pula ajaran Asthabrata, Pendawa lima, dan ajaran tentang keutamaan.

Beksan Wilaya Kusumajana ditarikan oleh 7 orang penari pria. Tari ini mengisahkan tentang perjalanan hidup dari Pangeran Notokusumo putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono I. Pangeran Notokusumo adalah adik dari Sri Sultan Hamengkubowo II yang lahir dari rahim seorang ibu bernama B.R.Ay. Srenggorowati.

3. Beksan Putri Melati

Beksan ini merupakan yasan dalam K.G.P.A.A. Paku Alam X. Beksan ini merepresentasikan keceriaan para putri pada saat menyambut tamu yang berkunjung ke Istana Pakualam. Beksan yang diperagakan oleh delapan penari putri ini merupakan simbol puja-puji kepada Sang Pencipta atas segala kemurahan-Nya.

4. Golek Prabudenta

Beksan yasan dalam K.G.P.A.A. Paku Alam X ditarikan oleh delapan penari putri yang mengekspresikan keceriaan. Beksan yang diiringi gendhing psupadenta ini mengajak para pemirsanya untuk turut bergembira.

5. Beksan Lawung Alit

Beksan ini merupakan bagian dari tradisi Lawung Ageng yang lahir dan berkembang di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan diciptakan oleh Ng.D.I.S.K.S. Hamengku Buwana I. Tidak dapat dipungkiri yang dibawa masuk ke dalam Pura Pakualam oleh S.D.K.G.P.A. Paku Alam I dan S.D.K.G.P.A.A. Paku Alam II yang ditidakdapat dilepaskan dari sejarah kedua tokoh pendiri Dinasti Kadipaten Pakualam itu sebagai Putra dan cucu Ng.D.I.S.K.S. Hamengku Buwana I.

Pada masa awal berdirinya Kadipaten Pakualam, Pangeran Notokusumu (PA II) diberikan beberapa tari tradisi Karaton Ngayogyakarta dalam bentuk yang lebih sederhana atau sering disebut alit. Di antaranya adalah tari Lawung serta tari pusaka yaitu Bedhaya Semang. Peristiwa ini dijelaskan dalam naskah Babad Pakualam dan Langen Wibawa.

Beksan Lawung Alit ditarikan oleh 8 orang penari laki-laki dalam gaya tari madya atau antara gaya tari halus dan gagah. Keempat penarinya menggunakan properti berupa lawung. Beksan Lawung sendiri merupakan gambaran semangat para prajurit yang berlatih perang. Pada awalnya, tarian ini merupakan siasat yang dilakukan Sultan HB I untuk mengalihkan perhatian Belanda terhadap kegiatan kemiliteran di Karaton Ngayogyakarta,

Hal ini dikarenakan kegiatan latihan militer dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda, oleh karenanya dengan membuat sebuah latihan kemiliteran yang dibuat dalam bentuk tarian ini, kekuatan militer karaton tetap terjaga walau pun sedang berada di bawah tekanan pemerintah Hindia Belanda.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini