Baru Menjadi Ibu di Usia 40-an, Ini Kisah Para Perempuan di Dunia

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 06 Januari 2019 14:41 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 06 196 2000626 baru-menjadi-ibu-di-usia-40-an-ini-kisah-para-perempuan-di-dunia-HjQ8R1TA9s.jpg Jenny Glancy dan anak kembarnya (Foto: BBC)

MESKI masih banyak kasus pernikahan dini, namun banyak pula perempuan yang baru menjadi ibu pertama kali di usianya yang memasuki 40 tahun ke atas. Hal ini disebut-sebut oleh dunia menimbulkan dampak baik untuk masyarakat dan ekonomi.

Sebulan setelah berulang tahun ke-40, Jenny Glancy-Potter melahirkan anak kembar. Kelahiran ini menandai akhir perjuangannya untuk menjadi seorang ibu, dan awal bahagia dari tahapan kehidupannya yang baru. Pengalaman menjadi ibu, bagi Glancy-Potter, terjadi jauh lebih lambat dari yang ia bayangkan sebelumnya.

"Dalam berbagai aspek hidup, energi saya tak lagi sebanyak saat masih muda," katanya. "Tapi dari soal pandangan hidup, saya rasa ini adalah waktu yang indah untuk menjadi ibu. Saya lebih sabar, saya lebih bijak, dan saya sudah melakukan banyak hal dalam hidup saya."

 Baca Juga: Diduga Terlibat Prostitusi, Intip Gaya Vanessa Angel Pakai Kebaya Bali

Kini dia menyadarinya, anak-anaknya sekarang sudah berusia lima tahun. Glancy-Potter, 45, dari Lancashire di Inggris, adalah bagian dari komunitas perempuan Generasi X di seluruh dunia yang baru menjadi ibu di usia 40-an lebih. Dan jumlah mereka terus bertambah.

 

Jumlah perempuan yang baru mengawali hidup berkeluarga di usia 40-an atau lebih tua meningkat, sementara jumlah perempuan yang punya anak di usia 20-an dan 30-an menurun. Di Inggris, angka kelahiran di semua kelompok usia turun, kecuali untuk perempuan usia 40-an lebih.

Pada 2016, jumlah kehamilan di kalangan perempuan usia 40 dan lebih meningkat 20% dari setahun sebelumnya, dan angka ini mencapai dua kali lipat dalam 25 tahun terakhir. Pola kelahiran di AS pun sama, pada 2017 tingkat kelahiran mencapai angka terendah dalam 30 tahun, tapi meningkat pada perempuan usia 40, yang kini semakin banyak punya anak.

 

Merawat dua generasi

Ada tantangan dan peluang bagi mereka yang berkeluarga setelah usia 40. Bhavna Thakur, 43, punya anak perempuan usia satu tahun. Dia tahu rasanya menjadi "perempuan paling tua di taman bermain".

Setelah kelahiran anaknya, Thakur kembali menjalani pekerjaannya di Mumbai. Dia bekerja sebagai manajer investasi di sebuah perusahaan investasi. Menurutnya, dengan punya anak di usia 40-an, dia punya waktu untuk bisa mencapai posisi senior.

 Baca Juga: 5 Potret Gaya Seksi Vanessa Angel Kenakan Busana Tanpa Lengan

"Karena saya cukup senior, maka saya bisa mengatur waktu sendiri, sementara jika saya masih junior, maka akan ada orang lain yang mengatur waktu saya dan di mana saya harus berada. Saya punya banyak kelonggaran untuk pulang cepat dan bekerja dari rumah jika dibutuhkan."

Meski dia merasa kesulitan karena tak bisa melakukan perjalanan sebanyak sebelumnya, namun manajernya sangat pengertian, katanya. "Atasan saya bilang, 'Ini adalah permainan 10 tahunan, sebuah marathon, bukan sprint, Anda bisa kembali mengerjakan pekerjaan Anda'."

 

Namun, sebagai ibu Gen X, Thakur menemui tantangan yang tidak diduga sebelumnya. Menurutnya, sulit untuk menyeimbangkan tiga kewajiban besar dalam hidupnya: merawat dua generasi keluarga dan membangun karier.

"Karena kami adalah orang tua yang sudah berumur, orang tua kami juga sudah bertambah usianya. Mereka punya penyakit dan masalah yang juga harus kami rawat," katanya.

"Orang tua saya tinggal di Delhi, dan saya tidak bisa pergi ke sana dan menghabiskan waktu sebanyak yang saya inginkan, karena saya juga punya anak kecil yang harus diurus. Saya terbelah antara ibu dan anak perempuan saya, dan saat ini, anak perempuan saya lebih membutuhkan saya."

Kesulitan Thakur ini menandai adanya masalah yang lebih besar. Banyak perempuan yang mulai berkeluarga di usia 40-an di seluruh dunia yang kesulitan membagi waktu antara merawat dua generasi sekaligus.

Beberapa perusahaan di Selandia Baru dan Inggris kini tengah menguji cara-cara inovatif, seperti empat hari kerja dengan bayaran penuh, yang bisa mendorong keseimbangan antara pekerjaan dan hidup. Meski ada yang sukses, namun program-program ini masih sedikit, belum menjadi sesuatu yang umum.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini