nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahesa Lawung, Ritual Kubur Kepala Kerbau untuk Buang Sial

Bramantyo, Jurnalis · Senin 07 Januari 2019 20:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 07 406 2001161

UPACARA adat Mahesa Lawung merupakan tradisi turun-temurun sejak era dinasti Mataram dengan cara mengubur kepala kerbau di hutan Krendowahono Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Mahesa Lawung adalah upacara meminta keselamatan kepada Tuhan.

Menurut Pengageng Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Satrio Hadinegoro ritual Mahesa Lawung dilakukan setiap hari Senin atau Kamis di Rabiul Akhir atau bulan keempat dalam kalender Jawa. Ini bertujuan membuang sial atau sifat buruk manusia melalui penguburan kepala kerbau.

BACA JUGA:  Foto Bugil Lagi Mandi Tersebar, Intip 2 Tato di Tubuh Vanessa Angel!

"Nantinya kepala kerbau dikirab selanjutnya dikubur di petilasan yang berada di alas (hutan) Krendhowahono," ucap KPA Satrio, Senin (7/1/2019).

 

Upacara awal dimulai di pagelaran Kraton Solo, yang di komandani oleh Lembaga Dewan Adat ( LDA) Kraton Surakarta yang dipimpin GRAy Koes Murtiyah Wandansari (Gusti Moeng) membuka acara sebelum sesaji kepala kerbau termasuk uba rampenya dibawa ke alas Krendhowahono.

Sejumlah sesajian, seperti nasi dan lauk pauk, jajan pasar, buah hingga kepala kerbau bersama organ dalamnya termasuk darah kerbau yang ditutup kain putih terlebih dahulu didoakan oleh para ulama keraton.

"Sesaji itu dikirab menuju hutan Krendowahono Gondangrejo untuk dikuburkan di sana," lanjut Satriyo

Konon menurut cerita leluhur, hutan Krendowoho ini merupakan pintu masuk keraton dari sisi utara. Untuk mengantisipasi adanya kekuatan jahat yang masuk keraton melalui pintu sisi utara dilakukan ritual Mahesa Lawung.

 

"Upacara adat ini juga sekaligus sebagai bentuk syukur atas keselamatan kepada Tuhan yang Maha Esa. Upacara adat sudah ada sejak era Mataram dan sampai saat ini masih berlangsung rutin setiap tahunnya," lanjutnya.

 

Selanjutnya abdi dalem membawa sesaji hasil alam dan kepala kerbau keluar dari Sitinggil Lor Keraton Kasunanan Solo, dalam rangkaian dari upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung yang berisi doa untuk keselamatan negara dan kepala kerbau melambangkan kebodohan yang harus dikubur.

"Kepala kerbau adalah simbol kebodohan yang harus diperangi. Prosesi pemendaman kelapa kerbau di Alas Krendowahono menjadi simbol bahwa kebodohan harus dipendam sedalam-dalamnya," tegasnya.

Disampaikan juga kerbau yang digunakan bukanlah sembarang kerbau, namun memiliki ketentuan khusus. Diantaranya kerbau jantan masih perjaka, dan belum dipekerjakan dan sudah bertanduk.

BACA JUGA:  5 Potret Vanessa Angel Liburan Bareng Kekasih, Hot Basah-Basahan Pakai Bikini!

Ditambahkan Satriyo dahulu upacara Mahesa Lawung untuk menghormati para leluhur di Kraton. Namun karena saat ini sudah masuk dalam bagian NKRI, doa juga dipanjatkan untuk keselamatan negara.

 

"Kami harap Indonesia menjadi negara yang aman, tentram dan makmur," harapnya.

Sesampainya di alas Krendhowahono yang berjarak kurang lebih 15 kilo meter dari Kraton Solo. Sesaji kepala kerbau bujang ini dikubur di area tak jauh dari pepunden. Acara ditutup dengan menggelar acara kenduri atau menikmati makanan bersama-sama seluruh masyarakat yang hadir.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini