nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Bocah Korban Tsunami Lampung, Tertimbun Puing Bangunan Selama 6 Jam

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 08 Januari 2019 19:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 08 196 2001659 kisah-bocah-korban-tsunami-lampung-tertimbun-puing-bangunan-selama-6-jam-xw2X7djUAO.jpg Bocah Korban Tsunami Lampung (Foto: Dixy Hartanto/Okezone)

MALAM itu, Sabtu 22 Desember 2018, suasana terasa begitu berbeda bagi Revan Cio Putra Depati. Rintik hujan tidak henti berjatuhan membasahi ranting pohon dan hamparan pasir pantai di depan rumahnya.

Udara dingin pun seolah menusuk ke dalam tulang, hingga memaksa bocah laki-laki berusia 8 tahun itu menarik selimut dari atas tempat tidur. Revan memang tidur lebih cepat dari biasanya. Ia bahkan tidak menyadari, bahwa malam itu adalah momen terakhirnya bertemu sang ibunda tercinta, Lenawati.

Lena adalah seorang buruh cuci di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Suaminya, Herwanda, meninggal dua tahun lalu karena sakit keras. Untuk menghidupi putra tunggalnya, Lena pun terpaksa bekerja sebagai buruh cuci.

Diceritakan oleh Syariah, bibi Revan, saat bencana tsunami melanda Desa Kunjir, Lena diketahui sedang berkumpul bersama para tetangga di kedai bakso yang tak jauh dari rumahnya.

Baca juga:

"Waktu tsunami datang, ibunya lagi di kedai bakso. Malam minggu memang banyak yang jualan di sekitar pantai. Revan sengaja ditinggal di rumah karena dia sudah ngantuk dan ingin tidur," tutur Syariah kepada Okezone, di Gedung iNews lt.12, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (7/1/2019).

Sekitar pukul 21.30 WIB, suasana tiba-tiba menjadi riuh seiring terdengarnya suara teriakan penduduk yang datang silih berganti. Rupanya gelombang tsunami setinggi 9 meter telah menghantam bibir pantai dan menghancurkan bangunan-bangunan di sekitar.

Dalam tidurnya, Revan mendengar suara seorang wanita yang memanggil-mangil namanya. Suara itu tidak asing, namun terdengar begitu berat dan menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Tak selang berapa lama kemudian, Revan terbangun dari dengan keadaan basah kuyup. Air bahkan sudah menggenangi seisi rumah. Di saat itulah ia menyadari bahwa, suara wanita yang terdengar di bawah alam sadarnya adalah suara sang ibunda tercinta.

"Aku masih bisa mendengar suara ibu, tapi air sudah sampai dihidungku. Aku tidak bisa melihat ibu, kamarku sudah dipenuhi air," ujar Revan dengan tatapan nanarnya.

Diakui Revan, gelombang tsunami ternyata tidak hanya datang satu kali. Ada gelombang susulan yang tidak kalah dahsyat hingga berhasil menghancurkan puluhan rumah yang berada di bibir pantai, termasuk rumahnya.

"Waktu air datang, aku langsung memegang sesuatu seperti batu. Tapi setelah itu aku tidak ingat lagi," papar bocah kelas 2 SD itu.

Gelombong inilah yang kemudian menyeret Revan higga terjebak di bawah puing-puing dan reruntuhan bangunan selama kurang lebih 6 jam. Ia berusaha meminta pertolongan dengan cara berteriak dan merintih semampunya.

Tepat menjelang subuh, 03.30 WIB, para warga termasuk sepupu Revan berhasil menyelamatkan Revan dari jebakan puing dan reruntuhan bangunan yang membuat kaki kirinya mengalami cedera cukup serius. Video penyelamatannya sempat viral di berbagai media sosial.

Namun sayang, takdir berkata lain, sang ibunda tercinta tidak dapat terselamatkan dari bencana yang merenggut 120 korban jiwa di Lampung Selatan.

"Ibu Revan ditemukan 1 jam kemudian, waktu itu masih dalam keadaan hidup. Namun dengan kondisi tubuh yang sudah memprihatinkan. Bagian kanan tubuhnya bengkak terkena runtuhan puing-puing bangunan," ungkap Syariah.

"Ia sempat menanyakan kondisi anak semata wayangnya. Setelah diberitahu bahwa Revan sudah kami bawa, ia pun langsung dilarikan ke rumah sakit, namun meninggal di perjalanan," timpalnya.

Kini Revan harus menjalani hidup seorang diri tanpa belaian dan kasih sayang kedua orang tuanya. Saat ini, ia dirawat dan tinggal di rumah Syariah untuk menghilangkan rasa trauma yang terkadang masih merundungnya.

"Saya dan suami akan merawatnya. Kasian, dia masih trauma. Kalau dengar suara hujan dia langsung tutup kuping, dikiranya ada tsunami. Kalau malam, dia sering terbangun dan memandangi wajah saya. Tapi kemudian dia sadar, ibunya sudah tiada," tutup Syariah.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini