nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tanggapan PB IDI Terkait Aksi Mogok Dokter di Indramayu

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 09 Januari 2019 19:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 09 481 2002230 tanggapan-pb-idi-terkait-aksi-mogok-dokter-di-indramayu-Ty3eWyrAKr.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PEMECATAN dua dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu, Jawa Barat membuat puluhan dokter dan tenaga medis melakukan aksi mogok kerja sebagai bentuk solidaritas. Selain itu, aksi yang dilakukan sejak kemarin siang hingga hari ini juga dimaksudkan untuk menuntut manajemen rumah sakit terkait kenaikan insentif. Akibat mogok kerja tersebut , pelayanan terhadap pasien sempat terganggu.

Aksi ini tentu mengundang perhatian dari banyak pihak termasuk dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI). Wakil Ketua Umum 1 PB IDI, dr M. Adib Khumaidi, Sp.OT memberikan tanggapan mengenai kejadian tersebut.

“Saya sudah koordinasi dengan teman-teman di sana. Ada masalah internal kepegawaian, ada beberapa permasalahan yang terakumulasi. Biasa itu, masalah pelayanan antara dokter dan rumah sakit namun tidak sampai membuat pelayanan terganggu,” ungkapnya saat dihubungi Okezone melalui sambungan telepon, Rabu (9/1/2019).

 Baca Juga: Pesan Penelantaran Pasien BPJS Kesehatan Tersebar di Medsos, Jangan Percaya Itu Hoax!

Dijelaskan oleh dr Adib, para dokter sebenarnya tengah melakukan rapat dengan manajemen rumah sakit terkait adanya permasalahan internal. Hal itulah yang membuat pelayanan poli rawat jalan sempat terhenti pada pukul 8 pagi hingga 11 siang. Namun setelah tercapai kesepakatan, pelayanan berjalan seperti biasa.

“Pas ada rapat wajar bila poli (rawat jalan) terhenti dan pasien tidak bisa berobat. Tapi kami (PB IDI) selalu sampaikan kalaupun ada proses-proses yang mengganggu, pelayanan emergency dan operasi yang sudah direncanakan harus tetap dilakukan, visit pasien tetap harus dilakukan,” ujar dr Adib.

Dirinya menuturkan bila pelayanan rawat jalan pada prinsipnya bukan koordinasi darurat sehingga pihak rumah sakit sebenarnya bisa mengomunikasikan kepada pasien. Selain itu, rapat-rapat internal antara tenaga medis dengan manajemen rumah sakit memang diperlukan sebagai wadah untuk berkoordinasi.

 Baca Juga: Viral, Pasangan Pengantin Kristen Ini Memilih Bridesmaid Berhijab

“Memang seharusnya rapat di luar jam pelayanan, tapi kalau kejadian ini ‘kan sifatnya kasus insidentil, saat itu saja,” tambah dr Adib.

Dr Adib juga menerangkan langkah-langkah yang harus diambil agar ke depannya masalah seperti ini tidak terjadi lagi.

“Para dokter di rumah sakit sebaiknya selalu koordinasi dan komunikasi dengan pihak-pihak manajemen terkait pelayanan kesehatan. Sebaliknya, manajemen harus lebih transparan terkait masalah kebijakan pelayanan, dalam mengambil keputusan harus melibatkan dokter. Selama ini, masih ada rumah sakit yang mengambil keputusan tanpa berkonsultasi dan komunikasi, seharusnya dokter dan manajemen melalui komite medik juga terlibat sehingga informasinya lebih jelas,” pungkasnya.

(tam)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini