nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saling Mengaku Korban, Siapakah Korban dalam Prostitusi Online Sesungguhnya?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 11 Januari 2019 01:23 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 10 196 2002819 saling-mengaku-korban-siapakah-korban-dalam-prostitusi-online-sesungguhnya-Gis1uEmE0i.jpg Muncikari dan Vanessa Angel

KASUS prostitusi online yang melibatkan artis FTV Vanessa Angel telah memasuki babak baru. Hal ini bermula ketika VA dan tim pengacaranya mengadakan konferensi pers bersama awak media.

Dalam pernyataannya, VA mengklaim dirinya menjadi korban kasus prostitusi online yang menggemparkan jagat maya. Namun tak selang berapa lama kemudian, pertanyaan tersebut langsung dibantah oleh seorang wanita yang diduga sebagai muncikari VA.

Wanita itu mengatakan bahwa dirinyalah yang seharusnya menjadi korban. Menurut penjelasan Psikolog, Adityana Kasandra Putranto, untuk menentukan pelaku dan korban pada kasus prostitusi ini memang tidak mudah.

Jika ditilik dari sejarahnya, konon prostitusi dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang paling tua dan paling 'mudah' bagi orang-orang tertentu. Prostitusi pada dasarnya muncul karena situasi sosial, dan dipersepsikan sebagai satu-satunya cara untuk bisa memperoleh uang dengan segala keterbatasan diri.

 Baca Juga: Prostitusi Online, Pakar Kebohongan Ungkap Arti Tangisan AS

Masalah ini lantas menjadi heboh karena ternyata pelakunya banyak dari kalangan artis atau figur publik. Sayangnya, di Indonesia Undang-Undang yang mengatur kasus prostitusi hanya menjerat para perantara (muncikari), belum menyentuh penyedia dan pengguna jasa.

"Pada kasus prostitusi, umumnya perantara atau penyedia jasa saja yang menjadi pelaku dan pasti dikenakan sanksi hukum. Namun, hal ini tidak berlaku di sejumlah negara. Ada beberapa negara yang memberikan hukuman kepada tiga oknum tersebut, penyedia jasa, perantara, dan pembeli," tutur Kasandra, saat dihubungi Okezone via telepon, Kamis (10/1/2019).

Kasandra pun tidak memungkiri bahwa kebutuhan primer manusia terdiri dari tiga elemen terpenting yakni, makan, tidur, dan seksual. Namun dengan batasan hukum, agama, dan etika, proses pemenuhan kebutuhan tersebut diupayakan untuk dikendalikan sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

 

Oleh sebab itu, ada berbagai faktor yang sebetulnya melandasi seseorang berkecimpung di dunia prostitusi. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hal ini juga dipengaruhi konfigurasi kepribadiannya yang mencakup inteligensi, emosional, dan sosial, serta spiritual.

Semua faktor harus dipelajari lebih dalam untuk mengetahui siapakah yang berhak dikategorikan sebagai korban atau pelaku.

 Baca Juga: Intip Serunya Liburan Naomi Zaskia, Artis Cantik Calon Istri Sule

"Ketika unsur emosional lebih menguasai diri untuk memperoleh kenikmatan sesaat, itu dipengaruhi oleh kapasitas pengambilan keputusan seseorang di bagian prefrontal korteks otaknya. Ini berlaku bagi pemakai jasa, penyedia jasa, dan pelaku jasa prostitusi," kata Kasandra.

 

Sementara pada kasus VA, Kasandra mengaku belum bisa menentukan sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, apakah ada faktor manipulasi dan intimidasi sehingga terjadilah aktivitas prostitusi.

"Di dunia artis itu kerap terjadi jebakan demi kemasyuran dan ketenaran, sehingga mereka bisa terjebak dalam lingkaran human trafficking. Ditambah lagi, keterbatasan mereka terhadap pengetahuan tentang hukum, situasi sosial, dan kapasitas pengendalian dirinya," ungkap Kasandra.

"Karena faktor-faktor itulah banyak artis muda yang mudah terjebak. Memang tidak akan kena hukuman, tapi yang paling berat adalah hukuman sosialnya. Mereka pasti habis di-bully netizen. Apalagi saat ini, DPR selaku penyusun UU belum ada inisiatif untuk membuat UU terkait praktek prostitusi," tutup Kasandra. (tam)

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini