nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tender Obat ARV untuk HIV Gagal, Ini Kata Kemenkes

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 10 Januari 2019 22:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 10 481 2002809 tender-obat-arv-untuk-hiv-gagal-ini-kata-kemenkes-KcZVK9Wi2W.jpg Ilustrasi (Foto: Huffpost)

PERGAULAN bebas yang dilakukan oleh sebagian besar anak muda zaman sekarang telah menyebabkan banyak penyakit menular yang berkembang di masyarakat. Oleh sebab itu, ketersediaan obat pun harus tercukupi seiring berkembangnya penyakit menular di Indonesia.

Salah satu penyakit yang berkembang akibat maraknya pergaulan bebas di kalangan anak muda adalah Human Immunodeficiency (HIV). Nah, untuk mengobati penyakit tersebut maka obat antiretroviral (ARV) dibutuhkan untuk perawatan infeksi virus.

Pada 2018 beredar kabar bahwa tender beberapa obat ARV gagal dilakukan Indonesia. Alhasil, ini menjadi suatu hal yang sangat menakutkan, mengingat cukup banyaknya penderita HIV di Tanah Air. Melihat masalah ini, Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, dra. Engko Sosialine Magdalene, mengimbau masyarakat untuk tidak panik.

 

 Baca Juga: Korban DBD di Labuan Bajo Paling Banyak

Menurutnya stok obat ARV masih tercukupi untuk 10 bulan ke depan terhitung sejak Desember 2018. Hal ini berhasil teratasi dengan baik meskipun tender beberapa obat ARV gagal dilakukan pada 2018. Ia mengatakan telah menyediakan alternatif yang bisa digunakan para pasien untuk berobat.

“Tender beberapa obat ARV memang gagal pada 2018, tapi kami sampaikan saat ini untuk tidak khawatir karena persediaan telah kami cukupi. Untuk saat ini persediaan lepasan masih ada, jadi bisa dilakukan sebagai pilihan alternatif. Kami juga telah melakukan import dengan Global Fund,” terang Engko, saat diwawancarai Okezone, Kamis (10/1/2019).

 

 Baca Juga: Dokter Mogok di Indramayu, Dekan FKUI: Mogok Rugikan Pasien!

Engko juga mengatakan telah memperhitungkan dengan teliti masalah ketersediaan obat ARV. Bahkan bila sewaktu-waktu terjadi penambahan pasien baru yang tak terduga. Semuanya telah diantisipasi dengan terus menjaga ketersediaan obat yang dimiliki.

“Setelah kami hitung untuk ketersediaan pada Desember, untuk 10 bulan ke depan ketersediaan tidak menjadi masalah. Secara umum jika ada penambahan pasien baru, hal itu juga akan diantisipasi. Kami akan menghitung terus dan menjaga ketersedian obat tersebut,” tuntasnya.

(tam)

Berita Terkait

Obat

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini