nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 Desainer Modest Indonesia Siap Unjuk Gigi di Hongkong Fashion Week Fall/Winter 2019

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 11 Januari 2019 15:47 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 11 194 2003148 3-desainer-modest-indonesia-siap-unjuk-gigi-di-hongkong-fashion-week-fall-winter-2019-YGGQS3DhCD.jpeg Desainer Indonesia yang akan unjuk gigi di Hong Kong Fashion Week Fall/Winter 2019 (Foto: Pradita Ananda/Okezone)

SUDAH bukan rahasia lagi bahwa industri dunia mode Tanah Air, khususnya modest wear memang sedang menggeliat. Banyak desainer mode Indonesia yang kini semakin rajin wara-wiri di kancah mode internasional.

Seperti kabar bahagia yang dibawa oleh tiga orang desainer modest wear Indonesia ini, Jeny Tjahyawati, Lia Soraya, dan Nina Nugroho. Ketiganya diketahui adalah sebagai desainer busana Muslimah yang berhasil menunjukkan karya-karya rancangannya di salah satu perhelatan mode bergengsi di dunia, Hong Kong Fashion Week Fall/Winter 2019.

Tampil di perhelatan pekan mode bergengsi, Hong Kong Fashion Week Fall/Winter 2019 di mana Hong Kong bisa dibilang adalah “Paris”-nya benua Asia. Tiga desainer modest wear ini mengusung tema konsep tersendiri walau masih berada di dalam naungan payung yang sama yakni mengangkat kebudayaan khas Borneo.

 

Pengambilan tema kebudayaan Kalimantan ini disebutkan Lia Soraya karena memang nyatanya, wastra tradisional dari Kalimantan belum terlalu terekspos maksimal.

 Baca Juga: Kemesraan Ayu Azhari dengan Suami Bulenya, Tetap Cantik Meskipun Hampir 50 Tahun

“Budaya, motif Borneo itu masih jarang diangkat. Kemarin-kemarin biasanya kan tenun NTT, ulos, atau wastra dari Jawa Tengah. Nah dengan ini kita bisa kasih liat kalau wastra tradisional kita itu beragam,” ungkap Lia saat ditemui dalam “Press Conference Hong Kong Fashion Week Fall/Winter 2019” di kawasan Polonia, Jakarta Timur.

 

Di kesempatan yang sama, Lia menambahkan bahwa mengusung tema Dayak ini juga sebetulnya jadi ajang untuk menampilkan sebetulnya Borneo itu punya banyak kekayaan kebudayaan yang bisa dipamerkan.

“Kita lihat lagi, apa yang bisa diekspose dari budaya Kalimantan. Di sana sukunya beragam, ada Dayak, Kutai, Melayu, Tionghoa. Selain motif, warna-warnanya juga bagus ditampilin,” tambahnya.

Pertama ada Jeny Tjahjawati yang mengusung tema “Dayak Luxury”, dengan memfokuskan pada keindahan motif seni lukis suku Dayak yang mana merupakan perpaduan antar pola dasar yang dikreasikan menjadi beberapa variasi, sehingga menjadi kesatuan rangkaian makna yang berarti.

 Baca Juga: Seksinya Cathy Sharon dengan Hot Pants, Foto Terakhir Tidak Pakai Celana Sama Sekali!

Jeny menjelaskan motif seni lukis suku Dayak tersebut, ia mengambil inpirasi dari bentuk tanaman atau bunga dan yang ada di alam sekitar, yang mana sering digunakan dalam berbagai lukisan, ukiran, pahatan pada rumah adat (rumah betang), alat musik tradisional, contohnya Sape atau Kecapi, senjata Mandau, sumpit, dan Telawang, topeng, serta sulam atau rajutan pada busana adat.

Di enam koleksi dengan warna hitam, silver, dan pink fucshia yang akan dibawa ke Hong Kong nanti, Jeny akan meng-highlight teknik lipatan atau pleats. Permainan bidang dengan cara melipat, menumpuk, dan mengembang lalu dibentuk dengan mengadaptasi seni teknik melipat origami dikombinasikan bersama detail seperti print sablon tangan Prada, bordir benang silver, dan payet bambu sehingga menjadikan kesan ​Hi-Tech ​yang muncul dari bentuk-bentuk lipatan melalui kecermatan dan keterampilan tinggi (​craftsmanship​) yang secara kuat memberikan kesan futuristik.

Lalu yang kedua ada Nina Nugroho, yang juga membawakan enam buah koleksi. Sedikit tampil beda dengan membawakan tema “Universe” memadukan gaya desain klasik tapi modern, permainan warna tegas yakni silver dan platinum yang diwujudkan dalam desain busana kantor versi mewah, berkonsep desain two in one yaitu satu piece baju yang dikesankan seperti memakai dua pieces baju. Berupa rok, dress, blazer, shirt, pants, outer dan beberapa di antaranya diberi pemakaian pita dasi untuk menambahkan kesan feminin dan sarung tangan satin modifikasi brukat dan hijab berbahan silk.

 

Sementar itu, aplikasi yang digunakan adalah brukat 3D berbentuk bunga-bunga berwarna putih dan renda 3D berbentuk bunga berwarna silver sebagai lambang keindahan. Material bahan yang digunakan adalah jacquard berwarna silver dan bahan tafetta victoria premium berwarna silver dan platinum. Kemudian dimodifikasikan dengan aksesoris berupa taburan swarovski crystal dan kancing-kancing yang juga menggunakan kristal swarovski.

 Baca Juga: Diduga Pemberian Reino Barack, Intip Foto Cincin Tunangan Syahrini

Terakhir ada Lia Soraya, yang mengangkat motif kultur dari Borneo, Kalimantan Barat dengan memadukan motif anyaman tikar dari Solok, Padang, Sumatera Barat dengan pertimbangan masyarakat Borneo dan Solok memiliki kesamaan ide dalam berkarya, yaitu dari alam. Sebagai contoh motif yang di pakai oleh masyarakat Borneo seperti motif pakis, bunga terong, pucuk rebung, dan kamang. Sedangkan dari Solok memakai motif pakis, tunas bambu atau pucuk rebung, bunga, dan lain-lain.

Pada desain motif yang dipakai oleh Lia Soraya kali ini lebih ke pola motif geometris dengan memasukkan unsur estetis yang dipakai bisa ditampilkan dalam bentuk pengambilan warna, bentuk motif, letak pola motif dan desain busana yang dipakai, untuk makna motif dari Borneo contohnya adalah motif Pakis yang punya makna mengenai keabadian hidup.

Penciptaan motif ini terinspirasi dari tumbuhan pakis (Polystichum setiferum). Bentuk motif ini berkeluk-keluk atau meliuk-liuk seperti halnya tumbuhan pakis. Pucuk rebung, dengan makna mengenai pelajaran hidup yang mendorong manusia agar selalu melangkah di jalan yang lurus. Motif pucuk rebung, penciptaan motif ini terinspirasi dari tunas muda tanaman bambu atau yang biasa disebut Rebung.

Motif ini berbentuk segitiga yang meruncing ke atas dengan bagian pangkal yang besar dan semakin ke atas semakin kecil. Motif Kamang, motif ini memiliki makna daya magis yang melambangkan kekuatan dan keberanian. Penciptaan motif ini terinspirasi dari roh leluhur Suku Dayak. Bentuk motif ini digambarkan dengan seseorang yang sedang duduk menggunakan cawat.

Dalam koleksi yang dibawa ke Hong Kong, Lia mengambil motif pucuk rebung, anyam tikar dan saik wajik atau dodol, yang berasal dari daerah Borneo dan Solok Padang. Permainan warna yang dipakai dalam koleksi Fall/Winter 2019 ini mulai dri biru elektrik, biru jeans, hijau keemasan, abu tua, abu muda, kuning mustar dan coklat tua.

Material bahan sendiri, Lia menggunakan benang tenun sutera, yang nantinya ditenun menjadi kain tenun sutera, selain menggunakan bahan tafeta sutra dan jacquard.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini