nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jejak Eksploitasi Seksual Anak di Sektor Pariwisata Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 13 Januari 2019 00:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 11 406 2003351 jejak-eksploitasi-seksual-anak-di-sektor-pariwisata-indonesia-NSjG07vbX0.jpg Eksploitasi seksual anak di sektor pariwisata (Foto:Ilustrasi/Ist)

KASUS eksploitasi seksual pada anak semakin memprihatinkan. Pada akhir 2017 lalu, polisi berhasil mengungkap kasus penjualan anak-anak perempuan kepada sejumlah Warga Negara Asing (WNA) untuk dieksploitasi secara seksual. Tak selang berapa lama kemudian, tiga remaja di Jawa Barat tega dilancurkan di sebuah apartemen di Surabaya.

Ironisnya, kasus ini juga sudah merambah sejumlah daerah wisata di Indonesia. Hal tersebut disampaikan secara langsung Ai Maryati Sholihah selaku Komisioner Bidang Trafficking dkan Eksploitasi Anak KPAI. Berdasarkan penuturannya, ekSploitasi seksual pada anak ini sering dilakukan oleh para pengusaha yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur.

 Bertemu Presiden Jokowi, Penampilan Agnez Mo Sederhana

“Sudah banyak pengusaha yang mengeksploitasi anak di bawah umur, baik sebaga tenaga di dunia kerja maupun seksual. Menilik kasus di lapangan, banyak pekerjaan yang seharusnya tidak mempekerjakan anak-anak. Misalnya, prostitusi di sebuah kafe, atau modus terapis pijat plus-plus yang kemudian akan memicu terjadinya human trafficking,” tegas Ai Maryati Sholihah saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, belum lama ini.

 

Lebih lanjut, menjelaskan, kasus eksplotasi seksual pada anak ternyata tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja. Para pelaku sudah mulai melirik daerah-daerah terpencil yang memiliki potensi wisata, serta akses pendidikan yang masih terbilang minim.

“Di pedesaan, zona wisata Karangasem di Bali masih melibatkan anak. Tempat seperti ini sulit diberikan sosialiasi karena sudah terjerumus dengan pergaulan lingkungan sekitarnya. Jadi mereka rela-rela saja ketika diajak bekerja,” tegasnya.

Tidak hanya itu, sekarang, tempat transaksi seksual (prostitusi) tidak hanya dilakukan di hotel-hotel melati atau berbintang, tetapi sudah mengalami pergeseran menggunakan properti pribadi seperti apartemen. Kondisi ini semakin diperparah karena sejumlah agency property menyewakan tempat mereka dengan durasi yang cenderung singkat. Mulai dari harian, mingguan, atau bulanan.

Bisa dibilang, para pelaku bisnis prostitusi hanya menggunakan modal yang sedikit, namun dapat mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Terlebih lagi transaksi dilakukan secara online. Identitas para pelaku pun semakin tertutupi.

 Seksinya Cathy Sharon dengan Hot Pants, Foto Terakhir Tidak Pakai Celana Sama Sekali!

KPAI juga menemukan sejumlah kasus eksploitasi anak dengan modus penawaran kerja. Pada awalnya, anak-anak yang masih di bawah umur akan ditawari pekerjaan di kafe atau restoran. Mereka direkrut lalu dijerat hutang sehingga mau tidak mau harus mengikuti permintaan para pelaku.

“Ini yang sekarang menjadi concern kami. Jumlahnya sangat besar. Tidak hanya dari kalangan anak-anak di bawah umur saja, korban protitusi juga melibatkan para pekerja umum. Kami menemukan banyak kasus seperti ini di Bandung. Anak sekarang dilacurkan setelah diimingi-imingi pekerjaan di kafe dan restoran,” tukasnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini