nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengungkap Modus Eksploitasi Anak yang Diperdagangkan

Tiara Putri, Jurnalis · Minggu 13 Januari 2019 13:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 12 196 2003562 mengungkap-modus-eksploitasi-anak-yang-diperdagangkan-6kXF8MwJyG.jpg Kenali modus perdagangan anak (Foto: bigwnews)

Kasus eksploitasi anak baik itu secara ekonomi dan/atau seksual anak yang diperdagangkan masih marak terjadi. Pelakunya bisa dari orang terdekat seperti keluarga maupun tetangga. Modus untuk melakukan tindakan tersebut juga beragam. Khusus untuk eksploitasi seksual yang mengarah ke perdagangan, korban biasanya diiming-imingi kerja di suatu tempat atau luar negeri.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang pekerja sosial di Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Handayani, Bambu Apus, Jakarta Timur bernama Sri. Lembaga ini berada di bawah Kementerian Sosial dan sering memberikan perlindungan terhadap anak-anak korban eksploitasi seksual. Kepada Okezone, Sri menuturkan anak-anak yang menjadi korban biasanya datang dalam jumlah banyak.

"Februari (2018) kemarin ada 6 anak umur 16-17 tahun menjadi terapis pijat plus-plus di Kalibata City. Awalnya satu orang diminta untuk mencari teman untuk bekerja. Dibilangnya menjadi terapis pijat tapi ternyata plus-plus," ungkap Sri saat ditemui baru-baru ini.

Tindakan tersebut terungkap setelah ada seorang anak yang lari dan melaporkan kepada ibunya. Kemudian anak dan ibu lapor ke pihak berwajib dan pijat plus-plus tersebut digerebek oleh Polres Jakarta Selatan. Anak-anak yang menjadi korban selanjutnya dirujuk ke BRSAMPK Handayani.

"Mereka disini kurang lebih satu bulan. Kami coba terapi, ada juga bersama keluarga. Kemudian oleh keluarga diterima, anak merasa menyesal, lalu mereka dipulangkan karena yang terbaik memang anak bersama keluarga," tutur Sri.

infografis

Kasus lainnya adalah kumpulan anak yang diimingi bekerja menjadi pegawai restoran di Tangerang namun dibawa sampai ke Lampung. Tapi ternyata begitu sampai di tempat tujuan anak malah menjadi penjaja seks. Anak-anak tersebut ada yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah.

"Tindakan ini terungkap setelah salah satu korban lari ke rumah penduduk, kemudian kasus ini dilaporkan ke kepolisian. Dari kepolisian dilaporkan ke LPAI, dari LPAI dirujuk ke kami untuk dilakukan perlindungan dan rehabilitasi sosial. Kurang lebih ada 4-6 anak, mereka di sini selama 3 bulan. Sampai sekarang orangtuanya masih ada yang berhubungan sama saya," ujar Sri.

Pekerja sosial lainnya, Azella juga menuturkan di tahun 2016 ada 3 orang anak yang sempat menjadi korban perdagangan ke luar negeri. "Mereka asalnya dari Indramayu, diiming-imingi bekerja di luar negeri, Malaysia. Tapi ternyata diantar melalui jalur darat. Pas di Kuching, bukan dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga malah dijual," ungkapnya saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

Anak-anak yang menjadi korban tersebut kemudian didampingi oleh para pekerja sosial yang melakukan assessment biopsikososial spiritual. Selanjutnya anak-anak diberikan intervensi antara lain terapi realitas, terapi kognitif , pemahaman, edukasi dan konseling, serta bimbingan keagamaan. Bahkan anak-anak diajarkan untuk membuat keterampilan dan menyalurkan minat bakat seperti menyablon, las, otomotif, pendingin, serta membuat handy craft. Setelah pembinaan yang dirasa cukup, barulah anak akan dikembalikan ke pihak keluarga.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini