nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Marak Terjadi, Dampak Pernikahan Paksa Bisa Bikin Bunuh Diri

Abdul Razak, Jurnalis · Selasa 15 Januari 2019 21:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 15 196 2004891 marak-terjadi-dampak-pernikahan-paksa-bisa-bikin-bunuh-diri-uSSNoRIPEq.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SIAPA yang tidak menginginkan pernikahan? Pernikahan dilakukan atas rasa cinta dan rasa sayang satu sama lain. Adanya pernikahan juga untuk menambah keturunan dari pasangan tersebut.

Pernikahan menjadi momen yang sakral bagi sebagian orang, oleh karena itu pernikahan harus berdasarkan dari hati dan saling mencintai antar kedua insan. Berbeda dari pasangan pernikahan yang lain, seorang pengantin wanita menangis tersedu-sedu karena menikah dengan pria yang tidak ia cinta.

Perempuan ini viral di sosial media dan menjadi konsumsi publik. Mempelai wanitanya terlihat duduk di samping pelaminan sambil menangis di dalam video singkat itu.

 

Tidak hanya di Indonesia di beberapa negara juga ada kisah kawin paksa yang berhasil menghebohkan dunia. Seperti di Pakistan, diketahui seorang anak kecil berusia 5 tahun yang berasal dan lahir di Pakistan, dikabarkan paksa untuk menikah dengan pemuda yang jauh lebih tua dari bocah itu. Pria yang akan menikahi perempuan cilik itu diduga berumur 22 tahun. Kejadian yang berlangsung pada tahun 2017 lalu ini langsung menghebohkan dunia.

 Baca Juga: 10 Politisi Perempuan Terseksi di Dunia yang Bikin Gagal Fokus

Selain itu, ada pula kasus pernikahan paksa di India, di mana seorang pria asal India berumur 15 tahun dipaksa menikah dengan wanita berusia 25 tahun yang merupakan kakak iparnya sendiri. Tak mau menikahi sang kakak ipar, laki-laki yang tidak diketahui namanya itu nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Menilai kasus di atas, Okezone coba mewawancarai Meity Arianty, STP,M.Ps terkait pernikahan paksa ini. Ia memaparkan bahwa praktik kawin paksa masih banyak dilakukan di desa-desa. Tidak hanya itu saja, ia menuturkan bahwa kawin paksa menjadi tradisi di beberapa desa di Indonesia.

“Dari beberapa hasil penelitian, praktik ini masih banyak dilakukan di desa-desa. Ada beberapa faktor yang menjadi latar belakang yaitu, ekonomi, mata pencaharian, belum lagi yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk lebih umumnya, kawin paksa itu masih ada di beberapa desa Indonesia,” ujar Meity Arianty,STP, M.Ps saat dihubungi Okezone Selasa (15/1/19).

 

Ia juga mengatakan, alasan orangtua menjodohkan anaknya bisa jadi karena ketakutan terhadap status sang anak yang akan menjadi perawan tua jika tidak dijodohkan. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan orangtua tentang hakikat perkawinan itu sendiri.

 Baca Juga: Vinessa Inez Gugat Cerai Ryan Deye, Intip 5 Potret Kenangan Mesranya

Meity juga memberi tanggapan bahwa dampak yang terjadi pada pernikahan paksa tidak terlalu berarti bagi orangtua yang menginginkan hal ini, namun sangat berdampak besar bagi anaknya. Tidak hanya itu saja, peran orangtua tentang kawin paksa ini masih sering kali diabaikan.

Mengenai dampaknya, menurut Meity bisa negatif dan positif, karena tentunya hal ini tidak menjadi terlalu berarti buat orangtua yang menginginkan pernikahan anaknya.

"Namun, akan berdampak besar bagi sang anak. Peran orangtua terhadap kawin paksa ini masih sering sekali diabaikan. Karena pada prinsipnya pernikahan yang tidak dilandasi rasa suka dan keinginan masing-masing tentu akan berbeda dengan yang dipaksa,” ujar Meity Arianty.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini