Benarkah Rokok Elektrik Solusi Tepat Berhenti Merokok?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 20 Januari 2019 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 18 481 2006452 benarkah-rokok-elektrik-solusi-tepat-berhenti-merokok-cKbdrSyHEd.jpg Vape solusi tepat untuk berhenti merokok? (Foto:Ist)

PREVALENSI rokok di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan menurut data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, sejak tahun 1995, angka prevalensi rokok di Indonesia mengalami peningkatkan mencapai 27%. Angka ini terus bertambah hingga menjadi 36,3% di tahun 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia tengah mengalami suatu kondisi yang biasa disebut dengan istilah "darurat rokok".

Menurut Dr. drg. Amaliya, Ph.D, Ketua KABAR sekaligus peneliti di YPKP Indonesia, sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok aktif terbesar di dunia, edukasi kepada masyarakat sangat penting dilakukan secara bertahap untuk menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

"Sosialiasi atau edukasi itu penting. Penyakit yang ditimbulkan oleh rokok itu tidak akan dirasakan secara langsung, namun dalam jangka panjang. Contohnya, 90 % pasien dengan kanker paru memiliki riwayat sebagai perokok saat masih dalam usia produktif (muda). Dalam beberapa kasus yang saya temukan, efek samping dari rokok ini ada juga yang baru terjadi 20 tahun kemudian," tutur Amaliya kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Baca Juga:

Berobat Pakai BPJS Kesehatan Gak Gratis Lagi

Ini Pacar Kapten Newcastle yang Mirip Kim Kardashian, Sama Seksinya!

Lebih lanjut Amalya menjelaskan, selama ini masyarakat Indonesia hanya mengetahui bahaya rokok dari kandungan nikotinnya yang tinggi. Namun jika ditelaah lebih jauh, setidaknya ada 6.000 bahan kimia berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran rokok.

 

Data tersebut bahkan disampaikan langsung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beberapa waktu lalu. Seiring berkembangnya zaman, para ahli mulai mencoba mencari solusi terbaik untuk menghentikan kebiasaan merokok. Salah satunya dengan menggunakan produk tembakau alternatif, seperti vape.

Namun, apakah benar vape merupakan salah satu cara terbaik untuk membantu seseorang berhenti dari kecanduan rokok?

Tren rokok elektrik atau vape belakangan ini memang tengah menyita perhatian publik, karena dianggap dapat mengurangi dampak negatif dari merokok. Berdasarkan hasil studi dari Public Health England (PHE), produk tembakau alternatif yang diproses dengan teknik pemanasan dipercaya memiliki risiko kesehatan 95% lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Bahkan sebuah penelitian sudah dilakukan untuk mengetahui bahaya tar yang dibakar dengan tar yang dipanaskan (vape). Penelitian tersebut dilakukan secara langsung oleh dr. Amalya dan timnya, yang dimulai sejak tahun 2014 lalu.

"Tahun 2014 kami sudah melakukan tinjauan pustaka mengenai penelitiab yang sudah dilakukan di luar negeri. Tahun berikutnya kami mulai meneliti liquid yang digunakan pada vape. Dan 2017 lalu, kami meneliti mulut para pengguna vape, perokok aktif, dan mereka yang tidak merokok sama sekali," jelas Amalya.

Hasil penelitian menunjukkan, sel-sel yang melapisi pipi bagian dalam para perokok aktif, diketahui memiliki inti sel yang lebih banyak dibandingkan pengguna vape dan mereka yang bukan perokok. Dengan kata kain, sel-sel ini memiliki kecenderungan mengalami ketidakstabilan yang dapat mengakibatkan dysplasia, sebuah kondisi di mana perkembangan sel dan jaringan berjalan tidak normal.

Menurut dr. Feni Fitriani Taufik, Sp. P(K), salah satu anggota Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) mengatakan, bahwa selama ini telah terjadi kesalahan presepsi di kalangan masyarakat Indonesia. Banyak yang mengira vape merupakan salah satu cara terbaik untuk berhenti merokok, dan terhindar dari efek sampingnya.

 

Namun pada kenyataannya, WHO telah mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa rokok elektrik ini sangat tidak direkomendasikan meski efek sampingnya tidak separah rokok konvesional (less harmful).

"Kalau bisa berhenti sepenuhnya kenapa harus berpindah ke vape. Lagi pula vape itu menggunakan proses pemanasan yang secara tidak langsung ada bahan-bahan kimia seperti plastik dan logam yang memicu timbulnya zat karsinogenik," tukas Feni.

 

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini