nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kenali Art Therapy untuk Atasi Trauma Anak Korban Pelecehan Seksual

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 22 Januari 2019 16:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 22 196 2007862 kenali-art-therapy-untuk-atasi-trauma-anak-korban-pelecehan-seksual-M9pMCZYX7g.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur kembali menyita perhatian masyarakat Indonesia. Belum lama ini, Satuan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Bandung, menangkap pelaku pencabulan berinisial DRP (58).

Berdasarkan hasil investigasi kepolisian, DRP diketahui berkedok sebagai guru les dan telah melakukan aksi pencabulan terhadap 34 anak didiknya.

Kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur sebetulnya telah menjadi perhatian pemerintahan Indonesia. Beberapa waktu lalu, Menteri PPPA Yohana Yembise, meminta agar aparat penegak hukum memberikan hukuman yang setimpal bagi tersangka.

 Baca Juga: Wu Chi-yun, Pendaki Gunung Berbikini Tewas Setelah Jatuh ke Jurang

Yohana juga mengimbau agar orangtua mampu meningkatkan kepercayaan diri anak-anaknya dan mengawasi perubahan anak, serta mengimbau agar pihak sekolah lebih selektif memilih pengajar. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menindaklanjuti kasus sodomi yang dilakukan oleh WA alias ‘Babeh’ pada awal Januari 2018.

 

Mengingat dampak dan pengalaman korban pelecahan seksual berbeda, ternyata ada sebuah keterkaitan antara korban kekeresan seksual dengan kesehatan mental dan fisik. Tentu cedera fisik dan kematian adalah dampak yang paling jelas dalam kasus tersebut. Namun ternyata, ada dampak lain yang biasanya dialami oleh para korban seperti trauma fisik, emosional, dan psikologis.

Jika sudah demikian, Samanta Ananta, M.Psi selalu Psikolog Anak dan Keluarga mengatakan, orangtua perlu melakukan sejumlah upaya supaya kondisi emosional anak kembali stabil. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti art therapy.

 Baca Juga: Singa Jadi Paspampres, Aksinya Bikin Warga Kocar-kacir

“Kalau korbannya anak-anak lebih baik pakai art therapy, dan harus pakai tenaga profesional karena prosesnya bersifat therapeutik,” ujar Samanta saat ditemui Okezone di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (22/1/2019).

 

Sesuai dengan namanya, terapi ini menggunakan unsur seni sebagai medianya. Klien bisa menggunakan peralatan seni apa saja, karena yang terpenting adalah hubungan terapetik antara terapisnya dengan mereka.

“Jadi bukan hanya gambar saja, bisa dengan seni-seni yang lain. Terapi ini sebetulnya lebih menitikberatkan pada proses, dan bagaimana cara untuk meningkatkan well being atau kesehatan mental klien saat sesi terapi berlangsung,” jelas Samanta.

 Baca Juga: Caitlyn Jenner Liburan di Magelang, Ini 5 Wisata yang Wajib Dikunjungi

“Kalau art activity bisa gambar apa saja, dalam art therapy justru proses yang terjadi yang paling penting. Sehingga harus orang yang benar-benar memahami yang bisa melakukan terapi ini,” timpalnya.

 

Lebih lanjut, Samanta menjelaskan, durasi terapi umumnya berlangsung selama kurang lebih satu hingga dua tahun. Namun, ada juga klien yang membutuhkan sesi lebih panjang karena terkendala berbagai hal, termasuk ketidaksabaran mereka dalam mengikuti sesi terapi.

Oleh karena itu, para orangtua diimbau untuk memberi dukungan penuh kepada anak-anak mereka selama proses terapi berlangsung.

“Orangtua harus mensupport, jangan menunjukkan sikap seolah-olah terbebani karena harus nganterin anak. Selain itu, jangan kepo atau bertanya langsung kepada anak. Terapi itu sifatnya rahasia, kalau anaknya mau cerita hargai kalau tidak juga hargai,” pungkas Samanta.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini