Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Menjawab Tantangan Zaman

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 22 Januari 2019 20:23 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 22 196 2007998 pentingnya-pendidikan-karakter-untuk-menjawab-tantangan-zaman-7WTfDu6zfk.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PERKEMBANGAN teknologi dan pengaruh globalisasi menjadi tantangan zaman sekarang. Untuk menjadi sukses, setiap orang perlu memiliki kemampuan memecahkan masalah, beradaptasi, berkolaborasi mengembangkan kreativitas dan inovasi, serta kepemimpinan. Bukan tidak mungkin bila tantangan di masa depan akan semakin berat.

Guna mengatasi hal ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu model pembelajaran yang bertumpu pada kekayaan kearifan lokal. PPK merupakan gerakan nasional untuk mengimplementasikan dan memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam satuan pendidikan yang diselaraskan dengan nilai budaya. Melalui cara ini, sekolah diharapkan mendesain pembelajaran secara kontekstual serta bersinergi dengan orangtua dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan.

 sekolah diharapkan mendesain pembelajaran secara kontekstual

(Anak-anak main sepeda di Istana Negara, Foto: Fakhri/Okezone)

"Kalau berbicara tentang pendidikan karakter, sebenarnya sudah menjadi bagian dari konten kurikulum 2013. Kemudian ada Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter sehingga secara keseluruhan harus dilaksanakan di dalam ekosistem pendidikan, bukan hanya pada siswa," ungkap Dr. Arie Budhiman, M.Si, selaku Staf Ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter kepada Okezone, Selasa (22/1/2019).

 Baca Juga: Jalan-Jalan di Jawa Timur, Berapa Juta yang Dihabiskan Wisatawan Asing dalam Sehari?

Ditemui usai acara peluncuran buku 'Panduan Praktis Penguatan Pendidikan Karakter' hasil kerja sama Kemendikbud dengan Wahana Visi Indonesia, Arie menuturkan bila pendidikan karakter sebenarnya pembelajaran sepanjang hayat. Pendidikan karakter diperlukan karena merupakan visi atau ideologi dari setiap bangsa untuk membangun identitas.

"Ini menjadi sangat penting terutama dalam menghadapi berbagai tantangan seperti kemajuan teknologi, revolusi industri 4.0, dan lain sebagainya," tambahnya.

Dalam PPK terdapat 5 nilai yang diajarkan kepada peserta didik yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Pada pelaksanaannya, PPK bersifat kontekstual yaitu disesuaikan dengan kondisi aktual masing-masing daerah. Pembelajarannya dimasukkan dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

 Baca Juga: Wu Chi-yun, Pendaki Gunung Berbikini Tewas Setelah Jatuh ke Jurang

"Memang lebih banyak di ekstrakurikuler karena dari sana bisa memberikan pengaruh kepada peserta didik sehingga praktek dan karakter bisa tumbuh," ujar Arie.

Sementara itu, menurut pakar analis Pendidikan Kebijakan di Pusat Analisis dan Kebijakan Sinkronisasi (PASKA), Doni Koesoema A., dalam pelaksanaannya PPK memang masih menemukan sejumlah hambatan. Salah satunya adalah pemahaman konsep dari pengajar.

 Dalam pelaksanaannya PPK memang masih menemukan sejumlah hambatan

(Ilustrasi)

"Kalau guru tidak paham konsep mereka bingung. Di beberapa tempat praktiknya ada yang salah, banyak yang menganggap PPK itu agama jadi kegiatan keagamaan diperbanyak, padahal bukan. Agama hanya 1 dari 5 nilai sehingga semuanya harus utuh diajarkan. Kemudian dianggap PPK hanya ada di dalam pembiasaan-pembiasaan seperti upacara bendera, ini salah juga," ujar Doni saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

Hingga saat ini ia mengatakan bila penerapan PPK sudah hampir mencapai 85%. Di tahun 2019, diharapkan bisa mencapai 100% karena didampingi oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) masing-masing provinsi. Selain konsep, hambatan lain dalam penerapan adalah populasi yang besar, sinergi tripusat pendidikan, kondisi prasarana dan sarana, serta peristiwa yang terjadi di masyarakat.

Di sisi lain, PPK diperlukan untuk membentuk manusia-manusia yang memiliki nilai kehidupan di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi. Sebab apabila tidak dipersiapkan, maka instrumen teknologi, informasi, komunikasi malah akan disalah gunakan untuk merusak.

"PPK itu ingin mempersiapkan generasi masa depan secara sungguh-sungguh sehingga bukan hanya memiliki skill dan keterampilan tapi juga nilai-nilai. Penguatan PPK akan menghasilkan generasi yang bukan hanya pintar menggunakan gawai tetapi bisa menggunakan gawai untuk mencegah kerusakan lingkungan meningkatkan ekonomi, dan membangun komunikasi sosial yang baik," pungkas Doni.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini