nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Catat, Stunting Bisa Disebabkan Perilaku Orangtua yang Seperti Ini!

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 23 Januari 2019 18:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 23 481 2008375 catat-stunting-bisa-disebabkan-perilaku-orangtua-yang-seperti-ini-Jzrt9df4fs.jpg Jangan salah pilih makanan untuk bayi di bawah usia 2 tahun (Foto: The Bump)

Stunting menjadi salah satu penyakit yang masih banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh, sekira 15 provinsi di Indonesia masih memiliki angka stunting sebesar 30-40 persen. Tentunya angka ini masih terbilang cukup besar dari angka yang ditetapkan WHO yakni sebesar 20 persen.

Memang sangat miris, melihat tingginya angka stunting di Indonesia. Padahal seiring perkembangan zaman, Indonesia sudah semakin maju dalam hal teknologi. Seharusnya masyarakat bisa dengan mudah mencari informasi terkait stunting.

Dokter Anak Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K), menjelaskan saat ini banyak sekali orang yang kurang memahami nutrisi yang diperlukan oleh para buah hatinya. Jika didiamkan dalam jangka waktu lama maka akan menyebabkan malnutrisi yang bisa berakibat stunting.

Dokter Damayanti mengatakan zat yang diperlukan oleh tubuh seorang anak untuk pembentukan otak adalah karbohidrat, lemak dan protein. Ketiga zat inilah yang sangat dibutuhkan seorang anak saat berusia kurang dari dua tahun.

stunting

Alih-alih ingin memberikan gizi yang tebaik untuk sang buah hati, para orangtua berusaha memberikan aneka makanan yang mereka yakini bagus untuk perkembangan si kecil. Hal inilah yang membuat salah kaprah dan berakhir pada kasus malnutrisi.

“Salah kaprah sering terjadi pada orangtua. Contohnya sayur mayur diberikan kepada bayi. Padahal makanan itu kan mengandung serat, dan waktu yang tepat untuk memberinya ketika di atas dua tahun. Harusnya anak diberi karbohidrat, lemak dan protein yang membentuk otak. Jadi makanan itu yang harus diberikan selama 2 tahun pertama,” tutur dr Damayanti, saat ditemui Okezone dalam acara Milk Versation Frisian Flag, Rabu (23/1/2019).

bayi makan sayur

Menurut dr Damayanti, air susu ibu (ASI) adalah makanan yang tepat untuk sang buah hati. Meski demikian, kualitas ASI lama kelamaan akan menurun. Alhasil, anak harus mengonsumsi asupan pendukung ASI untuk memenuhi kebutuhan kabohidrat lemak dan protein.

Baca Juga: Awas, Ini Dampak jika Anak Stunting di Atas Usia 2 Tahun!

Protein yang dibutuhkan seorang anak untuk tumbuh dan berkembang juga bukan sembarangan. Protein yang dipakai untuk pertumbuhan adalah yang memiliki asam amino esensial lengkap yakni berasal dari protein hewani. Kebutuhan protein yang dibutuhkan adalah sebesar 10%.

Ia juga menambahkan bahwa seorang bayi juga diizinkan untuk mengonsumsi makanan berminyak seperti santan dan lain-lain. Pasalnya sang anak sudah mulai mengenal rasa sejak ia berada di dalam kandungan.

“Air ketuban dan ASI juga memiliki rasa seperti apa yang dimakan oleh sang ibu. Jadi seorang anak itu sudah bisa mengenal rasa sejak ia berada di dalam kandungan,” lanjutnya.

Sebagian orang di Indonesia menilai bahwa stunting merupakan salah satu penyakit yang menular. Namun, dr Damayanti menilai bahwa stunting bukanlah penyakit yang timbul secara genetik. Penyakit ini bisa terjadi karena prilaku makan yang tidak baik.

“Stunting karena lingkungan dan bukan genetik. Jadi menurun dengan cara makan yang tidak baik. Pada dasarnya stunting tidak menurun tapi semuanya dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi jika lingkungannya diperbaiki maka stunting bisa dicegah,” tutupnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini