Kecanduan Selfie Berujung Operasi Plastik?

Salma Nafisa, Jurnalis · Kamis 24 Januari 2019 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 24 611 2008844 kecanduan-selfie-berujung-operasi-plastik-bJeh67S5f2.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KAUM milenial dan anak zaman now nampaknya memang kerajingan selfie. Memang, swa foto awalnya dilakukan karena ingin mengabadikan momen, namun lama kelamaan berkembang menjadi sebuah kebiasaan.

Tapi, sebuah penelitian terbaru menyebut kebiasaan ini bisa menurunkan selfesteem alias kepercayaan diri pada wajahnya. Akibatnya, banyak orang terutama wanita, akhirnya melakukan operasi plastik agar lebih terlihat menarik.

Melansir dari The Health Site, Dr. Debraj Shome ahli bedah plastik dan kosmetik wajah dan Direktur dari The Esthetic Clinics, telah melakukan penelitian kepada 300 orang.

Baca Juga: 7 Meme Kocak Aksi Ahok, Mana yang Bikin Kamu Ngakak!

Dia pun menemukan bahwa proses foto selfie tersebut dapat berujung negatif, dan mempengaruhi harga diri serta persepsi citra tubuh orang. Peserta penelitian tersebut pun akhirnya mengunjungi klinik untuk menjalani prosedur kosmetik, dengan tujuan mengubah penampilan mereka.

“Rhinoplasty (operasi yang mengubah bentuk hidung), blepharoplasty (operasi yang dilakukan pada kelopak mata), transplantasi rambut, sedot lemak dan transplantasi rambut adalah prosedur kosmetik yang paling sering dilakukan untuk mengubah tampilan,” kata Dr. Shome.

Studi menemukan bahwa orang-orang akan merasa tidak bahagia, jika postingan foto diri mereka sendiri di media sosial jelek. Sebaliknya, mereka melaporkan perasaan tidak mampu secara fisik, meningkatnya kecemasan dan berkurangnya kepercayaan diri.

Baca Juga: Drama Percintaan Ahok, Cerai dengan Veronica hingga Siap Buang Status Duda

“Perasaan tidak mampu yang meningkat ini adalah apa yang sebenarnya mendorong orang untuk mencoba dan mengubah penampilan mereka, melalui operasi kosmetik,” ujar Dr. Shome.

Dalam penelitiannya yang dilakukan hingga Oktober dan November 2018, melakukan percobaan pada emosi para peserta yang dinilai pada grafik analog visual. Mereka akan mewakili kedua jenis kelamin, kelompok pada usia 18-40 tahun dan menggunakan iPhone 6 untuk percobaan.

Obsesi pada selfie tersebut terus menerus menekankan pada satu atau lebih kekurangan yang dirasakan terhadap penampilan seseorang, kebanyakan dari mereka ingin menurupi cacat yang hampir tidak terlihat oleh orang lain, hal tersebut dikenal sebagai gangguan dysmorphic tubuh (BDD).

Mereka yang mengidap BDD akan terus mencari kepastian tentang penampilan mereka, mereka akan terus menerus bercermin, dan mereka percaya bahwa semua orang di sekitar mereka membicarakan kekurangannya. Mereka kan terus berusah menyembunyikan cacat yang dirasakan dengan menggunakan makeup, operasa plastik, atau dengan gaya berpakaian.

"Proses mengambil, mengubah, dan memposting foto selfie secara negatif memengaruhi harga diri dan persepsi citra tubuh, serta membuat dysmorphia berkembang di tubuh. Ketergantungan pada ponsel dan selfie dapat membuat generasi berikutnya menjadi tidak stabil secara mental,” tuturDr. Shome.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini