nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nikmatnya Sate Gebug yang Melegenda Sejak Zaman Kolonial Belanda

Avirista Midaada, Jurnalis · Senin 28 Januari 2019 08:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 27 298 2010128 nikmatnya-sate-gebug-yang-melegenda-sejak-zaman-kolonial-belanda-GZjEaYr6m0.JPG

MALANG – Para penikmat kuliner pasti sudah tak asing dengan nama makanan legendaris sate gebug yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Kuliner di kawasan Jalan Basuki Rahmad Nomor 113 A, Klojen, Kota Malang ini memang menjadi satu beberapa tempat kuliner legendaris di kota pelajar.

Sekilas memang letaknya strategis, tapi lokasinya yang berada di sebelah restoran franchise asing membuat tak sedikit orang kebingungan lokasinya, apalagi pendatang dan wisatawan luar Malang.

tapi lokasinya yang berada di sebelah restoran franchise asing membuat tak sedikit orang kebingungan lokasinya

Namun kuliner ini masih tetap eksis di tengah gencarnya kuliner kekinian di era milineal. Achmad Kabir, pemilik dan pengelola sate gebug, menyatakan sate gebug sudah ada sejak zaman kakek buyutnya di kolonial Belanda.

Kabir, panggilan akrabnya, menceritakan awal mula perjuangan sang buyutnya merintis usaha kuliner sate gebug sejak 1920 kala masa pemerintahan Hindia Belanda.

"Saya generasi keempat sejak kakek buyut. Dari awal jualan sate gebug memang di sini, bangunannya ya tidak pernah berubah, sama dengan awal tahun 1920. Hanya penambahan di depan ini," terang Kabir.

Ia menerangkan awalnya sang buyut bernama Yahmun yang membuat usaha sate gebug ini bersama sang istri, Mbah Karbo Ati

Ia menerangkan awalnya sang buyut bernama Yahmun yang membuat usaha sate gebug ini bersama sang istri, Mbah Karbo Ati. Keduanya kala itu membeli bangunan bekas pabrik es milik perusahaan asal Belanda di Kota Malang, kemudian difungsikan sebagai tempat jualan sate gebug.

"Kakek Yahmun aslinya Malang, tapi kalau Mbah Karbo Ati aslinya Pasuruan, sempat tinggal di Solo juga. Dari situ Mbah terinspirasi ide membuat sate mirip sate buntel di Solo, tapi kalau ini pakai daging sapi bukan kambing. Dari dulu ya jualannya di sini," jelasnya.

Perpaduan antara resep Solo dengan Malang-an ini membuat bumbu - bumbu sate gebug mempunyai ciri khas yang unik dan khas.

Resep itu yang terus menerus diwariskan ke generasi - generasi berikutnya, mulai dari sang istri Mbah Karbo Ati, generasi ketiga Tjipto Sugiono dan istrinya Rusni Yati Badare, hingga Achmad Kabir yang merupakan anak dari keduanya sekaligus generasi keempat penerus usaha warisan keluarga ini.

"Dari dulu memang resep masakannya tidak berubah, diwariskan sejak kakek nenek buyut ke bapak dan ibu, terus ke saya hingga saat ini," ungkapnya.

Kabir menjelaskan dirinya dapat meracik resep dan bumbu sate gebug yang khas berkat didikan sang ayah Tjipto Sugiono

Kabir menjelaskan dirinya dapat meracik resep dan bumbu sate gebug yang khas berkat didikan sang ayah Tjipto Sugiono. "Awalnya sama bapak itu anak-anaknya diajak ke pasar, kebetulan saudara saya lima dan saya nomor dua. Jadi dilatih dulu, merasakan aroma bawang, jahe, laos. Intinya mendidik untuk insting citra rasa masakan dulu-lah," lanjutnya.

Menurut Kabir, setelah terbiasa dengan aroma - aroma bumbu masakan tersebut sang ayah mulai mengajarkannya untuk meracik resep sate gebug sendiri sejak dirinya kelas 5 sekolah dasar.

Nama sate gebug sendiri, menurut cerita ayah dan kakeknya karena proses daging sapi yang 'digebug'

"Jadi kalau rasanya tidak enak sama bapak langsung dibuang, karena kalau makanan menakar dan mengolah resepnya kurang atau salah tidak bisa diperbaiki. Jadi melatih insting meracik bumbu terlebih dahulu," bebernya.

Nama sate gebug sendiri, menurut cerita ayah dan kakeknya karena proses daging sapi yang 'digebug' alias dipukul terlebih dahulu supaya empuk, maka dari sana nama sate gebug digunakan oleh sang kakek buyut.

Baca Juga : 5 Shio yang Diramal Nasibnya Apes di Tahun Babi Tanah

Ya meski daging sapi dikenal alot, di tangan keluarga pengolah sate gebug daging tersebut begitu lembut usai dilakukan proses pembakaran.

"Bahannya dari daging lulur atau daging di sekitar tulang belakang sapi. Dari sana 'digebug' terlebih dahulu kemudian dibuntel lalu dibakar. Tak lupa bumbunya juga dicampurkan, tapi untuk bumbu dan cara menggebug-nya rahasia," jelas Kabir.

Setiap harinya, setidaknya membutuhkan 20 kilogram hingga 40 kilogram daging sapi, jika ramai para pelanggannya.

Selain satenya yang khas, ada menu kuliner lainnya yang masih berkaitan daging sapi, mulai dari soto, rawon, dan sup kuah.

Bagi anda yang ingin mencicipi kuliner legendaris Malang ini, siapkan kocek mulai dari Rp15 ribu hingga Rp30 ribu.

Bagi anda yang ingin mencicipi kuliner legendaris Malang ini, siapkan kocek mulai dari Rp15 ribu hingga Rp30 ribu. "Kalau sate gebug yang tanpa lemak harganya Rp30 ribu per porsi, kalau dengan lemak Rp25 ribu. Untuk rawon, soto, dan sup dengan nasi Rp 15 ribu. Kalau rawon, sop, dan sotonya dipisah tanpa nasi seharga Rp 25 ribu," jelas mahasiswa salah satu PTN di Kota Malang ini.

Salah satu pembeli sate gebug, Sofyan Adi Candra (25) menjelaskan sate gebug memiliki rasa yang khas. Hal ini membuat dirinya menyempatkan diri dari Surabaya ke Kota Malang untuk mencoba kuliner legendaris satu ini.

Hal ini membuat dirinya menyempatkan diri dari Surabaya ke Kota Malang untuk mencoba kuliner legendaris satu ini.

"Sate gebug ini wajib dicoba apalagi kalau di Malang ini legendaris. Rasanya enak dan khas, saya dapat rekomendasi teman akhirnya coba ke sini. Pokoknya kalau ke Malang wajib ke sini," tutur pria yang disapa Candra ini.

Baca Juga : Bercermin dari Kisah Ahok-Puput, Ini 3 Keuntungan Pria Menikahi Wanita yang Lebih Muda

Satu lagi kenapa kamu harus menyempatkan mampir ke sate gebug ini. Selain karena rasanya yang khas ternyata bangunan rumah makan ini merupakan bangunan cagar budaya sejarah yang dilindungi undang - undang lho..

Satu lagi kenapa kamu harus menyempatkan mampir ke sate gebug ini.

"Ya sejak 1920 hingga 2019 ini baru direhab tiga kali, salah satunya yang di tahun 1965 namun tidak mengubah bangunan asli. Paling hanya dicat ulang saja, apalagi bangunan lamanya masuk cagar budaya Kota Malang yang harus dipertahankan," ujar Kabir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini