nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Andrew Ryan, Dulu Pecandu kini Memotivasi Penggila Game Online untuk Berhenti

Bagas Taruna , Jurnalis · Senin 28 Januari 2019 03:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 28 196 2010148 kisah-andrew-ryan-dulu-pecandu-kini-memotivasi-penggila-game-online-untuk-berhenti-7VuPbOpCMI.jpg Pencandu game online (Foto:Ist)

GENERASI milenial lebih terpengaruh dengan keberadaan gadget karena melihat orangtuanya sibuk mengusap layar ponsel. Anak kian mahir mencari alasan supaya bisa berinteraksi dengan gamer lain di luar sana. Hal ini juga tak luput menghampiri penulis buku motivasi termuda di Indonesia, yakni Andrew Ryan Samuel.

Siapa sangka bila laki-laki kelahiran 2002 ini sudah cakap dalam mengutarakan masalah yang pernah dihadapinya ketika menginjak usia 14 tahun. Ya, Andrew merupakan penggila game online kala itu. Pernah bergabung dalam komunitas game, anggota lain juga mengakui keahliannya dalam menyusun taktik permainan mengalahkan lawan.

Akan tetapi, hal itu mengganggu kehidupannya. Hampir 12 jam bermain game dalam sehari, Andrew mengaku makin jarang berinteraksi sosial di dunia nyata. Berat badannya juga menurun dari angka 93 menuju 85 kilogram. Belum lagi nilainya di sekolah yang menurun karena  nge-game hingga larut malam, padahal ia akan mengikuti ujian kala itu.

Lantas, kenapa penulis buku "The Trigger to Everything" ini bisa lepas dari pengaruh game? "Pemicunya pengen pindah dari zona nyaman karena dulu punya teman yang suka ngerokok dan bisa berhenti. Dia aja bisa, kok saya yang sudah kecanduan game ini enggak?" tukasnya dalam seminar "Bagaimana Mengatasi Efek Negatif Kecanduan Game"  di Jakarta belum lama ini.

Baca Juga:

Bercermin dari Kisah Ahok-Puput, Ini 3 Keuntungan Pria Menikahi Wanita yang Lebih Muda

Sensasi Makan Durian Bawor Rp1,2 Juta di Kediri, Enaknya Tingkat Dewa

Anak seolah ditarik oleh dua kubu berbeda. "Kita (orangtua) serasa sedang tarik tambang dengan developer game. Di tengah ada anak kita, di kiri orangtuanya, dan di kanan ada developer game dari dunia maya," terangnya. Memang betul, anak bisa saja menangis karena tidak ada jaringan internet untuk bermain. Tetapi, faktor utamanya adalah lingkungan si anak.

 

Anak dari pasangan orangtua yang tidak akur menjadi penyebab dari kecanduan game ini. "Anak akan merasa kesepian dan beralih ke dunia maya. Di sana, mereka mendapat perhatian dan apresiasi lebih karena berkomunikasi dengan pemain lain." ujar pemilik tinggi badan 185 sentimeter ini. Mengalihkan pandangan ke layar handphone sangatlah mudah, tetapi sulit rasanya mengembalikan jati diri anak ke dunia nyata.

Sebenarnya sah-sah saja ketika anak memegang gawai di tangannya. Tapi, sadarlah bahwa anak merupakan peniru yang ulung. Andrew berbagi tips dari penelitian yang ia baca bagi anak yang masih keranjingan dengan gadget. "Anak 2-5 tahun boleh dikasih durasi 1 jam saja, usia setahun itu mainan edukatif. Serta jangan biasakan ngeluarin video buat anak sambil makan. Handphone seakan-akan babysitter, jangan jadikan alasan kalo anak nangis langsung dikasih hape," saran laki-laki berkacamata minus 6 ini.

Bagaimana dengan balita dan anak berusia di atasnya? Coba berikan aktivitas sesuai dengan bakat anak. Mulai dari olahraga, menari, menggambar, atau les menyanyi. "Kalau hobinya nge-game, tidak apa-apa. Yang penting jangan lupa 3 faktor berupa kesehatan, sosial, dan edukasi dari anak. Kalau mulai sakit, mata memerah, stop dan tidur cukup," ujar si anggota gym ini pasca aktivitas kelamnya dulu.

Fokuslah kepada progressnya, bukan tujuannya. Andrew juga menuturkan untuk jangan mengganggap teknologi itu baik atau jahat. "Kita tidak bisa membuat masa depan untuk anak kita. Tetapi kita bisa mempersiapkan anak kita untuk masa depan," tutupnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini