Milenial Banyak Jadi 'Bucin', Psikolog: Logika Berpikir Mereka Tumpul

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 28 Januari 2019 21:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 28 196 2010532 milenial-banyak-jadi-bucin-psikolog-logika-berpikir-mereka-tumpul-4DgG1G7Uzq.jpg Remaja dan fenomena budak cinta (Foto:Ist)

MENCINTAI seseorang tidak harus sampai rela mati. Persepsi di masyarakat juga menjelaskan; jika Anda terlalu cinta, nanti malah sakit hati dan berujung depresi.

Perasaan cinta yang besar pada seseorang memang menjadi hak dari setiap manusia. Tapi, mencintai dengan cara yang bijak akan membuat Anda merasa lebih manusiawi.

Sayangnya, remaja sekarang banyak yang menjadi 'Bucin' atau budak cinta. Jadi, mereka rela melakukan apa pun demi pasangannya. Tak jarang sampai mengorbankan nyawa dan masa depan.

Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi Okezone. Kultur seperti ini sudah tidak bisa lagi dianggap normal. Pasalnya, banyak dari remaja 'Bucin' ini yang sampai menomor duakan logikanya dan tak sedikit melakukan tindakan kriminal.

Masih ingat kasus kematian Andriana Yubelia Noven Cahya, siswi SMK di Bogor, yang menjadi korban pembunuhan pacarnya sendiri?

Ya, Andriana tewas ditusuk dengan sebilah pisau di sebuah gang. Mayatnya dibiarkan tergeletak di jalanan sempit. Sang pacar membunuh kekasihnya itu karena alasan cemburu!

Hasil gambar untuk teenager love

Kasus ini menjadi catatan kelam bagi banyak pihak. Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., memberikan pandangannya mengenai bentuk cinta yang berlebih ini di kalangan remaja.

Bagi psikolog yang biasa disapa Mei, remaja bisa menjadi 'Bucin' karena banyak hal. Namun, mesti diketahui sebelumnya, jika bicara cinta, itu sama saja antara yang tua dan muda. Ini tergantung tiap individu mempersepsikan cinta dengan cara seperti apa dan dalam bentuk seperti apa.

Nah, karena fokus di sini adalah remaja, biasanya mereka masih dikenal dengan cinta monyet, sehingga untuk merasakan cinta yang mendalam rasanya belum sampai ke situ.

"Namun harus diketahui, cinta remaja pun sering kali berujung pada hal yg di luar nalar karena remaja sendiri memang tidak berpikir panjang, mereka cenderung mengikuti hawa nafsu dan semaunya. Jadi, logikanya tumpul," terang Psikolog Mei pada Okezone, Senin (28/1/2019).

Itu sebabnya bicara tentang cinta tidak pandang usia, karena tergantung tiap individu menginterpretasikan cinta seperti apa. Ini juga yang kemudian memunculkan istilah 'Bucin' di masyarakat.

"Karena biasanya ada beberapa individu yg rela melakukan apapun demi cinta. Logika berpikir mereka tidak jalan dan perasaan memegang peranan yang sangat besar dalam hal ini," paparnya.

Kurangnya Kasih Sayang di Dalam Keluarga

Psikolog Mei melanjutkan, remaja atau dewasa muda bisa menjadi 'Bucin'juga karena kurangnya perhatian dan kasih sayang di dalam rumah.

"Selain itu, mereka juga biasanya orang-orang yang tidak memiliki kedekatan dengan keluarga, berasal dari keluarga broken home, dan pada beberapa kasus karena keluarga yang tidak memberikan perhatian lebih," ungkap Psikolog Mei.

Dia menambahkan, ada beberapa hal yang mesti dilakukan pada remaja atau dewasa muda yang sudah menjadi 'Bucin'.

Langkah pertama adalah dengan memberikan pembekalan ilmu yang lebih berkualitas, misalnya kepercayaan diri. Sebab, dengan dia mau menghargai dirinya, dia akan menyayangi dirinya sendiri.

Tidak hanya itu, dia juga akan menempatkan diri dengan baik, sehingga hal-hal yang merugikan dirinya tentu tidak akan dia lakukan. "Alasannya jelas, karena dia sayang dengan tubuh dan kehidupan dirinya," tegasnya.

Tindakan ini, sambung Psikolg Mei, harus menjadi perhatian orangtua. Sebab, peran orangtua sangat penting. Itu sebabbnya, saat ini orangtua menjadi ujung tombak bagi anak-anaknya terutama yang menginjak remaja.

Upaya Membenahi Sikap "Bucin" di Kalangan Milenial

Tidak hanya peran orangtua yang penting di sini. Teman terdekat dari remaja yang sudah menjadi 'Bucin' pun diperlukan. Sebab, tak sedikit dari remaja seperti ini yang tidak bisa terbuka dengan orangtua dan lebih memberikan kepercayaannya pada teman sebayanya.

Karena itu, Psikolog Mei juga menitipkan pesan pada Anda yang mungkin punya sahabat 'Bucin', ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.

"Hal pertama dalan memberikan motivasi dan mengajarkan si dia (remaja 'Bucin') untuk mau melihat hal-hal positif yang dia miliki, sehingga hal itu dapat meningkaykan kepercayaan dirinya," katanya.

Hasil gambar untuk teenager love

Menjadi catatan juga di sini, Anda mesti sadar kalau setiap orang punya kelebihan dan hal-hal baik dalam dirinya. Ini yang harus ditonjolkan pada teman Anda yang sudah menjadi 'Bucin'. Jangan sampai dia melangkah terlalu jauh dan berbuat hal yang merugikan orang lain atau dirinya sendiri.

"Dengan dia melihat hal positif dan kelebihan yang dia miliki, itu akan buat dia lebih percaya diri dan membuat dia merasa ada hal yang dia miliki dalam hidupnya dan itu perlu diperjuangkan," tutur Psikolog Mei.

Satu hal yang harus diingat, jangan pernah Anda memberikan nasihat kepada teman yang 'Bucin' dengan kesan menggurui. Hal ini yang malah akan membuat kepercayaan yang sudah dia berikan ke Anda runtuh seketika.

Kalau sudah begini, yang terjadi adalah rasa kehilangan yang besar dan ini bisa membuat teman Anda yang sudah 'Bucin' malah akan semakin terpuruk dan membuat dia merasa tidak berguna.

"Ingat, fungsinya teman adalah bersama dalam suka mau pun duka dan menerima semua hal, baik itu yang positif atau yang negatif," tambah Psikolog Mei.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini