nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tampil Beda saat Sidang Vonis, Apa Makna Blangkon Hitam yang Dipakai Ahmad Dhani?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 29 Januari 2019 09:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 29 194 2010682 tampil-beda-saat-sidang-vonis-apa-makna-blangkon-hitam-yang-dipakai-ahmad-dhani-mlDqWRQaeo.jpg Makna Blangkon yang Dipakai Dhani (Foto: VOA)

Ada sebuah pemandangan unik ketika hakim PN Jakarta Selatan membacakan vonis hukuman 1,5 tahun penjara kepada musisi Ahmad Dhani. Pentolan grup Dewa 19 itu tampak mengenakan satu set jas serba hitam yang dipadukan dengan blangkon berwarna senada.

Gaya berbusana tersebut memang sudah lama menjadi ciri khas Dhani mengingat ia sendiri lahir dan tumbuh besar di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Meski hanya digunakan sebagai aksesoris pelengkap, blangkon ternyata menyimpan makna filosofis yang mungkin belum pernah Anda ketahui sebelumnya.

Oleh karena itu, untuk mengetahui jenis-jenis blangkon dan asal usulnya, berikut Okezone rangkumkan ulasan lengkapnya, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Selasa (28/1/2019).

Blangkon Yogyakarta

Ciri khas blangkon dari Yogyakarta terletak pada bagian belakangnya yang mempunyai Mondolan. Penempatan Mondolan ini tidak terlepas dari sejarah panjang Yogyakarta. Pada zaman dahulu, para pria diklaim memiliki potongan rambut panjang yang kemudian diikat ke atas. Ikatan rambut inilah yang sering disebut gelungan, lalu dibungkas dan diikat kembali hingga berkembang menjadi blangkon.

Tidak hanya memiliki bentuk yang unik, Mondolan juga memiliki makna filosofis. Blangkon ini menyiratkan bahwa masyarakat Jawa sangat pandai menyimpan rahasia dan tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri. Tidak hanya itu, mondolan juga menggambarkan tingkah laku dan cara bertutur kata masyarakat Jawa yang dikenal santun dan berbahasa halus.

Dalam arti lain, Mondolan merupakan salah kekayaan budaya Yogyakarta yang secara tidak langsung menggambarkan sifat-sifat masyarakatnya, pandai menyimpan rahasia dan aib, serta selalu berusaha tersenyum walau dalam hati menangis.

Blangkon Solo

Berbeda dengan Yogyakarta, pada zaman kolonial, masyarakat Solo lebih dulu mengenal cukur rambut. Hal ini disebabkan oleh pengaruh Belanda yang sangat kental hingga akhirnya mereka mengenal beskap yang berasal dari kata beschaafd.

Sementara untuk tampilan blangkonnya, blangkon asli Solo hanya mengikatkan dua pucuk helai kain di bagian kanan dan kirinya. Bentuk blangkon tersebut juga menyiratkan makna filosofis yakni, 'untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat dalam pikiran orang Jawa'.

Jika ditarik kesimpulan, penempatan blangko dikepala khas Solo merupakan peleburan segala pemikiran yang dihasilkan dari kepala harus selalu membawa nilai-nilai keislaman. Dengan kata lain, sebebas apapun pemikiran yang dihasilkan oleh otak manusia, nilai-nilai agama Islam harus dijunjung setinggi-tingginya sehingga memberikan dampak positif bagi banyak orang.

 

Blangkon Banyuwangi (Udeng)

Masyarakat Banyuwangi sebetulnya juga punya aksesoris kepala yang dikenal dengan sebutan Udeng Banywangi. Namanya mungkin sedikit terdengar sama dengan Udeng Bali, tapi bentuknya sedikit berbeda. Udeng Banyuwangi cenderung dibuat sejajar dan diikat sedemikian rupa hingga berbentuk segitiga atau bujur sangkar.

Pola tersebut ternyata juga menyimpan makna filosofis yang berkaitan dengan keseimbangan alam antara hubungan manusia-tuhan, manusia-manusia, dan manusia dengan alam. Oleh karena itu, udeng menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Banyuwangi hingga diaplikasikan pada sejumlah desain arsitektur.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini