nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus DBD, Kemenkes: Terjadi Peningkatan Jumlah Kasus, Belum Wabah

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 30 Januari 2019 17:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 30 481 2011506 kasus-dbd-kemenkes-terjadi-peningkatan-jumlah-kasus-belum-wabah-03Z94i7eJs.jpg Ilustrasi (Foto: Corbis)

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dibuat pusing dengan kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tengah merebak. Mengingat sekarang masih masuk di musim hujan.

Penyakit DBD sendiri memang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Pada saat musim hujan, populasi nyamuk bertambah banyak karena adanya genangan air di lingkungan sekitar. Nah, genangan air inilah yang dapat menyebabkan telur nyamuk mengering saat musim kemarau berkembang menjadi jentik atau larva, selanjutnya menjadi nyamuk dewasa.

Perihal penyakit demam berdarah ini, tidak bisa disangkal bahwa banyak rumor yang beredar di kalangan masyarakat bahwa semakin hari kasus penyakit DBD semakin banyak sehingga merebak menjadi suatu wabah. Namun benarkah demikian?

 Baca Juga: Syarat dan Cara agar Korban Kecelakaan Bisa Langsung Pakai BPJS Kesehatan

Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada awal tahun 2019 data yang masuk sampai per tanggal 29 Januari 2019, tercatat jumlah penderita DBD terbesar ada di angka 13.638 penderita, dilaporkan dari 34 provinsi dengan 132 kasus di antaranya meninggal dunia.

 

Angka ini disebutkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan Januari tahun 2018 lalu, dengan jumlah penderita sebanyak 6167 penderita dan jumlah kasus meninggal sebanyak 43 kasus.

Pada awal tahun 2019 ini tercatat beberapa daerah melaporkan KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD di antaranya yakni Manado (Sulawesi Utara), dan 7 Kabupaten/Kota dui Nusa Tenggara Timur yakni Sumba Timur, Sumba Barat, Manggarai Barat, Ngada, Timor Tengah Selatan, Ende dan Manggarai Timur. Sedangkan beberapa wilayah lain mengalami peningkatan kasus namun belum melaporkan status kejadian luar biasa.

 Baca Juga: 3 Orang Ini Meregang Nyawa Usai Santap Durian Enak

Merunut pada data di atas, bisa dikatakan memang sekarang di Indonesia tengah mengalami peningkatan kasus penyakit DBD. Lalu apakah berarti hal ini otomatis bisa disebut Indonesia sedang mengalami wabah DBD?

Dijelaskan oleh dr. Siti Nadia Tarmizi M, Epid, selaku Direktur Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kejadian luar biasa dengan wabah itu berbeda. Di mana status wabah di suatu negara itu ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Merujuk pada UU Nomor 4 tahun 1984, di mana pertimbangannya suatu penyakit itu sudah menganggu keamanan, ekonomi, menimbulkan kecemasan, menimbulkan kepanikan.

 

Sedangkan, status kejadian luar biasa, mengacu pada Permenkes 1501 tahun 2010 itu merupakan peningkatan jumlah kasus. Peningkatan kesakitan dalam suatu kurun waktu yang mana peningkatannya hingga dua kali lipat.

 Baca Juga: Dewi Perssik Berbagi Rahasia Punya Bokong Seksi

“Ditetapkan bertingkat, ditetapkan oleh pemerintah daerah. Bisa bupati atau walikota, kalau sudah meluas sampai ke seluruh kabupaten kota provinsi. Maka Gubernur berhak untuk menentukan KLB di Provinsinya, baru naik jadi nasional sebelum baru wabah,” papar dr. Siti Nadia dalam acara temu media “Status Kasus DBD dan Upaya Pengendaliannya” di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2019).

Dokter Siti Nadia menambahkan, untuk menentukan status wabah suatu penyakit itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Mengingat banyak konsekuensi yang mengikuti di belakangnya.

“Menentukan status wabah dan KLB itu enggak mudah, banyak konsekuensinya yang mengikuti di belakangnya. Contohnya, travel warning. Untuk kasus DBD sekarang, sejauh ini masih bisa dikendalikan. Kita sih merasa masih mengendalikan, walaupun ada peningkatan kasus. Belum sampai di titik tersebut (wabah),” tandasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini