nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hits di Zaman Kolonial Belanda, Kopi Nangka Masih Eksis hingga Kini

Agregasi Solopos, Jurnalis · Kamis 31 Januari 2019 13:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 31 298 2011866 hits-di-zaman-kolonial-belanda-kopi-nangka-masih-eksis-hingga-kini-ThTF38DVRp.jpg Kopi nangka di Boyolali (Foto:Solopos)

BAGI penikmat kopi yang kerap nongkrong di kedai kopi atau kafe, Omah Kopi Ngemplak ini mungkin bisa menjadi alternatif.

Selain letaknya tidak di tengah kota, bangunan kedai ini juga cukup sederhana dengan hanya memanfaatkan teras rumah warga. Seperti namanya, Omah Kopi Ngemplak ini berada di Dusun Ngemplak, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali. Kedai ini berjarak 12 km ke arah barat laut dari kota Boyolali.

Perabotan yang digunakan untuk menjamu para tamu juga tidak mewah. Pengelola kedai yang tidak lain adalah gabungan kemompok tani (gapoktan) setempat ini menyediakan tempat duduk kursi plastik dan meja kayu yang ditutup taplak batik.

Robusta

Kedai yang dibuka sejak September tahun lalu ini sengaja tidak dibuka di tengah kota agar tetap berada di dekat kebun kopinya, di kebun dan di pekarangan warga di sana.

 

Meski sederhana, namun kedai ini menyadikan kopi istimewa, yakni kopi nangka. Kopi nangka yang sudah dikenal sejak zaman Belanda ini menjadi kopi andalan kafe yang juga menyajikan kopi Robusta jawa dan Robusta sambung.

Ketua Gapoktan Banyuanyar, Sumeri, mengatakan di daerah lain, kopi nangka ini sudah “punah”. Namun di Desa Banyuanyar ini, warga masih melestarikannya secara turun temurun hingga saat ini warga berkeinginan untuk mengangkat kembali kejayaan kopi masa lalu ini.

“Dan sekarang kami ajak penikmat kopi merasakan kopi nangka dengan cita rasa khas dan unik,” ujarnya, saat berbincang dengan Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Baca Juga:

Kisah Nyata 4 Pria yang Hidup dengan Boneka Seks

Viral Video Dian Sastro Merem Melek, Bikin Heboh Warganet

Susu Segar

Salah satu keunikan kopi ini adalah punya aroma kopi dan aroma buah nangka. Dari rasanya, kopi ini juga punya sedikit rasa asam sehingga nikmat diminum tanpa gula.

Untuk menikmati secangkir kopi ini tamu cukup merogoh kocek Rp12.000. Tamu juga bisa memesan singkong goreng, satu-satunya menu makanan ringan yang ada saat ini untuk menemani minum kopi.

Sementara itu, peracik kopi yang juga pemilik rumah yang dijadikan kedai, Eko Budi Suroso, mengatakan selain bisa meminum kopi langsung di tempat, juga bisa membeli kopi dalam bentuk biji yang sudah disangrai maupun sudah menjadi bubuk.

Kedai ini menjadi harapan baru dalam meningkatkan kesejahteraan warga. Karena semua yang terlibat di kedai ini tak lain adalah warga setempat, mulai dari petani, peracik, hingga penyajinya. Selain itu, kopi yang bisa dipadu dengan susu ini juga berasal dari susu segar sapi perah peternak di sana.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini