nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Kopi Liberika, Kopi Langka Beraroma Nangka

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 31 Januari 2019 20:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 31 298 2012128 mengenal-kopi-liberika-kopi-langka-beraroma-nangka-MCqOvfOIQu.jpg Minum Kopi (Foto: Pixabay)

PERKEMBANGAN industri kuliner Tanah Air semakin bergeliat. Hal ini ditandai dengan menjamurnya kedai kopi di berbagai daerah di Indonesia. Jenis kopi yang dijual pun terbilang beragam. Apalagi negara kita masuk dalam daftar produsen kopi terbesar di dunia.

Hampir semua kedai atau warung kopi menyajikan dua jenis kopi unggulan yakni, arabika dan robusta. Namun ternyata, ada satu lagi varietas kopi yang tengah digandrungi pencinta kopi Nusantara, kopi liberika. Para ahli kopi sering menjuluki kopi ini dengan julukan kopi nangka mengingat ukuran bijinya yang besar menyerupai biji nangka.

Dari segi rasa pun tidak kalah uniknya. Kopi nangka menyuguhkan sensasi rasa pahit dengan after taste rasa sayuran yang samar-samar. Menurut sejarahnya, kopi nangka masuk ke Indonesia pada abad ke 19 sebagai pengganti kopi arabika yang saat itu dilaporkan tercemar wabah penyakit.

Baca juga :

Berdasarkan data yang berhasil dirangkum Okezone, Kamis (31/1/2019), pada awalnya kopi nangka dibudidayakan di daerah Jambi dan Bengkulu. Tapi karena popularitasnya kalah dengan arabika dan robusta, perkembangan kopi nangka cenderung jalan di tempat. Hanya beberapa daerah yang masih memproduksi kopi ini. Salah satunya Jember.

Tanaman kopi nangka banyak tumbuh di daerah Tapal Kuda yakni, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Lumajang, dan juga Situbondo. Tekstur pohonnya sendiri berbeda dengan jenis kopi arabika dan robusta. Pohon kopi nangka tumbuh menjulang dengan ketinggian bisa mencapai di atas 2 meter, bahkan ada pohon yang tingginya menyentuh angka 9 meter.

Para petani bahkan harus menggunakan tangga khusus saat musim panen tiba. Mengingat jumlah pohonnya yang tidak terlalu banyak, peredaran kopi nangka pun cenderung terbatas. Salah satu warung kopi yang masih menjajakan jenis kopi ini adalah Warung Kopi BMW (Betah Melek Wengi).

Untuk meracik kopi nangka ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Jika pengolahannya tidak tepat, maka rasa khas dari kopi ini tidak akan keluar. Jatuhnya akan seperti sedang meminum jus sayuran.

Berdasarkan pengakuan sang pemilik warung, Holzen, ada beberapa resep khusus untuk mengolah kopi nangka. Pertama, biji kopi harus disangrai terlebih dahulu dan disajikan dalam keadaan fresh. Menurutnya, hanya ia dan almarhumah ibunya yang tau cara menyangrai biji kopi nangka dengan tepat.

Jika teknik tersebut bisa dikuasai dengan baik, maka cita rasa kopi nangka yang sesungguhnya akan keluar dengan sempurna. Sementara takaran kopinya sendiri, Holzen mengaku memang ada perhitungan khusus agar rasa akhirnya pas di lidah konsumen.

Dalam satu bulan, Warung Kopi BMW milik Holzen dapat menghabiskan sekitar 30 kilogram kopi nangka. Dengan kata lain, setiap hari holzen bisa menjual sekitar 1 kilogram kopi. Jumlah tersebut cenderung meningkat di akhir pekan, di mana ia bisa menjual sekitar 1,5 – 2 kilogram kopi sehari.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini