nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Susu Tetes Kopi Nangka, Cara Nikmat Seruput Liberika dari Bengkulu

Demon Fajri, Jurnalis · Jum'at 01 Februari 2019 15:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 01 298 2012447 susu-tetes-kopi-nangka-cara-nikmat-seruput-liberika-dari-bengkulu-eL6XYgkKjw.jpeg Kopi nangka dari Bengkulu (Foto:Demon/Okezone)


BUMI Rafflesia, begitulah julukan provinsi yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini, Bengkulu. Daerah dengan 10 kabupaten dan kota ini tidak hanya memiliki pesona alam nan indah. Pantai Panjang, Danau Dendam Tak Sudah, contohnya.

Provinsi yang sebelah utara berbatasan dengan Sumatera Barat ini memiliki salah satu kopi andalan. Patut dicoba! Kopi liberika, namanya. Konon, bibit kopi yang tumbuh hingga ketinggian sekira 9 meter ini berasal dari Liberia dan Afrika Barat. Tumbuh subur di Bumi Rafflesia.

Tanaman kopi liberika mulai langka? Namun tidak untuk di desa ini, Tanah Hitam. Salah satu desa di Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara. Di daerah yang dihuni 326 kepala keluarga (KK) ini terdapat sekir 3.600 pohon kopi liberika berusia sekira 25 tahun. Kopi itu di tanam di atas lahan seluas sekira 3 hektare (Ha).

 

Konon, pada abad-19 kopi ini didatangkan ke Indonesia untuk dibudidayakan. Bibit kopi itu pun masuk ke Kabupaten Bengkulu Utara. Desa Tanah Hitam, tepatnya. Masuknya bibit kopi itu kala itu untuk menggantikan pohon kopi Arabika yang terserang hama penyakit.

Baca Juga:

Viral Pamer Foto Jendela Pesawat, Netizen Tertipu Massal

Asisten Pribadi Menteri Susi Pudjiastuti Tulis Surat Pengunduran Diri, Netizen Terharu!

Kopi yang memiliki aroma khas nangka ini memiliki beberapa karakteristik. Seperti, ukuran daun, cabang, bunga, buah dan pohon lebih besar dibandingkan kopi arabika dan robusta. Lalu, cabang primer dapat bertahan lama dan dalam setiap cabang buku dapat keluar bunga atau buah lebih dari satu kali.

Kemudian, berbuah sepanjang tahun, dapat tumbuh di dataran rendah, dataran sedang dan dataran tinggi. Sementara kopi robusta memiliki karakteristik batang lebih kokoh dan sedikit lentur, memiliki daun yang lebar, buah kopi bergerombol.

Petani kopi, desa Tanah Hitam Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara, Putri Eka Sari mengatakan, kopi jenis liberika sudah mulai langka. Dahulu, di daerah-nya tanaman kopi liberika cukup banyak ditanam petani. Namun, lantaran kopi tersebut kurang diminati pasar, petani mengganti bibit liberika dengan bibit robusta.

''Masih ada petani di sini (Tanah Hitam) yang mempertahankan kebun kopi liberika. Luasnya sekira tiga hektare,'' kata Putri, kepada Okezone, Jumat (1/2/2019).

Kopi liberika, jelas Putri, cukup mudah dibudidayakan dibandingkan dengan kopi robusta. Selain itu, jenis kopi ini tidak membutuhkan pengurusan yang ribet. Sebab, di atas lahan yang ditanami kopi liberika, bisa ditanami dengan tanaman lainnya.

''Kopi ini mudah dibudidayakan, berbuah sepanjang tahun dan pastinya laku di pasaran. Proses pengolahan pasca panen dan pemasaran yang sesuai harapan petani,'' sampai Putri.

Kopi liberika memiliki aroma khas buah nangka. Sehingga kopi ini memiliki aroma yang berbeda dengan jenis kopi lainnya. Terlebih kopi ini diseduh dengan menggunakan teknik penyaringan. Teknik ini menggunakan alat saring tertentu guna memisahkan ampas kopi.

 

Untuk menambah citra rasa kopi, dalam teknik penyaringan kopi ini diracik dengan menambahkan susu. Caranya, dengan menetesi susu secara perlahan. Sehingga kopi itu menjadi ''Susu Tetes Kopi Nangka''. Tentunya, citra rasa dan aroma khas nangka akan lebih memanjakan lidah. Bikin nagih!

Di Bengkulu kopi ini sudah dapat dijumpai di salah satu kedai di desa Tanah Hitam Kecamatan Padang Jaya. Kopi itu pun sudah dikemas sedemikian rupa. Trabas Coffee, namanya. Kopi yang berasal dari Tanah Hitam ini pun sudah menembus pasaran di Indonesia. Pulau Jawa dan Sumatera.

''Kopi liberika Tanah Hitam sudah menembus pasar di pulau Jawa dan Sumatera. Kopi Liberika dari Tanah Hitam memiliki aroma khas,'' ujar Putri.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini