nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Anak Mager saat Demam, Waspadai DBD Mematikan!

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 05 Februari 2019 12:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 05 481 2013923 anak-mager-saat-demam-waspadai-dbd-mematikan-CJtBjXGff1.jpg Anak demam malas bergerak waspada DBD mematikan (Foto: Newkidscenter)

Angka kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) kian lama bertambah. Bahkan dari total keseluruhan pasien yang terdata, 90% didominasi oleh kalangan anak-anak.

Sebetulnya, kerentanan anak akan terjangkit DBD sudah sejak lama. Banyak kebiasaan anak yang sulit dikontrol, apalagi bagi para balita.

Data terbaru Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, dari 34 provinsi, ada sebesar 16.692 orang terjangkit DBD. Pasien meninggal dunia sekira 169 orang. Pasien umumnya didominasi oleh anak di bawah usia 15 tahun, terbanyak adalah 5-9 tahun.

Spesialis Anak dan Diploma in Tropical Medicine and Hygiene (DTMH) dr Martinus M. Leman, DTMH, SpA

RS Harapan Bunda Jakarta Timur menjelaskan, tingkat kerentanan risiko DBD pada anak memang selalu besar. Tren ini bukan baru terjadi, tetapi sudah dikaitkan dengan kejadian DBD dulu kala.

"Sebetulnya DBD banyak pada anak, dulu juga begitu. Faktornya soal kewaspadaan terhadap gigitan nyamuk. Anak kalau digigit kan enggak tahu, enggak peduli, beda enggak seperti orang dewasa," ujar dr Martinus saat dihubungi Okezone, Selasa (5/2/2019).

anak DBD

DBD pada anak, sebut dia, biasanya baru akan muncul setelah pasien digigit nyamuk 1-3 kali. Gejala yang sering muncul adalah tiba-tiba pasien demam tinggi, kemudian anak malas gerak (mager) karena disertai nyeri otot.

Di sela-sela itu, nafsu makan menurun dan anak mengeluh sakit kepala. Gejala ini biasanya berlangsung selama tiga hari, setelah itu diikuti masa kritis dan proses pendinginan.

"Anak kena DBD biasanya gejala demam tunggal, enggak batuk dan pilek. Biasanya anak jadi mager. Kalau demam biasa, anaknya masih aktif, tapi kalau DBD maunya tidur terus," tutur dr Martinus.

Setelah 3-4 hari pertama fase gejala awal, hari ke-4 sampai ke-5 pasien cenderung kritis. Ini berbahaya, meskipun suhu tubuhnya cenderung dingin, apalagi kondisi tubuhnya tambah lemas.

"Biasanya kalau anak demamnya reda, badannya anyep. Tetap enggak ada tenaga dan kalau dicek trombosit turun jauh, darah mengental dan hematokrit meningkat," terangnya.

Cara satu-satunya, orangtua harus segera ke dokter. Kalau curiga dengan gejala DBD itu segera minta cek darah di laboratorium.

dr Martinus menyebutkan, kini DBD bisa langsung terdiagnosa setelah 24 jam demam tunggal. Ketika pasien tertolong, pasti langsung dirawat inap, demi mencegah komplikasi seperti perdarahan.

"DBD akan sembuh sendirinya setelah hari ke-6 dan ke-7, badannya segar lagi. Tapi komplikasi yang timbul perlu diwaspadai. Berat kalau bisa perdarahan dan fatal akibatnya, kalau di aliran darahnya tidak berfungsi normal," pungkas dia.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini