nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Miris, Sering Edit Foto Selfie Jadi Bukti Bobroknya Mental Remaja Masa Kini!

Blenda Azaria, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 22:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 06 194 2014552 miris-sering-edit-foto-selfie-jadi-bukti-bobroknya-mental-remaja-masa-kini-NGjNapUJAR.jpg Sering edit foto selfie berbahaya untuk kesehatan mental (Foto: Thesun)

PADA zaman serba sosial media kini, tak jarang orang-orang mengedit foto mereka sebelum mengunggahnya ke sosial media. Hal ini dilakukan semata agar telihat ‘sempurna’ di pandangan orang lain.

Bukan hanya di sosial media, kebiasaan mengedit bagian tubuh seseorang juga sudah diberlakukan pada para model dalam sampul majalah fashion.

Dengan berbagai teknologi yang ada, sekarang hampir semua orang bisa ‘memperbaiki’ foto selfie dan menghilangkan ketidaksempurnaan yang ada pada wajah mereka dengan satu sentuhan tombol pada salah satu aplikasi edit foto yang tersedia secara bebas.

 BACA JUGA : 6 Zodiak Berjiwa Muda, Selalu Energik dan Suka Hura-Hura!

Dilansir dari laman The Sun pada Rabu (6/2/2019), sebuah project pun dilakukan oleh seorang fotografer bernama Rankin dan hasilnya benar-benar membuka mata kita akan keadaan sosial sekarang. Rankin meminta 15 gadis Inggris (berusia 13 hingga 19 tahun) untuk mengedit, mengubah, dan memberi filter pada foto mereka sampai mereka merasa foto tersebut sudah siap untuk diupload di media sosial.

Gadis-gadis ini hanya diberi waktu lima menit dan sebuah aplikasi pengeditan foto untuk mengubah foto mereka sendiri.

 

Foto-foto yang telah diubah ini memberi kita wawasan unik tentang makna "kesempurnaan" bagi masing-masing remaja. Selain itu, kita jadi tahu bahwa standar kecantikan zaman kini berpotensi berbahaya dan gadis-gadis muda ini harus menghadapinya setiap hari.

Hanya dalam waktu 5 menit, para gadis ini mengedit hampir seluruh fitur pada wajah mereka seperti: bibir yang dibuat lebih berisi, hidung yang dikecilkan, menajamkan garis rahang, menghapus freckles, dan bahkan mengubah warna mata.

Menurut Rankin, ini adalah sebuah alasan mengapa kita hidup di dunia yang penuh dengan FOMO (cemas apabila kurang update di media sosial) dan Snapchat dysmorphia (fenomena operasi plastik agar wajah terlihat seperti filter Snapchat).

 

“Sudah waktunya kita mengakui efek negatif dari media sosial terhadap citra diri seseorang,” ujarnya.

Kumpulan foto ini juga menjelaskan betapa mudahnya mengubah batas antara kenyataan dan fantasi hanya dengan menggunakan teknologi sederhana dan tentu hal ini memiliki efek berbahaya pada kondisi mental manusia.

Meskipun gadis-gadis yang terlibat dalam project ini mengatakan lebih suka foto mereka yang belum diedit, namun mereka mengakui bahwa remaja seusia mereka sering mengedit foto selfie secara rutin.

 

Project ini merupakan hasil dari dua tahun bereksperimen dengan aplikasi edit foto, yang menurut Rankin mampu mengubah segalanya, mulai dari warna kulit, bentuk tubuh, hingga mengubah fitur wajah menjadi berbeda dari aslinya.

“Meski hanya (diedit) sedikit, aku tetap menganggap itu mengganggu. Meski sederhana, tapi hampir seperti membuat karakter kartun versi dirimu,” ujarnya.

Menurutnya, yang lebih menyeramkan lagi, tidak pernah ada pembahasan atau diskusi yang mengangkat topik ini, seakan menganggap permasalahan sosial ini sebagai sesuatu yang wajar.

 BACA JUGA : Jangan Biasakan Lepas Alas Kaki saat Penerbangan, Kenapa?

“Sesuatu seperti Photoshop, yang merupakan program yang jauh lebih kompleks dan tidak sulit diakses, sebenarnya merupakan bagian dari perubahan sosial yang besar. Menurutku, filter-filter ini berbahaya,” pungkasnya.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini