nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Hanya Berebut Gula, Tradisi Serak Gulo Jadi Ajang Cari Jodoh

Rus Akbar (Okezone), Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 12:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 06 406 2014280 tak-hanya-berebut-gula-tradisi-serak-gulo-jadi-ajang-cari-jodoh-BuYFZif84F.jpg Tradisi Serak Gulo di Sumatera Barat (Foto:Rus Akbar/Okezone)

EMPAT bocah masih sanggup bercanda meski baju mereka sudah basah kuyup karena keringat. Mereka hanya sedikit dari ribuan warga yang berjibaku memadati depan Masjid Muhammadan di Jalan Pasar Batipuh, Kelurahan Pasar Gadang, Kota Padang, Sumatera Barat. Mereka baru selesai mengikuti tradisi Serak Gulo (serak gula) yang digelar oleh muslim keturuan India yang bergabung dalam Himpunan Keluarga Muhammadan Padang.

Tradisi ini tiap tahun dilaksanakan di halaman masjid yang berumur ratusan tahun tersebut. “Saya dapat empat kantong,” kata Farhan (8) salah satu bocah dari ribuan orang yang berebut bungkusan gula, Selasa 5 Februari 2019

Rencananya gula itu untuk dijadikan minuman di rumah. Gula tersebut dibungkus dengan kain warna-warni seukuran kepalan tangan dewasa “Seru sekali acaranya, tadi sempat kena kepala saya tapi asyik berebut dengan kawan-kawan, rencana untuk buat teh dan kopi gula ini,” tuturnya pada Okezone.

 

Menurut Ketua Himpunan Keluarga Muhammadan Ali Khan Abu Baka, tradisi ini hanya digelar di tiga tempat, pertama di India sebagai asalnya, kemudian di Singapura, dan Indonesia. “Di Indonesia ini hanya di Kota Padang saja digelar tempat lain yang ada, jadi keturunan India dari berbagai daerah akan berkumpul di sini,” katanya.

Bahkan ajang tradisi Serak Gulo juga menjadi tempat keturunan India bersilaturahmi sesama dengan muslim India dari berbagai daerah di Indonesia ini. “Bahkan sebagai ajang mencari jodoh. Dulu anak saya mendapatkan jodoh saat mengelar tradisi ini, ini disebabkan karena kita saling berjauhan jadi saling mengenal,” tuturnya.

Tradisi Serak Gulo ini awalnya digelar di Nagore, Nagapattiman daerah Tamil Nadhu India Selatan. Tradisi ini Syekh Shabul Hamid. Dia merupakan salah satu ulama sufi di India yang dikenal sebagai walyyullah dan memiliki banyak karomah dan memegan penting penyebaran agama Islam pada masa itu. “Syekh Shabul Hamid masih keturunan generasi ke-13 dari Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang merupakan ulama besar sufi yang dijuluki penghulu para wali,” katanya.

Seiring penyebaran umat muslim India di Asia Tenggara, tradisi ini dibawa dari daerah asalnya sampai ke Indonesia terutama di Kota Padang. Tradisi Serak Gulo ini adalah perpaduan tradisi Islam dengan India. “Tradisi ini tanpa meninggalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ujar Ali.

Gulo atau gula merupakan simbol keberkaan dalam budaya India dan tradisi kuliner India juga dikenal dengan cita rasa manis, maka tradisi serak gula yang intinya sebagai rasa syukur atas rasa rejeki sepanjang tahun dengan cara berbagi gula kepada masyarakat. “Tradisi ini juga sebagai maulid Syekh Shabul Hamid juga berbagi rejeki sesama warga yang ada,” terangnya.

 

Baca Juga:

Jangan Main-Main di 2019, Anak Indigo Furi Harun Ramalkan Tahun Ini Bayar Karma!

5 Potret Della Perez Bersama Anaknya, Kompak Banget!

Dalam rangkaian tradisi Serak Gulo setiap tahunnya diiringi tiga peringatan maulid, Maulid nabi Muhammad SAW yang jatuh pada bulan Rabiul Awal, kemudian maulid Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang jatuh pada Rabi’ul Akhir selama 11 hari yang diawali serak gulo hari ini. Kemudian maulid Syekh Shabul Hamid jatuh pada bulan Jumadil Akhir.

“Serak gulo ini diadakan pada Jumadil Akhir sesuai dengan kalender Hijriah tidak memakai masehi dan tiap tahun kita akan selalu menyelenggarakan, tradisi ini sudah tertanam di Kota Padang ini sejak 200 tahun saat keturuan muslim India datang ke tempat ini,” terangnya.

 

Dalam prosesnya, pertama mengumpulkan gula dari masyarakat Muslim keturunan India dan ini juga tidak ditutup dari suku bangsa lain yang ingin ikut menyumbang gula. Bahkan dari masyarakat keturuan Tionghoa yang berdampingan, ikut menyumbangkan gulanya, kemudian ada juga masyarakat lain yang datang menyumbang gula dengan niat bernazar. “Tahun ini kita membagi gula ini sebanyak 8 ton,” ungkapnya.

Setelah dikumpulkan, kemudian dibungkus dengan kain warna-warni. Setelah semuanya dibungkus, tugas selanjutnya mengibarkan bendera warna hijau dengan simbol bulan sabit, lalu berdoa. Setelah berdoa, gula yang sudah diletakkan di atap masjid akan dibagikan dengan cara melemparkan ke kerumuman masyarakat.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini