nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sampai Kapan DBD Bakal Mengintai?

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 08:51 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 06 481 2014215 sampai-kapan-dbd-bakal-mengintai-w1AVuA2XwX.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TREN peningkatan jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) kian hari kian bertambah. Banyak faktor yang mestinya dapat dicegah untuk menurunkan faktor risikonya.

Pemerintah lewat Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa tren penyakit DBD sudah terlihat jelas sejak Oktober 2018 lalu. Trennya bahkan terlihat meningkat dari jumlah pasien yang menderita penyakit ini.

Sesuai laporan Dinas Kesehatan dari 34 provinsi, sebanyak 16.692 orang terjangkit DBD. Sementara 169 orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Baca Juga: 7 Tokoh Indonesia Keturunan Tionghoa, Ada yang Jadi Presiden Loh

Provinsi yang mempunyai kasus tertinggi suspect DBD adalah Jawa Timur, Jawa Barat, NTT, Lampung, Sulawesi Utara, Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Kabupaten/Kota yang melaporkan DBD sebanyak 403 dari 33 provinsi. Juga sebanyak 259 kabupaten/kota melaporkan adanya peningkatan kasus.

"Sebenarnya sudah berulang kali saya peringatkan dan berikan edaran sejak Oktober. Di situ trennya kelihatan. Lalu pemda merespons langkah yang dilakukan," ujar Anung saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Kalau melihat tren, hingga akhir Februari pasien yang terjangkit DBD masih tinggi. Makanya, pemerintah berupaya untuk menurunkan populasi nyamuk agar tidak semakin mewabah. "Februari ini juga kita turunkan populasi nyamuk. Sampai akhir bulan harus waspada karena penderita DBD masih tinggi," tambahnya.

Sementara itu, ada satu yang menarik dari peningkatan jumlah penderita DBD dari hari ke hari. Banyak faktor yang memengaruhi kondisi tersebut dan jadi tantangan tersendiri dalam menurunkan prevalensi DBD.

Baca Juga: 9 Foto Cuaca Ekstrem di Amerika yang Bikin Ngakak

Setidaknya, ada tiga faktor utama yang menjadi peningkatan kasus DBD. Rata-rata dikaitkan dari perubahan iklim dan perilaku manusia.

"Dibandingkan tahun sebelumnya tren DBD naik terus. Banyak faktor, tahun lalu curah hujan tidak seperti ini. Termasuk juga pemberantasan sarang nyamuk dan kebersihan di lingkungan masyarakat tidak terjaga," pungkasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini