Ahli Feng Shui: Tahun Babi Tanah Waktu yang Tepat untuk Menata Keluarga

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 07 Februari 2019 20:17 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 07 196 2015019 ahli-feng-shui-tahun-babi-tanah-waktu-yang-tepat-untuk-menata-keluarga-DZYwXGUcgL.jpg Ilustrasi (Foto: Priotime)

Banyak orang yang memanfaatkan momen pergantian tahun untuk memulai lembaran baru, membuat resolusi, atau kembali berjuang meraih impian yang belum sempat diraih di tahun sebelumnya.

Namun ternyata, ada satu hal menarik di tahun 2019. Berdasarkan penanggalan China kuno, tahun ini memasuki tahun baru Imlek 2570, yang juga disebut tahun babi kayu berelemen tanah negatif.

Menurut Ahli Feng Sui Jennie Kumala Dewi, tahun Babi Tanah adalah tahun yang tepat untuk menata kembali hubungan rumah tangga yang sempat renggang. Salah satu pertimbangannya adalah karena pergerakan tahun ini dianggap lebih 'lambat' tidak seperti tahun Anjing Tanah.

 Baca Juga: 18.242 Penduduk Indonesia Idap Kusta, Ini Penyebab Utamanya

"Tahun lalu (2018) bisa dibilang tahun yang 'kering'. Banyak sekali keluarga-keluarga yang dirundung masalah. Karena kesibukan masing-masing atau karena masalah finansial," ungkap Jennie dalam acara peluncuran buku Rahasia Parenting ala Shio, di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019).

 

Lebih lanjut, Jennie menjelaskan, di tahun Babi Tanah suasana cederung lebih sejuk sehingga sangat tepat digunakan untuk kembali membangun komunikasi.

"Tahun Babi Tanah itu ada kesejukkan, sangat baik untuk menata keluarga. 2018 itu banyak orang baper karena media sosial salah satunya. Sekarang pergerakannya cenderung lambat, sehingga kita bisa 'menanam' keberuntungan," tambahnya.

Nah, dalam kepercayaan Tionghoa, sebetulnya ada beberapa cara ampuh untuk memperbaiki hubungan antar keluarga. Bisa dimulai dengan 'menghidupkan' kembali ruang keluarga.

 Baca Juga: Viral Selebgram Seksi Mirip Yoona SNSD, Bikin Jantung Pria Berdebar-debar!

Menurut Jennie, ruang keluarga merupakan salah satu tempat paling penting di rumah. Sayangnya, sekarang ruangan ini sudah jarang digunakan. Orang-orang lebih memilih beraktivitas di kamar masing-masing.

"Untuk menghidupkan kembali ruang keluarga, bisa dimulai dengan mengubah warna catnya, beri sofa, atau tv sehingga suasanya menjadi lebih hidup," kata Jennie.

Dalam kesempatan yang sama, Psikolog Keluarga dan Anak, Anna Surti Ariani, menjelaskan beberapa cara ampuh untuk membangun kembali komunikasi yang sudah meranggang antara anggota keluarga, terutama komunikasi antara suami dan istri.

 

(Anna Surti Ariani, Foto: Dimas/Okezone)

"Mau tidak mau harus ada yang memulai. Setidaknya salah satu anggota keluarga punya niatan untuk memperbaiki hubungan. Kemudian ia bisa mengumpulkan anggota-anggota keluarga lain," kata wanita yang akrab disapa Nina itu.

"Kalau sudah berkumpul, jangan langsung langsung masuk ke isu utama. Bisa saja ngobrolin topik yang kecil-kecil dulu, tentang aktivitas sehari-hari misalnya. Kalau suasana sudah enak, baru buka topik utama," timpalnya.

Jika cara di atas cenderung sulit untuk dilakukan, Anna menganjurkan untuk meminta bantuan dari orang-orang yang dihormati oleh kedua belah pihak. Contohnya kakak ipar, paman, atau bahkan Pak RT kalau masalahnya sudah benar-benar serius. Bisa juga dengan melakukan konseling atau terapi keluarga. Namun, cara ini cenderung memakan waktu yang lebih lama.

"Konseling keluarga itu bisa belasan kali pertemuan. Tapi tingkat atau intensitas pertengkaran memang bisa ditekan atau menurun," tutup Anna.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini