nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

18.242 Penduduk Indonesia Idap Kusta, Ini Penyebab Utamanya

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 07 Februari 2019 15:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 07 481 2014862 ini-indikator-sulitnya-eliminasi-kusta-di-tanah-air-DfMJ5t5dVT.jpg Ilustrasi (Foto: Livestrong)

Kusta merupakan salah satu penyakit yang sulit dieliminasi. Pemerintah pun sudah berupaya keras untuk memberantas penyakit ini di Tanah Air, namun masih banyak kendala yang jadi faktornya.

Apalagi penyakit kusta masih sering dianggap efek kutukan oleh sebagian orang. Jadilah timbul stigma yang tidak mudah dihilangkan dari dulu.

Penyakit ini bisa mengakibatkan infeksi pada saraf dan kulit, karena disebabkan oleh Mycrobacterium leprae. Penyakit ini tergolong menular, tapi prosesnya tidak secepat kilat. Walau penularan utamanya melalui udara dan kontak langsung yang belum diobati.

 Baca Juga: 5 Trik Menulis Bio di Aplikasi Kencan Biar Gampang Dilirik

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr dr Sri Linuwih Menaldi SW, SpKK(K) dari FKUI-RSCM menjelaskan, kuman dan bakteri yang memicu kusta ini senangnya berkutat di daerah tropis. Oleh karenanya banyak pasien kusta yang tinggal di daerah pesisir atau kota khatulistiwa yang cuacanya panas sekali.

 

"Sebetulnya bakterinya survive pada suhu 37 derajat Celcius dalam kondisi tertentu. Daerah-daerah tropis Khatulistiwa itu banyak sekali pasiennya. Karena di daerah itu bakterinya pada mampu hidup dan berkembang biak," ujar dr Sri di sela temu media Peringatan Hari Kusta Sedunia di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Kamis (7/2/2019).

Dokter Sri menambahkan, kendala lainnya dalam penanganan kusta adalah penyakit itu tergolong sangat mirip dengan penyakit kulit lain. Salah satunya mirip dengan eksim, sehingga pengidapnya cenderung mengabaikan dan jadi tidak terdiagnosa cepat.

Kemudian saat pasien sudah terdiagnosa, tapi malah enggan berobat. Apalagi kalau di awal sakit sudah kena stigma dari orang lain di lingkungan sekitarnya.

"Untuk obat harganya memang mahal, tapi kita sudah dibantu WHO, gratis. Semua pasien dapat obat ini di puskesmas asal mau datang," tutur dia.

 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dr Wiendra Waworuntu, M.Kes menambahkan, di daerah-daerah tertentu yang belum tereliminasi salah satu kendala yang dihadapi ialah sulitnya akses transportasi dan minimnya petugas kesehatan.

 Baca Juga: Kekurangan Nutrisi Bisa Picu Gangguan Kesehatan Mental

"Ada empat provinsi di Indonesia timur yang agak sulit dieliminasi. Indikatornya petugas minim, banyak yang lalai dan aksesnya mahal. Jadi belum optimal, tapi kita sudah upayakan untuk meminimalisir kendala itu," ungkap dr Wiendra.

Tak heran kalau di sana sampai saat ini masih banyak kasus baru kusta yang masih ditemukan. Per tahun 2017 angka prevalensi kusta sebesar 0,696 per 10.000 penduduk. Total kasus yang terdaftar sebesar 18.242.

"Trennya memang terjadi penurunan, tapi target global 1:1 juta penduduk," kata dr Wiendra.

Di sisi lain, terjadi pula kecenderungan peningkatan proporsi kasus kusta baru tanpa cacat. Karena saat ini deteksi kusta sudah dilakukan semakin dini.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini