nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tinggal Satu Atap dengan Pasien Kusta Apa yang Harus Dilakukan?

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 08 Februari 2019 04:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 07 481 2015022 tinggal-satu-atap-dengan-pasien-kusta-apa-yang-harus-dilakukan-AlXU1IsZpP.jpg Ilustrasi (Foto: Health)

Tinggal satu rumah dengan pasien kusta atau melihat saudara yang kena penyakit tersebut, langsung timbul stigma dalam benak Anda. Sebaiknya tak perlu, karena sah-sah saja kalau Anda tinggal satu atap dengan mereka.

Banyak orang khawatir kalau berjumpa dengan pengidap kusta selalu mengucilkan karena takut ketularan. Sebetulnya tak usah ada rasa khawatir karena penyakit ini tak menakutkan seperti yang Anda anggap.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr dr Sri Linuwih Menaldi SW, SpKK(K) dari FKUI-RSCM mengatakan, tak ada salahnya tinggal satu atap dengan penderita kusta. Asal pasiennya diobati benar dan patuh, pasti berkurang risikonya.

 Baca Juga: 18.242 Penduduk Indonesia Idap Kusta, Ini Penyebab Utamanya

"Sebenarnya tidak masalah tinggal serumah dengan pengidap kusta. Nanti juga kemasukan bakteri yang sama. Kalau orang ini dikucilkan enggak affair, tetap diobati mestinya, minum obat membunuh 90 persen kuman," ujar dr Sri ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (7/2/2019).

 

dr Sri menyebutkan, kusta ditularkan melalui udara dan kontak langsung dengan penderita yang belum diobati. Tapi butuh masa inkubasi perlu waktu lama, rata-rata 3-5 tahun.

Uniknya, bakteri penyebab kusta ini bisa berkembang biak di sel yang hidup. Karenanya, penyakit ini tidak gampang menular, kecuali pada orang-orang yang rentan, seperti anak-anak dan orang tua.

"Kontaknya itu mesti erat kalau tertular, minimal orang itu bersama-sama dalam satu rumah selama 3 bulan berturut-turut atau 20 jam per minggu," katanya.

 Baca Juga: Tempat Ini Jadi Saksi Bisu Pengidap Kusta Diasingkan

Sayangnya, menurut dr Sri, stigma masih banyak terjadi di kalangan keluarga. Banyak informasi pula yang men-judge kusta itu penyakit kutukan, sehingga orang jadi semakin takut tertular.

"Saya tahu sakit ini jadi ada stigma diri dan sosial. Klo stigma sosial, orang lain men-judge. Kalau sehari-hari di poliklinik banyak pasien dengan dokternya curhat," ungkapnya.

Karena itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dr Wiendra Waworuntu, M.Kes menegaskan, pasien kusta jangan takut untuk berobat. Support system di kalangan keluarga juga sangat dibutuhkan karena bisa menyemangati pasien dan membuat pasien berpikiran positif.

"Kalau orang tahu menderita kusta, pastikan langsung berobat. Hidup bersama pun tidak bermasalah sebenarnya. Jadi jangan dikucilkan, tapi harus dibawa berobat, family support penting dan sosialisasikan ini," ucap dr Wiendra menyimpulkan.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini