nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gay Paling Banyak Idap HIV di Kecamatan Cilandak

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 08 Februari 2019 14:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 08 481 2015288 gay-paling-banyak-idap-hiv-di-kecamatan-cilandak-azo7c3qYPV.jpg Gay paling banyak penderita HIV (Foto:Ilustrasi/Ist)

 

KASUS HIV mendapat perhatian khusus masyarakat sekarang. Terlebih ketika fakta menjelaskan kalau ternyata ibu rumah tangga menjadi kelompok masyarakat yang cukup tinggi menderita HIV.

Berdasar informasi tersebut, Okezone coba melihat kasus ini di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Ternyata, bukan ibu rumah tangga yang paling banyak mengidap HIV, lalu siapa?

Dalam data yang dimiliki Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, tercatat, ada 5240 orang yang melakukan VCT atau tes HIV dari Januari 2018 hingga Januari 2019. Dari jumlah tersebut, ditemukan 28 kasus HIV baru!

"Kebanyakan berasal dari kelompok Gay. Sampai sekarang, kita belum pernah menemukan kasus Lesbian yang mengidap HIV positif di Kecamatan Cilandak, ya," terang Dokter Fitria Pratiwi, Pemegang Program Jiwa, Napza, dan HIV Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (7/2/2019).

 

Sementara itu, secara keseluruhan ada 80 hingga 90 pasien HIV positif yang mendapatkan Pelatihan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) di Puskesmas Kecamatan Cilandak. Mereka ini secara rutin setiap bulan akan datang ke puskemas untuk mendapatkan obat antiretroviral (ARV) yang diresepkan ke mereka setiap bulannya.

Terkait dengan usia pengidap HIV positif terbanyak, dokter Fitri mengatakan mereka yang berasal dari usia dewasa muda. Tapi, pernah ada laki-laki usia 20 tahun datang ke puskesmas untuk pengecekan HIV. Ya, intinya mereka yang bisa berobat HIV di puskesmas adalah mereka yang tidak lagi dikategorikan sebagai anak-anak atau remaja berdasar Undang-Undang.

Semenetara itu, selain Gay, kelompok pasangan suami istri atau calon pengantin juga diketahui ada yang mengidap HIV positif di Puskesmas Kecamatan Cilandak. Dokter Fitri punya kisah menarik mengenai data yang satu ini.

"Jadi, mereka yang mau menikah diwajibkan untuk tes HIV. Nah, saat tes dilakukan, ada salah satu calon pengantin pria yang ternyata mengidap HIV positif. Tentu kabar ini mesti diberitahu dan ternyata si calon pengantin pria itu pun jujur ke pasangannya. Tahu tidak, mereka berdua tetap menikah dan sampai sekarang mereka berdua support. Si istri suka menemani suaminya mengambil obat ARV. Tentunya status HIV si istri dari suami itu pun kami pantau agar bisa meminimalisir risiko HIV positifnya," cerita dokter Fitri.

Dia menambahkan, beberapa waria pun ada yang datang ke Puskesmas Kecamatan Cilandak untuk mengakses obat ARV. Mereka-mereka ini biasanya sudah sadar kalau ada faktor risiko dalam tubuhnya. Ini yang kemudian membuat para waria cukup disiplin dalam mengonsumsi obat ARV.

Sementara itu, dokter Fitri menjelaskan kenapa kelompok Gay yang paling banyak, mereka itu biasanya melakukan anal seks dan kemungkinan terjadinya pendarahan sekali pun sedikit di bagian anus, ini tetap berisiko tertular HIV.

Ya, sekali pun kita tahu, penularan virus HIV terjadi karena cairan tubuh manusia, baik itu cairan semen pria dan cairan vagina. Anda juga mesti perhatikan, anal seks cukup berperan dalam faktor risiko paparan virus HIV. Makanya sangat disarankan untuk para LSL (lelaki seks dengan lelaki) menggunaan kondom saat melakukan aktivitas seksual. Menjaga kebersihan saat seks berlangsung pun penting untuk diperhatikan.

Akses Obat ARV untuk Pasien HIV Positif

Mereka yang diketahui memiliki virus HIV di dalam tubuhnya, Dokter Fitri menyarankan untuk tidak pernah putus mengonsumsi obat ARV. Ini yang kemudian menekan virus HIV di dalam tubuh, sekali pun obat tidak membunuhnya.

Nah, kalau Anda memang diketahui HIV positif di pemeriksaan HIV Puskesmas Kecamatan Cilandak, maka yang bisa dilakukan setelah mendapatkan hasil tes HIV positif, adalah dengan pengujian lebih lanjut.

Baca Juga:

6 Meme Adi Saputra si Perusak Motor Sendiri, Terungkap Ini yang Ditulis Polisi

Jangan Main-Main di 2019, Anak Indigo Furi Harun Ramalkan Tahun Ini Bayar Karma!

"Jadi, kalau pemeriksaan di sini, positif di sini, kita anjurin pengobatan pun di sini. Kalau mau di luar, boleh, nanti kita buatkan surat pengantarnya. Kalau memang pengin pengobatan di sini, maka yang dilakukan setelahnya adalah screening penyakit," terang dokter Fitri.

Dia melanjutkan, screening ini untuk mengetahui apakah pasien HIV positif itu memiliki penyakit lain, seperti TBC, hepatitis, fungsi darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal. Ini dilakukan untuk mendapatkan obat yang harus dikonsumsi pasien.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini