nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apakah Mati Suri Nyata? Ini Penjelasannya dari Segi Medis

Tiara Putri, Jurnalis · Sabtu 09 Februari 2019 00:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 08 481 2015564 apakah-mati-suri-nyata-ini-penjelasannya-dari-segi-medis-hkCWlSyoqA.jpg Ilustrasi (Foto: Theatlantic)

DALAM hidup, terkadang ada peristiwa yang tidak bisa dijelaskan dari segi ilmu pengetahuan. Salah satunya tentang mati suri. Istilah ini digunakan pada seseorang yang sudah dinyatakan meninggal oleh dokter tapi kemudian hidup kembali. Peristiwa ini sering dikaitkan dengan hal-hal mistis dan pengalaman spiritual.

Tak jarang orang-orang yang mengalami mati suri mengatakan bila dirinya serasa dibawa ke alam lain untuk melihat kehidupan. Ada pula yang dapat melihat kondisi di sekitarnya saat mati suri namun orang lain tidak menyadari kehadirannya. Maka dari itu, mati suri sering dianggap sebagai peristiwa keluarnya roh dari tubuh.

Dari segi medis, kondisi mati suri disamakan dengan near death experience (NDE) alias pengalaman mendekati kematian. Dalam keadaan ini, biasanya detak jantung seseorang sudah tidak terdeteksi namun otaknya masih berfungsi meskipun dalam tingkat yang sangat rendah. Selain itu, aktivitas sel-sel tubuh dan organ pun sebenarnya masih ada tetapi sangat minimal.

 Baca Juga: Abaikan Pengobatan Kusta, Waspadai Tangan Bisa Buntung

Merangkum berbagai sumber, Sabtu (9/2/2019), ada beberapa aktivitas yang terjadi di dalam otak sehingga membuat seseorang mengalami mati suri. Berikut ulasannya seperti yang dirangkum Okezone:

Fase tidur

Sejumlah ahli menduga fase tidur Rapid Eye Movement (REM) atau fase nyenyak turut memengaruhi seseorang mengalami mati suri. Pada fase ini, otot utama mengalami kelumpuhan otot serta sistem pernapasan dan gerakan mata berjalan lebih cepat. Ketika terjadi gangguan pada fase ini, seseorang dapat mengalami kelumpuhan sementara yang menghalanginya untuk bangun dari tidur.

Selain itu, mati suri juga dikaitkan dengan halusinasi penglihatan atau pendengaran di masa peralihan dari tidur menuju kesadaran maupun sebaliknya. Terdapat kemungkinan otak mencampurkan kondisi tidur dengan kondisi sadar. Dengan begitu seseorang dibuat bingung dengan keadaannya. Dia bisa saja memiliki perasaan dikelilingi cahaya, terpisah dari dirinya, dan tidak mampu bergerak meski merasa sadar.

 Baca Juga: Hari Pers Nasional, Ini 7 Promo yang Bisa Dinikmati Wartawan

Gas karbondioksida

Keberadaan gas karbondioksida di tubuh dikatakan turut memengaruhi kesadaran seseorang. Ada penelitian yang mengatakan gas karbondioksida memberikan pengaruh pada keseimbangan bahan kimia di otak. Ketika keseimbangan kimia terganggu, hal itu dapat memengaruhi otak sehingga merasa melihat cahaya, terowongan, atau kematian.

Pengalaman mati suri terkait gas karbon dioksida dapat dialami seseorang yang selamat dari serangan jantung. Sebab saat mengalami serangan jantung, konsentrasi karbondioksida terbilang berlebih dalam napas dan kalium dalam darah.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini