nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Murid Serang Guru, Benarkah Generasi Milenial Arogan?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 11 Februari 2019 18:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 11 196 2016485 kasus-murid-serang-guru-benarkah-generasi-milenial-arogan-9eD5Xm6xSt.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KASUS murid menganiaya guru di Gresik memang menjadi cerminan generasi milenial yang buruk. Kasus tersebut menjadi bukti bahwa anak muda bisa berbuat tidak sopan kepada orang yang dituakan.

Kasus ini terjadi setelah si murid merasa tidak senang ketika ditegur gurunya karena merokok di dalam kelas. Setelah mendapat teguran, si murid malah bersikap menantang dan berperilaku tidak sopan dengan menarik baju si guru dan beberapa kali menyudutkan si guru.

Bukan hanya kasus guru di Gresik tersebut, beberapa hari lalu juga ada seorang anak muda yang membanting motornya karena tidak terima ketika ditilang. Tindakan-tindakan rebel seperti ini memang banyak dilakukan generasi milenial.

Lantas, apa penyebabnya sih generasi milenial bersikap arogan seperti? Kenapa kasus seperti ini ada dan bagaimana cara penanganannya?

Baca Juga: Intip Seksinya Nadira Diva dalam Balutan Sport Bra, Ototnya Ngeri Banget!

Image result for emosi shutterstock, okezone

Menurut Psikolog Anak dan Remaja Karina Istifarisny, hal itu bisa terjadi karena tidak efektifnya regulasi emosi yang dimiliki remaja, pada kasus ini si murid yang menganiaya guru.

Jika bicara mengenai remaja, hal itu terjadi karena masa pencarian jati diri, karena itu tidak sedikit dari mereka yang rela melakukan apapun demi tercapainya rasa penasaran mereka.

"Bagi saya, peran lingkungan di sini mendorong, membantu, dan mengarahkan. Caranya dengan diberikannya apresiasi jika dia benar dan teguran jika kurang pantas," terang Psikolog Karin pada Okezone.

Nah, permasalah di sini adalah generasi milenial kebanyakan tidak mampu mengendalikan emosinya dengan benar, apalagi saat mereka mendapatkan teguran. Sikap ini biasanya timbul karena pengalaman sebelumnya.

Baca Juga: Bintang Panas Sally Marcellina Bergaya Syur, Branya Sampai Mengintip

"Jadi, bagaimana mengekspresikan kemarahan, kekesalan atau kekecewaan itu sangat bergantung dari pembelajaran yang diperoleh sebelumnya," sambungnya.

Tapi, memang tidak semua generasi milenial bersikap arogan, banyak juga yang sadar akan sikapnya yang salah dan segera memperbaiki diri. Selain marah, sikap lainnya yang juga ditunjukan misalnya merajuk, diam dan lainnya.

"Nah, sayangnya ada juga beberapa anak muda yang ketika ditegur kesalahannya, dia malah menunjukan kekerasan seperti pada kasus yang satu ini," tegasnya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk membuat emosi itu terjaga dengan baik? Dijelaskan Psikolog Karina, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah jangan ditekan, jadi emosi yang ada dirasakan dan dikeluarkan tapi dengan cara yang tepat.

"Saya sih biasanya menyarankan dengan menuliskannya di buku diari atau jurnal atau melalui gambar atau hal apa pun yang bisa membuat si anak mengekspresikan emosinya dengan cara yang dia sukai, supaya dia paham bagaimana mengekspresikan emosi dengan cara positif," ungkapnya.

Khusus untuk marah, sambung Psikolog Karina, kita bisa memberikan waktu pada si anak untuk merasakan, namun tetap menahan diri untuk tidak segera memberikan respons. Cara ini diharapkan bisa menahan emosi marah yang terlalu membludak di kebanyakan anak muda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini