nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Kedai Kopi Tua Milik Lunardi Dekat Stasiun Gondangdia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 11 Februari 2019 14:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 11 298 2016342 kisah-kedai-kopi-tua-milik-lunardi-dekat-stasiun-gondangdia-Kl83xtmrnd.jpeg Pengusaha Kopi Lunardi (Foto: Rofiq/Kontributor)

Siang itu, terik matahari terasa begitu menyengat hingga menusuk ke dalam tulang. Secuil aroma wangi khas kopi tiba-tiba menyeruak dari sebuah toko kecil di samping Stasiun Gondangdia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Di balik meja kayu, seorang pria lanjut usia terlihat sedang serius membaca buku berjudul “Ranjang Prokrustes” karya Nassim Nicholas Taleb. Perhatiannya terpecah ketika menyadari kehadiran Tim Okezone.

“Silakan masuk mas, mau beli kopi arabika atau robusta?,” tanya pria itu dengan semburat senyuman di wajahnya.

Nama aslinya adalah Xu Yilun, 62 tahun, tetapi karena pada masa pemerintahan Orde Baru terdapat sebuah kebijakan (Keputusan Presiden No. 240 tahun 1967) yang menganjurkan masyarakat Tionghoa menggunakan nama yang 'lebih' Indonesia, ia terpaksa menggunakan nama Lunardi Valencie pada kartu identitasnya. Padahal, Yilun dan keluarga lahir dan tumbuh besar di Jakarta.

Kepada Okezone, pria yang akrab disapa Koh Ilun itu mengaku menghabiskan hari-harinya menjaga toko sembari membaca tumpukan buku yang telah ia baca berulang kali. Dari hasil penjualan kopi inilah ia dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus menyekolahkan anak semata wayangnya.

Toko tersebut diketahui telah beroperasi sejak tahun 1930-an. Ilun bercerita bahwa saat pertama kali dibuka, toko yang didirikan oleh mendiang ayahnya itu hanya menjual kayu, arang, bumbu rempah-rempah, beras, minyak tanah, dan beberapa kebutuhan dapur lainnya.

“Dulu, namanya Toko Burung Kenari, terinspirasi dari hobi ayah saya yang gemar memilihara burung kenari. Sekarang jadi Toko Kopi Luwak. Kami dulu menjual sembako. Tetapi karena jumlah sembako yang boleh dijual oleh orang Tionghoa dibatasi, ayah saya memutuskan untuk menjual kopi pada tahun 70-an,” tutur Yilun.

Meneruskan usaha keluarga

Sebagai anak pertama, Yilun dipercaya untuk meneruskan usaha milik keluarga. Terlebih ketika ayahanda tercinta menghembuskan napas terakhir pada 2004 silam. Beliau meninggal setelah mengalami pendarahan hebat di otak.

“Sebelum meninggal, ayah saya kalap makan tongseng. Kolesterol beliau tiba-tiba naik. Ia mengeluh pusing dan susah tidur. Tapi beliau malah pukul-pukul nyamuk menggunakan kayu hingga terjatuh, dan kepalanya membentur lantai,” ungkapnya.

Berbekal ilmu yang ia dapatkan saat masih bekerja di sebuah perusahaan, Yilun pun mulai mendalami bisnis kopi yang telah dirintis oleh mendiang ayahnya. Ada dua jenis kopi yang menjadi produk andalan di Toko Kopi Luwak, yakni kopi robusta dari Lampung dan Sumatera Utara, dan kopi arabika yang dipasok langsung dari Tana Toraja. Varietasnya pun terbilang lengkap disesuaikan dengan kebutuhan para pelanggan.

Di bagian depan toko, berjejer tiga toples kaca berukuran besar. Toples ini berisi kopi robusta kualitas terbaik. Di sisi kiri, tiga toples berukuran sedang juga tampak menghiasi toko. Meski bentuknya sudah usang, toples tersebut digunakan untuk menyimpan campuran biji kopi robusta dan jagung.

Sementara untuk biji kopi arabika, Yilun sengaja meletakkan di balik singgasananya (meja membaca) karena jenis kopi inilah yang paling laris dijual. Harganya pun relatif lebih mahal dibanding kopi robusta yakni, Rp160 ribu per kg.

“Pembeli kopi robusta itu rata-rata dari warung-warung kopi kecil di sekitar pasar. Nah, kopi jagung itu biasanya yang beli bapak-bapak yang sudah lanjut usia. Mereka kalau ngopi kan bisa bergelas-gelas dalam sehari, jadi cari yang murah. Kalau kopi Toraja sering dibeli oleh pekerja kantoran dan anak-anak muda,” katanya.

Berbicara soal harga, Yilun secara terang-terangan mengatakan bahwa harga kopi di tokonya memang sedikit lebih mahal dari kebanyakan toko kopi. Bukan tanpa sebab, semua produk kopi yang dijual, benar-benar biji kopi asli bukan campuran. Kecuali produk kopi jagung yang memang sengaja ia pisahkan dari produk unggulan.

Mengingat kini sudah banyak pengusaha-pengusaha muda yang turut merintis bisnis kopi, Yilun mengaku bahwa omset yang ia dapatkan sekarang sudah tidak menentu. Dulu, saat bisnis kopi sedang bagus-bagusnya, hasil penjualan bisa digunakan untuk menyekolahkan kedua adiknya hingga mendapat gelar sarjana.

Yilun tidak pernah sedikitpun berkecil hati. Ia percaya setiap orang memiliki pintu rezeki masing-masing. Perkataan itu benar-benar terbukti. Saat sedang asyik bercengkerama dengan Okezone, seorang karyawan dari Dirjen Energi Terbarukan Esdm, tiba-tiba datang dan membeli 6 kg Kopi Toraja.

“Benar kan mas. Kalau sudah Tuhan yang atur, nasib baik dan rezeki pasti ada saja yang datang. Kadang, ada orang yang ucuk-ucuk mampir ke toko. Contohnya seperti bapak ini,” papar Yilun seraya menyambut kedatangan pelanggan barunya.

Bangkit dari keterpurukkan

Perjuangan Yilun dalam mengembangkan bisnis kopi milik keluarganya bukan tanpa rintangan. Pada 31 Januari 2012, tokonya habis dilalap api. Ia terpaksa berhenti berdagang selama kurang lebih dua tahun.

Beruntung baginya, saat kebakaran berlangsung, para tetangga di sekitar rumah turut membantu mengevakuasi benda-benda berharga dari dalam toko. Mereka adalah teman semasa kecil Yilun yang masih menjalin hubungan baik hingga detik ini. Saat menceritakan kejadian itu, air mata terlihat membasahi kedua pipinya.

“Saya sedang tertidur pulas, ibu saya sedang arisan di rumah kerabat. Tiba-tiba ada suara teriakan dari luar ‘kebakaran-kebakaran’. Di luar, ternyata teman-teman saya sudah mengangkat beberapa barang berharga, salah satunya alat untuk menggiling biji kopi. Toko-toko milik orang Tionghoa lain sudah habis dilalap api. Saya hanya sempat menyelematkan surat-surat berharga dan buku-buku bacaan,” kenang Yilun.

Ia pun terpaksa merintis kembali usaha tersebut dari nol. Berbagai cara pun dilakukan, termasuk menguras tabungan yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun. Februari 2014, Toko Kopi Luwak kembali beroperasi.

Pada awal dibuka, hanya 3 kg kopi yang berhasil terjual. Perlahan tapi pasti, bisnis kopi Yilun kembali bangkit dari keterpurukkan. Kini ia bisa menjual lebih dari 10 kg biji kopi per hari.

"Saya sempat bingung bagaimana cara menarik pelanggan. Tapi saya percaya, Tuhan sudah mengatur rezeki saya. Sekarang, sebagian besar pelanggan saya datang kesini dari informasi mulut ke mulut. Toko saya juga sudah didaftarkan di beberapa platform digital seperti Google Business oleh anak saya," tutup Yilun.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini