nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Theti Numan Agau, Perempuan yang Menjaga Hutan Gambut di Kalteng

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 22:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 13 196 2017607 kisah-theti-numan-agau-perempuan-yang-menjaga-hutan-gambut-di-kalteng-A43GJQ9SzA.jfif Theti Numan Agau (Foto: Ist)

Perempuan kini tidak hanya bertugas mengurus anak dan rumah, tetapi ada juga yang dilibatkan dalam pekerjaan yang mencakup kepentingan bersama dalam masyarakat. Hal ini dirasakan oleh Theti Numan Agau, perempuan Dayak yang tinggal di Mantangai Hilir, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Ia tinggal di daerah yang memiliki lahan gambut yang cukup luas. Memegang peranan cukup penting karena merupakan bagian dari gambut dunia yang luasnya diperkirakan lebih dari 4 juta hektar atau 3 persen dari luas permukaan bumi.

Dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (14/2/2019), Kalimantan Tengah sendiri merupakan salah satu wilayah yang mengalami bencana kebakaran hutan dan lahan parah pada tahun 2015 silam. Hal itulah yang membuat Theti susah bernapas selama berbulan-bulan, ia juga susah untuk melakukan aktivitas lainnya termasuk bekerja. Otomatis, selama kebakaran ini, ia hanya mengandalkan sisa-sisa panen terdahulu.

 Baca Juga: Selain Ani Yudhoyono, Ini 4 Keluarga Artis yang Pernah Mengidap Kanker Darah

Disadari atau tidak, gender dan lingkungan saling terkait. Ketika alam terkena banjir atau kekeringan, tsunami atau kebakaran, yang paling rentan menderita di antara mereka adalah perempuan. Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) melansir bahwa orang yang mengungsi akibat perubahan iklim 80 persen adalah perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan di seluruh dunia memiliki hak yang lebih sedikit.

Mereka juga lebih sedikit uang, dan lebih sedikit kebebasan sehingga pada saat-saat kehilangan yang ekstrem seperti bencana alam, perempuan sering menjadi pihak yang terpukul paling keras. Meskipun perempuan paling merasakan efek dari perubahan iklim, mereka memiliki peluang besar untuk berkontribusi melawan perubahan iklim .

Theti kemudian bergabung dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) setelah kebakaran besar melanda. Hatinya terketuk akan bahaya pembakaran lahan ini, sehingga memutuskan ikut mengambil peran dalam menjaga lahan gambut ini.

 

Sebelum menjadi petani binaan dari BRG, Theti mengelola lahan kecil tempat ia menanam padi. Setiap tahun, ia bisa panen 30 karung beras. Hasil ini diakuinya hanya cukup untuk makan saja selama setahun.

 Baca Juga: Tak Ada yang Mustahil, Kisah Kacey McCallister, Diamputasi Tapi Sukses Jadi Atlet dan Motivator

Untuk lauk dan kebutuhan lainnya, ia harus bekerja serabutan seperti menyadap karet dan mencari ikan. Hasil kerja serabutan ini juga terhitung lebih melelahkan dengan hasil yang tidak menentu.

“BRG membuat Pelatihan Sekolah Lapang selama 10 hari. Di sana kami diajarkan metode pertanian ramah lingkungan untuk menyuburkan lahan. Kami tidak lagi membakar lahan dan diajarkan untuk membuat pupuk alami,“ ujar Theti.

Melalui Sekolah Lapang dibangun Mini Demplot Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang dikelola para kader. Mereka membentuk kelompok pengelola demplot.

“Dalam satu kelompok ada 10 petani. Tadinya jumlah ini terbagi rata, yaitu lima pria dan lima perempuan. Namun usaha ini kurang mendapat sambutan dari petani pria. Saya mengubah komposisi kelompok menjadi 10 perempuan dan semua berjalan dengan lancar,” jelas Theti.

Di lahan demplot, Theti dan kelompoknya bertanam tomat, cabai, dan kacang panjang. Hasil ini diakui Theti mengalami kenaikan. Jika dulu, hasil pertanian hanya cukup untuk dimakan sendiri, ia sekarang mulai bisa menjual hasil pertaniannya dan mulai menabung.

“Hasilnya bisa dipakai untuk makan dan kelebihannya bisa dipakai untuk menabung. Kalau dulu hanya cukup untuk makan tetapi sekarang kami bisa menjual hasil pertanian. Menjualnya pun tidak susah karena hasil pertanian ini lebih sehat. Kami memakai metode bertani yang ramah lingkungan. Sampai saat ini, kami telah panen sebanyak empat kali,” katanya.

 

BRG sendiri kini telah memiliki 773 anggota kelompok perempuan. Jumlah tersebut diharapkan dapat meningkat. Selain pertanian, kelompok perempuan ini juga diberi keterampilan untuk meningkatkan nilai tambah/jual pada produk kerajinan anyaman yang dibuat dari rumput atau tanaman yang banyak tumbuh di lahan gambut. Para perempuan ini telah mampu membuat anyaman menjadi tas, topi, placemats, keranjang, tikar dan dompet yang siap dipasarkan.

“BRG menyadari pentingnya peran para perempuan dalam menjaga ekosistem gambut. Kami percaya bahwa jika perempuan diberdayakan, maka akan dapat mendorong perubahan besar dalam sikap dan perilaku melindungi,” kata Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.

"Kita tidak dapat bicara tentang ketahanan pangan, tentang generasi emas jika soal pemenuhan nutrisi di tingkat keluarga diabaikan. Perempuan-perempuan kader sekolah lapang di lahan gambut menunjukkan bagaimana mereka berjuang untuk itu. Larangan pembakaran dalam pertanian gambut dijawab dengan solusi PLTB yang berbasis pada kebutuhan nutrisi keluarga“, tambah Myrna.

Meskipun perempuan memiliki akses yang terbatas dibandingkan laki-laki ke sumber daya seperti tanah, kredit, input dan layanan; data dari FAO menyebutkan bahwa perempuan berperan dalam menghasilkan 60% hingga 80% makanan di negara-negara berkembang. Perempuan memiliki pengetahuan dan keterampilan tradisional, terutama untuk mengelola sumber daya alam dan air dan di berbagai bidang seperti inovasi, pertanian, makanan, limbah, dan energi.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini