nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Piramida 1 Ton Kue Keranjang Siap Meriahkan Cap Go Meh di Pontianak

Ade Putra, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 11:20 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 13 298 2017227 piramida-1-ton-kue-keranjang-siap-meriahkan-cap-go-meh-di-pontianak-LoKtPotDNX.jpg Piramida kue keranjang di Pontianak untuk Cap Go Meh (Foto:Ade/Okezone)

ADA dua kota besar di Kalimantan Barat, yang selalu meriah dalam melaksanakan serangkaian kegiatan perayaan Imlek dan Cap Go Meh (CGM). Seperti di Kota Singkawang, selalu ada festival CGM setiap tahunnya. Di kota yang dijuluki Kota Amoy ini, setiap CGM pasti diramaikan dengan pawai lampion dan tatung. Serta di pusat kota dihiasi dengan pernak-pernik khas Tionghoa.

Berbeda dengan Kota Pontianak. Di ibukota Kalbar ini, tidak ada pawai lampion atau tatung. Kalau pun ada tatung, hanya di depan kelenteng saja. Selain itu, satu ton kue keranjang juga menjadi pembeda perayaan CGM di Pontianak tahun ini.

Kue yang juga disebut Nian Gao atau dalam dialek Hokkian Ti Kwe itu disusun meninggi ke atas layaknya sebuah piramida. Piramida kue keranjang ini akan dipajang di panggung utama perayaan CGM Kota Pontianak di Jalan Diponegoro, Kecamatan Pontianak Kota. "Jumlah kue keranjang yang dipajang ada 2.000 biji. Beratnya satu ton," jelas Ketua Panitia CGM Kota Pontianak, Djie Sen di sela menyusun piramida kue keranjang tersebut, belum lama ini.

Ketika menyusun kue keranjang ini pada Senin malam, Djie Sen dibantu lima orang rekan dari Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak. Mereka terlihat sangat berhati-hati. Karena, kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula itu tidak bisa langsung disusun begitu jadi. Perlu waktu tunggu hingga kue mengeras. Sehingga, perlu waktu panjang untuk menyusunnya menjadi piramida. "Nantinya, akan ada beberapa piramida kue keranjang," kata Djie Sen.

Baca Juga:

Niat Memeluk, Vlogger Ini Malah Ditunggangi Cabul oleh Lumba-Lumba

Tampil Seksi di Pantai, Pantat Montok Selebgram Ini Kena Azab!

Kue bertekstur kenyal dan lengket ini, disuplai dari pengrajin. Butuh waktu satu minggu untuk menyelesaikan pembuatan 2.000 kue keranjang ini. "Pembuatan kue ini juga masih tradisional dan tidak menggunakan mesin. Maka perlu waktu,” katanya.

Ia menerangkan, untuk membuat satu ton kue, menghabiskan kurang lebih 500 kilogram ketan, 250 kilogram gula, serta campuran lain seperti beras ketan dan air tepung sebanyak 200 kilogram. “Makna kue keranjang bagi masyarakat Tionghoa sangat penting. Karenanya kue khas ini harus ada di setiap Imlek dan Cap Go Meh,” ucapnya.

Sejatinya, kue keranjang termasuk satu dari 12 macam penganan yang harus ada untuk persembahan pada leluhur saat Imlek (sin tjia). Dalam Imlek, tak hanya penghormatan pada leluhur yang utama, tapi juga rasa syukur dan doa. Untuk itu, semua kuenya harus bercita rasa manis, agar kehidupan di tahun berikutnya menjadi lebih manis.

Dulunya, kue keranjang dijuluki ni-kwee (kue tahunan), karena hanya ada setahun sekali. Yaitu enam hari menjelang Imlek (jie sie siang ang) hingga malam Imlek. Sebagai sesaji, kue ini tidak dimakan hingga hari ke-15 atau Cap Go Meh.

 

Nien kao atau nian gao sendiri berasal dari kata nian yang berarti tahun dan gao yang berarti kue. Pengucapan kata gao sendiri terdengar seperti kata ‘tinggi’. Karena itu, kue keranjang kemudian disusun tinggi atau bertingkat. Hal ini memberi makna peningkatan dalam rezeki dan kemakmuran. Di pucuknya, diletakkan kue moho atau kue mangkuk merah, sebagai lambang agar kehidupan kian makmur.

Konon, kue keranjang lebih ditujukan untuk menyenangkan Dewa Tungku, agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga (Yu Huang Da Di). Sebagai imbalannya, Raja berkenan memberi rezeki yang berlimpah. Bentuknya yang bulat melambangkan agar keluarga yang merayakan Imlek terus bersatu dalam menghadapi apapun.

“Tahun 2010 pernah dilaksanakan seperti ini (membuat piramida). Harapannya ke depan Pontianak semakin pesat, toleran, semakin maju dengan adanya event Imlek dan Cap Go Meh,” harap Djie Sen.

Untuk diketahui, festival CGM ini, dijadwalkan dibuka Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, pada 14 Februari mendatang.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini