Kisah Doula Tangani Ibu Keguguran, Dukungan Emosional Jadi Faktor Utama

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 12:15 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 13 481 2017268 kisah-doula-tangani-ibu-keguguran-dukungan-emosional-jadi-faktor-utama-W9LvbqZAS6.jpg Daula Profesional (Foto: Sukardi/ Okezone)

KESEDIHAN mendalam bagi seorang ibu ketika tahu dirinya keguguran. Harapan bisa membesarkan anugerah Tuhan kandas dan yang terjadi kemudian adalah penyesalan atau kekecewaan yang teramat.

Dalam kondisi seperti ini, tentu seorang ibu keguguran perlu mendapatkan pendampingan yang benar. Hal ini diperlukan agar si ibu bisa menjalani kehidupannya lebih baik ke depan dan tentunya tidak terkukung dalam kesedihan yang bisa merusak hidupnya. Ya, tentunya dengan tidak melupakan begitu saja janin yang pernah dia kandung.

Seorang Doula Profesional Margaretha Saulinas menceritakan kisahnya mendampingi seorang ibu keguguran. Menurut dia, hal utama yang mesti dilakukan si ibu saat tahu dirinya keguguran ialah healing dari kondisi tidak mengebakan tersebut.

Etha, sapaan akrabnya, menceritakan kalau si ibu keguguran ini berusia 25 tahun. Saat pertama kali menghubungi Etha untuk menjadi doula, si ibu ini ternyata memang sudah mengatakan kalau dirinya mengalami pendarahan. Mungkin karena itu juga si ibu yang tidak disebutkan namanya tersebut menghubungi Etha.

"Iya, jadi si ibu ini ngehubungin aku pas dia sudah hamil dan mengalami pendarahan. Usia kehamilannya sekitar 26 minggu. Saat dia pertama kali ngabarin, ya, aku udah siap buat nemenin dia melewati masa kehamilannya sampai melahirkan nanti," kata Etha pada Okezone saat ditemui di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019).

Nah, setelah ngobrol lebih lanjut mengenai kehamilan si ibu, Etha menyarankan untuk si ibu jangan tinggal sendirian. Ya, berdasar pengakuan si ibu ke Etha, suami si ibu ini tidak menemaninya melewati masa kehamilan karena masalah pekerjaan di luar negeri. Karena itu, Etha meminta si ibu ini untuk pergi ke rumah sakit agar setidaknya si ibu ini mendapat perhatian dan penanganan yang baik, terlebih sedang mengalami pendarahan.

Doula tersertifikasi Amani Birth itu melanjutkan, si ibu itu beberapa hari berikutnya mengatakan sudah ingin melahirkan. Kontraksi alami terjadi di usia bayi 26 minggu mengharuskan si bayi nantinya masuk ruang NICU. Tak lama berselang, si ibu melahirkan.

Etha pun langsung menuju rumah sakit dan melihat kondisi si ibu. Nah, karena si anak lahir prematur, bayi tersebut meninggal dunia. Etha di sana memiliki peran yang berbeda dari biasanya.

"Kondisinya bukan menemani ibu melahirkan, tapi aku menjadi support system si ibu yang keguguran itu untuk bangkit dari kesedihannya. Hal pertama yang aku minta ke si ibu adalah healing semua kesedihan dan apa yang baru saja terjadi. Boleh ke siapa saja, yang penting itu orang kamu percayai," katanya.

Setelah menyarankan si ibu healing, Etha juga baru tahu kalau ternyata si ibu sudah pernah keguguran dua kali. Karena itu, dia juga menyarankan agar gizi si ibu mesti dijaga dengan sangat baik dan konsumsi protein tinggi menjadi penting di kondisi seperti itu terlebih jika si ibu pengin punya anak lagi.

"Hal yang mesti dicatat di sini, sebisa mungkin saat mendampingi atau menjenguk ibu yang keguguran, jangan pernah tanya-tanya dia alasan kejadian itu bisa terjadi atau menghakimi si ibu. Sebab, dalam kondisi tersebut, si ibu hanya butuh dukungan dan support emosional itu menjadi penting di saat seperti itu," papar Etha.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini