nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Buruk bagi Kesehatan, Apakah Itu Makanan Ultra Olahan?

Pisca Azalea, Jurnalis · Selasa 19 Februari 2019 02:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 18 298 2019720 buruk-bagi-kesehatan-apakah-itu-makanan-utra-olahan-Bu8azVI8Ff.jpg Makanan ultra olahan (Foto:Ist)

SAAT  ini hampir semua orang menyukai makanan siap saji atau makanan olahan. Sosis, burger, kue, biskuit itu adalah sederet makanan yang umumnya diproses terlebih dahulu. Makanan olahan adalah makanan yang telah diubah dalam beberapa cara selama persiapan, jadi itu juga termasuk susu, keju,dan yoghurt.

Kita tahu mengonsumsi makanan olahan sering dikaitkan dengan gaya hidup yang buruk dan tidak sehat. Hal itu karena banyak makanan olahan yang mengandung kadar garam, gula dan lemak yang tinggi untuk membuatnya terasa lebih enak dan memperpanjang umur simpannya.

Melansir Metro, Selasa (19/2/2019), makanan ultra-olahan ternyata memiliki risiko yang buruk. Menurut sebuah studi baru, makanan ultra-olahan berkorelasi dengan risiko kematian dini yang jauh lebih tinggi. Kedengarannya mengerikan bukan?

 hand in a cookie jar

Sebenarnya apa sih makanan ultra-olahan? Mengapa itu sangat buruk bagi kesehatan?

“Makanan ultra-olahan adalah makanan yang telah mengalami beberapa proses transformasi termasuk pemanasan pada suhu tinggi dan ditambah dengan zat tambahan dan pengemulsi,” jelas Sonal Shah,salah seorang ahli gizi.

Zat tambahan dan pengemulsi ini ditambahkan untuk meningkatkan rasa dan penampilan dari makanan tersebut. Contohnya termasuk camilan kemasan manis atau gurih seperti keripik, makanan panggang yang dipanggang seperti kue, makanan siap beku seperti produk daging, dan yang dilarutkan seperti mie instan, sup, dan minuman ringan.

Baca Juga:

Viral Video Bule Pakai Jeans Robek di Bokong saat Liburan di Bali

Seksinya Pacar Baru Vicky Prasetyo, Anggia Chan dengan Outfit dan Pose Sensual

Studi tersebut telah menganalisis 44.551 orang dewasa Prancis, berusia 45 tahun dan lebih tua, selama dua tahun. Selama penelitian dua tahun itu 602 peserta meninggal dunia. Selain faktor-faktor seperti merokok, para peneliti menghitung risiko kematian dini 14% lebih tinggi untuk setiap peningkatan dalam jumlah makanan ultra-olahan yang dikonsumsi.

 

"Dampak negatifnya terhadap kesehatan terlihat dari banyaknya orang yang mengonsumsi makanan ultra-olahan ini memiliki berat badan yang berlebih dan memiliki banyak masalah kesehatan lainnya termasuk diabetes tipe 2 dan keluhan pencernaan," tutur Sonal.

Mengonsumsi makanan olahan dikaitkan dengan kenaikan berat badan, hal itu dikarenakan kombinasi gula dan lemak olahan sehingga mengarah pada konsumsi kalori yang berlebihan. Selain itu, pemanis buatan juga memiliki efek merangsang nafsu makan. Zat-zat tambahan Ini adalah beban berat bagi hati yang memiliki peran utama untuk memproses dan mendetoksifikasi apa pun yang masuk ke dalam tubuh.

"Ada juga bukti bahwa bahan kimia buatan dalam makanan dan minuman olahan dapat menyebabkan pertumbuhan tumor dan sayangnya industri makanan tidak menyadari implikasi kesehatan jangka panjang penuh dan efek negatif makanan olahan terhadap tubuh," tambah Sonal.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini