Mengenal Eksibisionis, Perilaku Doyan Pamer Payudara & Kemaluan yang Dilakukan Tante Siska

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 19 Februari 2019 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 19 196 2019893 mengenal-eksibisionis-perilaku-doyan-pamer-payudara-kemaluan-yang-dilakukan-tante-siska-crDHrYPXAz.jpg Perilaku Eksibisionis Tante Siska (Foto: Youtube)

PERILAKU manusia semakin tidak tergambarkan. Banyak dari kita yang sekarang menemukan sesuatu hal yang baru dan tak sedikit yang kemudian dianggap salah karena, sudah membahayakan orang lain. Perkembangan perilaku seksual juga semakin tidak terkendali.

Salah satu hal yang marak terjadi di masyarakat adalah aksi eksibisionis dan tak jarang ini berakhir pada sikap merugikan orang lain. Masih ingat dengan aksi Tante Siska yang membuka handuknya di depan pengendara ojek online pengantar pizza?

Dalam keterangan video, Siska menjelaskan, apa yang dia lakukan adalah bentuk prank atau aksi bercanda yang tak bermaksud pada hal melecehkan orang lain. Psikolog Klinis Diah Nutrisiani juga membenarkan kalau apa yang dilakukan Siska adalah prank belaka.

"Biasanya, mereka yang melakukan eksibisionisme itu termotivasi oleh keinginan untuk mengagetkan dan membuat stres orang yang melihatnya secara tidak terduga. Nah, kalau Siska ini sepertinya berniat untuk menunjukkan betapa menariknya tubuh dia," kata Psikolog Diah pada Okezone, beberapa waktu lalu.

Baca juga :

Tapi, setelah video tersebut tersebar di media sosial, sosok Siska ini semakin binal dan dia ternyata sering melakukan aksi brutal yang dengan sengaja membuka pakaiannya di depan umum.

Lihat saja aksi dia saat membuka bajunya saat makan. Dia dengan sengaja memamerkan payudaranya ke depan kamera dan dia makan dengan lahapnya. Payudara dia benar-benar terlihat menyembul di depan kamera. Kemudian, ada juga aksi Siska saat membuka bra dan celana dalamnya di dalam sebuah mall.

Aksi-aksinya dipublikasi di media sosial dan ini bisa diakses oleh siapa pun. Rasanya benar kalau Siska memang mengalami masalah eksibisionisme. Sebab, dia dengan sengaja membuat orang lain terkesima dengan bagian intim yang dipamerkan secara bebas.

Nah, Psikolog Diah menjelaskan lebih detail bagaimana eksibisionisme ini.

"Ekshibisionisme adalah suatu jenis parafilia yang menandai seseorg yang mencari rangsangan atau kepuasan seksual dengan mempertunjukkan dirinya pada korban yang tidak menduga sebelumnya," ungkap Psikolog Diah.

Namun, dia juga memberi pengecualian pada mereka yang menunjukkan tubuhnya ke orang lain. Sebab, penari bugil profesional juga pada umumnya tidak memenuhi kriteria klinis untuk terdiagnosis mengidap ekshibisionisme, meski pun mereka mungkin mempertontonkan tubuh bagian intim mereka.

Lebih lanjut, eksibisionisme ini masuk dalam kategori Diagnositic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) dan ini cukup membuat seseorang harus mendapatkan pertolongan. Sebab, jika kebiasaan ini dibiarkan, bisa saja membuat orang lain trauma dan ini berakibat jangka panjang.

"Seseorang yang mengalami eksibisionis meyakinkan diri sendiri tentang ke maskulinitasnya (laki-laki ) dan menunjukan ke laki-lakiannya (alat kelamin) kepada orang lain (perempuan, baik anak-anak atau dewasa)," lanjut dia.

Secara spesifik, eksibisionisme kata Psikolog Diah, masuk ke dalam kategori DSM V yang mana memiliki ciri khusus yaitu aktivitas berulang, intens, dan terjadi selama 6 bulan.

"Perilaku ini adalah fantasi atau dorongan dan perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan memamerkan alat kelamin kepada orang lain yang tidak dikenalnya.

Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut, atau dorongan dan fantasi menyebabkan orang tersebut sangat menderita atau mengalami masalah interpersonal," sambung Psikolog Diah.

Dia menambahkan, ada hal yang bisa dilakukan saat seseorang mencoba melakukan eksibisionisme pada Anda.

"Dianjurkan untuk tidak menunjukkan reaksi terkejut atau takut berlebihan karena itu bisa mendorong pelaku semakin mempertontonkan dirinya. Kemudian, jika memungkinkan saran saya bersikap biasa saja atau menjauh dari si pelaku," tambah Psikolog Diah.

 

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini