nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lombok Riwayatmu Kini, Kisah Perjuangan Warga Lombok Pasca-Gempa

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 20 Februari 2019 09:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 20 612 2020394 lombok-riwayatmu-kini-kisah-perjuangan-warga-lombok-pasca-gempa-28G0dzoaCs.jpg Pantai Lombok. (Foto: Okezone/Ardi)

SENYUM hangat masyarakat Dusun Kapu, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, menyambut para pendatang memasuki permukiman mereka. Meskipun tersenyum, namun kesedihan tetap tergambar di wajah mereka, dengan mata berkaca-kaca sambil menjabat tangan dengan ramah.

Sekilas Okezone melayangkan pandang ke daerah yang terkena gempa tersebut. Beberapa rumah memang runtuh dan sebagian rusak akibat gempa yang menerjang pada Juli 2018. Tetapi, masyarakat Lombok Utara ini tetap tidak kehilangan harapan, mereka masih punya semangat hidup yang tinggi.

Baca Juga: Gaya Tamara Bleszynski Blusukan di Pasar Tradisional, Tetap Kece Abis

Salah satu warga setempat, Muhdin, menjelaskan setelah gempa hidup tidaklah mudah. Selain karena barang-barang yang hancur, rasa trauma akan kehilangan teman dan sanak saudara masih menghantui mereka.

"Kalau bicara sekarang, kami semua masih takut tapi rasa-rasanya tidak seperti gempa pertama kali. Semua warga tetap ada rasa khawatir, tapi mulai bisa ditangani dan sudah tahu bagaimana cara menyikapi gempa kalau terjadi lagi," ungkapnya pada Okezone di depan rumah yang sudah porak-poranda akibat gempa.

Baca Juga: Bau & Kotor, Tamara Bleszynki Blusukan ke Pasar Tradisional, Intip Apa Saja yang Dibeli?

Tapi, tidak semua orang mampu mengatasi trauma tersebut dengan baik. Banyak anak-anak di sekolah yang lari kocar-kacir ketika tengah belajar, lantaran ada gempa yang tidak seberapa. Muhdin pun menyebut gempa awal yang besar tersebut memang membuat masyarakat lebih bijak kala menghadapi rangkaian gempa.

"Jadi, gempa besar sekali di awal. Nah, sekarang saat terjadi gempa misalnya 3 skala richter, ya kita sepeti sudah kebal. Tidak begitu takut," katanya sambil tersenyum.

Lantas, bagaimana kondisi di Lombok enam bulan pasca-gempa? Muhdin menjelaskan, yang paling krusial adalah adanya toilet bersih yang disediakan salah satu yayasan yang berfokus pada anak-anak yaitu Wahana Visi Indonesia. Toilet itu menjadi hal mendasar yang manfaatnya sangat besar untuk warga setempat.

Muhdin pun bertutur, sebelum adanya toilet masyarakat buang air besar dan mengambil air untuk masak di saluran air yang sama. Akibatnya, kebersihan dari air tersebut pun tidak terjamin, dan memungkinkan para warga terkena penyakit.

"Nah, dengan adanya toilet dan sanitasi yang bersih, tentu ini akan mengubah kehidupan kami di sini dan tidak hanya itu, dengan adanya ketersediaan air yang bersih, ini juga membuat kami terbebas dari penyakit diare yang dulu mudah sekali melanda warga," kata Muhdin.

Senada, Sarta, warga lokal lainnya menjelaskan sebelum ada toilet bersih, banyak warga yang akhirnya mau tidak mau harus menggunakan air sungai yang keruh atau malah kotor.

Manager Respons Tanggap Bencana Gempa Lombok Wahana Visi Indonesia, Eninofa Rambe, menyebut ketersediaan toilet menjadi kebutuhan utama masyarakat. "Itu juga yang membuat kami memberikan bantuan material toilet dengan kriteria pembangunan toilet yang dilakukan swadaya oleh masyarakat," katanya.

Tapi, selain toilet dan air bersih yang tersedia dengan laik, warga Lombok Utara juga membutuhkan rumah sementara. Sebab, sampai sekarang, banyak keluarga yang masih harus tidur di bawah terpal. "Kebayang kan, bagaimana panasnya kami. Kalau siang, tidak ada yang berada di dalam, semuanya keluar. Tapi, ya, hanya itu yang kami punya," jelas Muhdin.

Memang, beberapa warga Dusun Kapu sudah mulai membangun rumah kembali, sekalipun hanya terbuat dari sisa-sisa bilik anyaman bambu dan atapnya dari asbes bekas.

Layak? Tentu tidak. Ketika hujan deras tiba, mereka pun akan dihadapi dengan kebocoran di mana-mana. Masalah ini pun belum bisa ditanggulangi dengan baik karena tidak ada dana untuk memperbaiki atap yang bocor.

Nah, untuk menyambung hidup, salah seorang warga, Hernawati, mengaku mulai bertani kembali sejak 3 bulan setelah gempa. Itu dia lakukan tentu untuk menyambung hidup. "Ya, kalau enggak gini, mau hidup bagaimana?" ucapnya singkat.

Dari satu kwintal beras yang dipanen, dia mengaku mendapatkan upah Rp500 ribu. Upah tersebut dia pergunakan untuk mengelola sawahnya lagi dan tentunya menyambung hidup.

Meski sudah terlihat menjalani aktivitas dengan normal, tapi Hernawati mengaku dirinya masih trauma akan adanya gempa susulan. Masih terbayang di ingatannya kepanikan masyarakat yang lari menyelamatkan diri demi menghindari bangunan runtuh.

"Saya percaya, gempa yang terjadi di Lombok itu karena kehendak Tuhan. Bagaimana pun, kita nggak bisa nyalahin siapa-siapa. Sekarang, kita harus bangkit dan tetap hidup," katanya sedikit haru.

Saat ini, Lombok terus berbenah, dan masyarakat pun mulai kembali menjalani hidup, di tengah banyaknya cobaan yang harus dilalui. Walau begitu, semangat dan gotong royong masyarakat Lombok untuk bangkit bisa menjadi contoh untuk siapa pun agar tetap kuat menjalani hidup.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini