nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menengok SDN 6 Jenggala Lombok Utara yang Terdampak Gempa, Lokasinya di Dalam Hutan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 20 Februari 2019 21:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 20 612 2020756 menengok-sdn-6-jenggala-lombok-utara-yang-terdampak-gempa-lokasinya-di-dalam-hutan-tZJhH4MaRg.jpeg Kondisi sekolah di Lombok pasca gempa (Foto: M.Sukardi/Okezone)

GEMPA Lombok menjadi masa kelam bangsa Indonesia. Banyak korban jiwa akibat bencana alam tersebut dan setelah 6 bulan pasca gempa, kondisi Lombok ternyata belum 100 persen pulih.

Okezone berkesempatan melihat langsung bagaimana warga desa di Lombok Utara masih terus berupaya bangkit. Dengan segala daya dan upaya yang masih tersisa, masyarakat terus bergotong royong untuk sama-sama mendapatkan kembali kehidupan yang lebih baik.

Begitu juga mereka yang tinggal di desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Pada kesempatan ini, Okezone berhasil mendatangi salah satu sekolah yang terdampak gempa dan kondisi mereka cukup bikin mata berkaca-kaca.

Bagaimana tidak, sekolah yang biasanya dibangun dengan beton yang kuat dan halaman yang luas, tidak berlaku di SD Negeri 6 Jenggala. Sekolah dasar ini sebagian ruangan ambruk dan kini anak-anak yang bersekolah di sana mengandalkan sekolah sementara yang dibangun HSBC dan Wahana Visi Indonesia.

 BACA JUGA : Atta Halilintar Raih Diamond Play Button, Orangtua: Semoga Sukses Dunia Akhirat!

 

Bisa dijelaskan, sekolah tersebut hanya berukuran 24 x 6 meter yang mana itu sudah dibagi dalam 6 kelas. Lokasinya pun berada di dalam hutan yang mana untuk menjangkaunya, Anda mesti menaiki sepeda motor dari jalan raya ke sekolah itu sekitar 30 menit dengan medan sisi kanannya langsung jurang.

Kebayang bagaimana tidak layiknya sekolah tersebut. Tapi, luar biasa sekali ternyata semangat anak-anak yang ingin bersekolah di desa ini masih sangat tinggi. Ini yang membuat Okezone bersama tim lain bangga melihatnya.

Seperti yang diceritakan Ciko Dharma. Murid kelas 4 ini menceritakan kalau dirinya mesti berjalan kaki 1 jam ke sekolah dan itu dia lakukan setiap hari.

"Satu jam ke sekolah, jalan kaki. Tapi, saya senang sekolah. Di sini banyak teman dan bisa bermain bersama," kata Ciko dengan polosnya, Rabu pagi(20/2/2019).

Perlu diketahui sebelumnya, rumah-rumah warga di desa ini jaraknya tidak berdekatan dan ini yang membuat anak-anak sulit sekali bisa bermain dengan teman sebayanya. Makanya, sekolah mereka anggap sebagai tempat berkumpul dan di sanalah mereka bisa bertemu teman-teman, belajar dan bermain bersama.

Ciko menjelaskan juga kalau sekolah yang dia tempati baru dibuat 2 bulan setelah gempa besar terjadi pada Juli 2018. Sebelumnya, anak-anak murid ini mesti bersekolah di sekolah darurat yang dibangun secara swadaya masyarakat dan di bawah terpal.

Seperti yang dijelaskan Kepala Sekolah SD 6 Jenggala Inggersadi. Menurut penuturannya, sebelum ada sekolah sementara yang dibangun oleh pihak swasta, pihak sekolah sempat membuat sekolah darurat yang dibuat dari terpal. Lokasinya ada di depan bangunan sekolah.

"Sayangnya, sekolah darurat yang dibangun dari kerangka bambu hanya bisa bertahan beberapa bulan. Ini terjadi karena faktor hujan, angin besar, atau juga cuaca yang sangat panas," papar Inggersadi pada Okezone.

Dia menjelaskan, pembuatan sekolah darurat dari kerangka bambu didanai dari dana BOS. Sayangnya, sekolah tersebut tidak bisa bertahan lama, tapi beberapa minggu setelah itu, HSBC dan Wahana Visi Indonesia membantu membangunkan sekolah sementara.

 

Sedikit informasi, sekolah ini ditempati 55 siswa dari kelas 1 sampai 6 sekolah dasar. Bukan jumlah yang banyak, tapi semangat anak-anak yang masih ingin bersekolah tentu menjadi kebanggaan tersendiri.

 BACA JUGA : Meghan Markle akan Gelar Baby Shower yang Kedua, Ini Bocorannya

Inggersadi menambahkan, sampai saat ini pihaknya juga masih berharap ada bantuan yang bisa lebih melayikkan kondisi sekolah. Sebab, bagaimana pun rasa nyaman saat anak menimba ilmu menjadi hal penting dan dia berharap ada pihak lain yang membantu memperbaiki sekolah yang sudah dibangun sejak 2002 tersebut.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini