nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Desa Jenggala, 'Surga Kecil' di Tengah Kekacauan Lombok Utara

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 21 Februari 2019 10:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 21 406 2020889 desa-jenggala-surga-kecil-di-tengah-kekacauan-lombok-utara-A2dvlrupw2.jpg Lombok. (Foto: Okezone)

LOMBOK memang porak poranda akibat gempa Juli 2018. Tapi tidak semua keindahan Lombok hilang bersama gempa tersebut. Sebut saja Desa Jenggala, yang menjadi oase indahnya Lombok di tengah reruntuhan gempa.

Okezone bersama dengan tim Wahana Visi Indonesia menunggu kedatangan ojek gunung di sebuah tempat yang dinamakan posko. Di tempat itu, Anda bisa melihat beberapa pria mengumpulkan kelapa.

Tak sampai satu jam, tepatnya pukul 10 pagi waktu Lombok, tim pergi menuju desa terpencil di dalam hutan. Di sanalah desa jenggala berada. Jalur yang mesti ditempuh pun tidak mudah, dan hanya dapat dilalui motor, karena sisi kanan jalur langsung jurang dan kondisi medan yang becek serta berbatu.

Baca Juga: Dugem dengan Kekasih Vanessa Angel, Pose Nomor 5 Anya Geraldine Bikin Pria Lemas!

Bahkan, di beberapa titik pemotor harus menghadapi tanjakan yang cukup terjal, serta turunan yang sangat curam. Pohon rimbun pun beberapa kali menutupi jalan, bahkan ada satu spot di mana batang pohon besar menutupi sebagian jalan akibat longsor yang terjadi belum lama ini.

Menurut pengakuan warga setempat, Apriadi, ibunya melahirkan di jalan tersebut. Ya, jalan dari posko hingga desa jaraknya sekira 5 km, ditempuh dalam waktu 1 jam kurang lebih. Itu kenapa beberapa warga yang akan melahirkan atau sakit, mesti dibawa keluar dari desa sebelum kondisi semakin parah.

"Saya dilahirkan mamak saya di jalanan menuju rumah sakit. Jadi, di jalanan ini saya dilahirkan," cerita Apriadi mengulang kisah masa lalunya pada Okezone.

Baca Juga: 5 Penampilan Seksi Vernita Syabilla, Pelakor di Keluarga Richie?

Dia menjelaskan, jalanan tersebut tidak memiliki penerangan, sehingga ketika dilalui malam akan semakin berbahaya lantaran jurang di pinggir jalan telah menunggu. Meski demikian, Apriadi mengatakan tidak ada warga di sana yang pernah jatuh ke jurang.

"Kita sudah ajarkan anak di sini (Desa Jenggala) naik sepeda motor sejak dia sekolah dasar, karena dia akan membutuhkan kemampuan itu suatu hari nanti," tambahnya sambil membawa Okezone ke Desa Jenggala.

Selama perjalanan, hamparan pohon rimbun, suara air mengalir, dan kicauan burung hutan menjadi sahabat setia yang bisa dinikmati. Di sisi lain, penumpang ojek gunung harus pegangan tangan erat-erat karena kondisi jalan yang sangat tidak stabil dan beberapa kali ada genangan air yang membuat jalanan semakin licin.

Sepanjang jalan menuju desa, rumah warga memang saling berjauhan, karena pemilik rumah harus membuat rumah di lahan miliknya.

"Jadi, kalau misalnya keluarga A punya lahan di lokasi A, ya, pastinya rumah setelahnya jauh atau di luar dari kawasan lahan keluarga A. Makanya, di sini aman," ungkap Apriadi lantas tertawa.

Berdasarkan pantuan Okezone, banyak sekali tanaman seperti cokelat, kopi, kelapa, bahkan pisang tumbuh bebas. Tanaman itu juga yang kemudian menjadi mata pencaharian warga setempat.

Apriadi menjelaskan, warga di Desa Jenggala itu kebanyakan adalah petani dan tanaman yang mereka pelihara itu, ya, seperti cokelat, pisang, kelapa, kopi, vanili, atau beberapa juga pisang. "Di sini kebanyakan petani orangtuanya. Tapi, untuk anak muda, karena banyak yang sampai kuliah, beberapa ada yang bantu orangtua di ladang, ada juga yang jadi tukang ojek gunung," paparnya.

Apriadi menuturkan alasan kenapa warga tidak mau pindah saja ke kota atau wilayah lain yang lebih terjangkau. "Kita semua di sini kurang punya keahlian. Kalau kita ke kota, kita bisa apa? Punya uang bagaimana? Makanya, kita bertahan karena di sinilah kehidupan kita," terangnya.

Sementara itu, terkait dengan budidaya kopi dan vanili, Nurnah mengatakan kalau dua tanaman itu menjadi sumber penghasilan kebanyakan warga Desa Jenggala. Salah satunya dia juga.

"Kopi tumbuh subur di sini. Kakao juga. Tapi, setelah gempa, udara di sini jadi sedikit panas dan berpengaruh ke hasil panen. Banyak biji kopi yang mati dan kakao juga sama," tuturnya.

Nurnah melanjutkan, untuk kopi sendiri, dirinya biasa memanen 3 kali dalam setahun. Jumlahnya beragam, tapi biasanya panen kedua yang bisa sampai menghasilkan panen berkarung-karung.

"Kalau sedang produktif, kita bisa memanen biji kopi itu 500 kilogram dengan harga per kilogramnya Rp 20.000. Jadi, ya, bisa ngantongin Rp 10 juta sekali panen," papar Nurnah sambil kemudian dia mengarahkan Okezone ke ladang vanilinya.

Ya, vanili juga menjadi komoditi yang cukup banyak tumbuh di Desa Jenggala. Tanaman ini bahkan lebih menghasilkan pundi-pundi rupiah. Berdasar pengakuan pria berusia 44 tahun ini, per kilogram vanili bisa dihargai sampai Rp 500 ribu dan panennya bisa sampai puluhan kilogram.

"Di sini tanahnya masih lapar. Jadi, apapun yang ditanam sepertinya akan tumbuh subur. Itu juga alasan kami masih bertahan di sini dan kehidupan kami bisa tetap jalan sekali pun keberadaan kami jauh dari pusat keramaian," ungkapnya yang mengantarkan Okezone kembali ke kediamannya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini