nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hipertensi Intai Generasi Milenial, Kenali Faktor Risikonya

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 22 Februari 2019 14:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 22 481 2021478 hipertensi-intai-generasi-milenial-kenali-faktor-risikonya-X4QS9ZQH6U.jpg Ilustrasi (Foto: Huffpost)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi ternyata tidak hanya mengancam orang tua atau mereka yang sudah berusia lanjut. Para generasi milenial pun memiliki potensi terkena hipertensi karena gaya hidup tidak sehat dan sejumlah faktor risiko lainnya.

Secara menyeluruh, tren prevalensi hipertensi saat ini masih terus meningkat, demikian pula halnya dengan berbagai penyakit yang berkaitan langsung seperti gagal ginjal, stroke, dan penyakit jantung. Menurut data Riskesdas 2018, sebanyak 34,1% masyrakat Indonesia dewasa umur 18 tahun ke atas terkena hipertensi.

Angka tersebut mengalami peningkaran sebesar 7,6% dibanding hasil Riskesdas 2013 yaitu, 26,5%. Dokter Paskariatne Probo Dewi Yanin, SpJP mengatakan, salah satu faktor risiko hipertensi adalah gaya hidup yang tidak tepat yang banyak dilakukan oleh sebagian besar kaum milenial. Studi epidemiologi di AS menemukan sebanyak 7,3% kaum milenial (dewasa muda usia 18-39 tahun) terkena hipertensi, dan sebanyak 23,4% termasuk dalam kategori pre-hipertensi.

 Baca Juga: Ternyata Tanaman Ini Rahasia Panjang Umur Orang Jepang

“Gaya hidup yang dimaksud lebih mengarah pada aktivitas fisik yang berkurang dikarenakan semakin berkembangnya fasilitas yang ada seperti lift membuat masyarakat semakin jarang menggunakan tangga, kebiasan merokok, konsumsi makanan instan dan cepat saji (mengandung msg),” tutur dr. Paskariatne, dalam acara 13th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension, di Sheraton Hotel, Jakarta Selatan, Jumat (22/2/2019).

Lebih lanjut, Paska menjelaskan, hipertensi juga tergolong penyakit silent killer atau penyakit yang tidak menimbulkan tanda-tanda khusus. Bahkan, rata-rata kaum milenial diketahui terkena hipertensi saat melakukan medical check-up, itu pun jika ada program dari kantornya.

Padahal, hipertensi ini menjadi salah satu penyakit penyebab kematian dini sekitar 1,4 miliar orang di dunia, dan mayoritas terjadi di negara berkembang. Jika kaum milenial tidak sadar dengan faktor risiko yang ada, maka dapat menimbulkan penyakit berat seperti stroke, ginjal, dan jantung.

“Maka dari itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan melakukan deteksi dini atau mengukur tekanan darah sendiri di rumah. Apalagi sekarang sudah ada alat pengukur tekanan darah digital yang lebih memudahkan masyarakat,” tetas dr. Paska.

 

Selain itu, pencegahan hipertensi juga dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi garam, makanan instan atau cepat saji yang mengandung MSG, perbanyak aktivitas fisik, dan pola hidup sehat lainnya.

 Baca Juga: Garis Terminator Pemisah Belahan Bumi Siang dan Malam, Ini Penampakannya

Dalam kesempatan yang sama, dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH, selaku President InaSH menegaskan, diagnosa hipertensi harus dilakukan secara benar dan tekanan darah border-line harus dikonfirmasi dengan melakukan pengecekan di luar klinik atau rumah sakit.

Dengan kata lain, pasien yang dicurigai hipertensi dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah rutin di rumah atau biasa disebut Home Blood Pressure Monitoring (HBPM) atau dengan alat Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) bila tersedia.

“Beberapa kondisi dapat mengakibatkan perbedaan hasil pengukuran tekanan darah, antara lain coat-hypertension, yaitu kondisi klinis tekanan darah pasien yang secara persisten tinggi bila diukur oleh dokter atau perawat rumah sakit,” ungkap dr. Tunggul D. Situmorang.

“Pengukuran tekanan darah di rumah maupun ABPM perlu dilakukan untuk menilai hasil pengobatan pada pasien-pasien tertentu,” tukasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini