nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menjawab Kegalauan Kaum Millenials

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Jum'at 22 Februari 2019 17:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 22 612 2021575 menjawab-kegalauan-kaum-millenials-dvCFyP3DtL.jpg

SEPULANG ikut UI Open Days tahun lalu, Nurullita enggak galau lagi. Gadis lulusan SMK di bilangan Tebet, Jakarta Selatan ini memutuskan masuk jurusan Okupasi Terapi (OT) Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2017 lalu.

Pertimbangan mudah diserap pasar kerja memang selalu menjadi motifnya ketika memilih sekolah lantaran penghasilan orangtuanya pas-pasan sebagai pedagang.

“Saya pilih SMK karena lulusannya lebih dinilai terampil dan bisa diterima kerja lebih cepat. Sekarang saya dapat info kalau lulusan OT sangat dibutuhkan di dunia kerja khususnya pelayanan kesehatan,” ujar perempuan berusia 19 tahun ini.

Keyakinannya bertambah setelah membaca artikel dari beberapa media massa. Animo kebutuhan tenaga kesehatan di bidang OT disebut sangat tinggi karena dalam kondisi ideal seorang pasien perlu ditangani dalam durasi selama 60 menit. Sementara belum banyak universitas yang menghasilkan lulusan OT. Sedangkan jurusan OT sejak tahun 1997 dan pada tahun 2008 telah masuk di bawah naungan Vokasi UI.

Dalam kesempatan lainnya, Ketua Program Studi Okupasi Terapi Vokasi UI Gunawan Wicakcono,A.Md. OT, SKM, M.Si. menerangkan bahwa Program Pendidikan Vokasi UI merupakan pendidikan tinggi kejuruan diploma (D3). Sehingga lulusannya diarahkan untuk menguasai kemampuan dalam bidang kerja tertentu sebagai tenaga kerja di industri, lembaga pemerintahan/swasta atau berwiraswasta.

Seorang Okupasi Terapis dapat bekerja di rumah sakit (RS), klinik dan pusat rehabilitasi, sekolah khusus, industri dan perusahaan swasta, serta menjadi seorang pendidik dan konsultan. Ruang lingkup OT terdiri atas pediatri (anak), geriatri (lansia), psikososial (gangguan jiwa), gangguan fisik, dan kesehatan kerja.

“Hingga tahun 2018, para lulusan prodi OT Vokasi terserap 100 persen di dunia kerja,” ujar Gunawan menegaskan.

Mereka langsung bekerja di berbagai unit pada RS umum dan khusus, RS pemerintah dan swasta, sekolah khusus, klinik, konsultan okupasi, serta praktik dokter spesialis. Alumnus juga disiapkan peluang untuk bekerja di berbagai rumah sakit luar negeri.

Gunawan menjamin letak keunggulan OT Vokasi UI terletak di segi penyelenggaraan pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan kemajuan teknologi terbaru serta selaras dengan kebutuhan dunia kerja di tingkat Asia Tenggara yang menuntut penguasaan teknologi industri 4.0. Dia meyakini, komitmen jurusan untuk mengembangkan kurikulum perkuliahan yang aplikatif di dunia kerja menjadi sebuah keniscayaan agar kaum milenial optimistis.

Sektor pendidikan dan kesehatan saat ini memang menjadi salah satu fokus UI untuk dikembangkan. Pemenuhan fasilitas layanan kesehatan yang layak, inklusif, adil dan merata digabungkan dengan lembaga pendidikan sebagai sumber ilmu yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat. Kehadiran jurusan-jurusan kesehatan seperti OT disempurnakan dengan Rumah Sakit UI.

Kepala Humas dan Kantor Informasi Publik UI Dr. Rifelly Dewi Astuti, SE, MM mengamini, UI sangat menyadari bahwa rumah sakit pendidikan merupakan fasilitas yang sangat krusial dalam pendidikan kedokteran maupun ilmu kesehatan lainnya. Demi akses pendidikan, kesempatan kerja serta fasilitas yang berkeadilan luas.

“Mahasiswa dapat langsung terjun untuk mendapatkan pengalaman dalam menangani berbagai macam penyakit. Untuk itu, diharapkan tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat melainkan juga dapat menjadi sarana untuk mewujudkan pendidikan interprofesional. Sekaligus pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga, komunitas, dan masyarakat secara efisien, berkesinambungan, berbasis bukti, serta mengikuti perkembangan zaman,” terang Rifelly.

Kesempatan Terbuka, Karier pun Cemerlang

Komitmen UI untuk mewujudkan ekosistem berkeadilan dan inklusif seiring dengan motivasi masing-masing individu memilih kuliah di kampus yang terletak di Depok, Jawa Barat dan Salemba, Jakarta Pusat ini. Cepat bekerja, menambah jejaring memang menjadi sebuah daya tarik bagi sekira 400.000 alumnusnya. Seperti Nani Indriana (32 tahun) yang memutar kembali kisahnya di Kampus Jaket Kuning tersebut.

“Saat di SMA, dulu tak punya pikiran untuk masuk FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) UI. Setelah ikut try out dan melihat kesesuaian nilai dan passing grade jurusan, masuk UI rasanya sebuah kebanggaan tersendiri,” jelas perempuan yang berdomisili di Bogor ini.

Resmilah Nani menjalani kuliah di FKM UI medio 2005-2009. Setelah masuk kuliah, katanya, banyak pengalaman baru didapat. Mulai dari wawasan akademis seperti penjurusan, dosen yang berpikiran terbuka sampai kegiatan ekstrakampus.

“Selama perkuliahan para dosen AKK membuat kampus menjadi tempat menyenangkan untuk berpendapat dan itu berharga banget, anak muda seperti kita belajar open-minded dari mereka,”ulas Nani.

Suasana belajar penuh diskusi tadi juga ditemui di luar ruang belajar mengajar. Nani mengingat ada spot-spot ruang diskusi seperti Taman Bougenville bagi mahasiswa untuk belajar beretorika. Sehingga mereka lebih bebas berekspresi dan tidak berpikiran kolot.

Pengalaman kuliah tersebut menjadi modal terbesar Nani ketika memasuki dunia kerja tak lama setelah lulus jenjang S-1. Ia berhasil lolos tes pegawai negeri sipil di Kementerian Kesehatan tahun 2009.

“Ketika masuk dunia kerja, lulusan UI diakui dimana-mana. Pengetahuan di FKM ketika bekerja jadi basic sebagai humas, seperti pengenalan istilah kesehatan dan sebaliknya banyak hal baru didapat ketika di kampus,” tutur Nani.

Lain Nani, lain lagi dengan Muhammad Fakhruddin (35 tahun). Jejaring profesi menjadi modal kerjanya sebagai jurnalis di sebuah media cetak. Atas kesadaran itulah ia memilih jurusan S-2 Kajian Wilayah Amerika Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) pada tahun 2018 lalu. Berbekal beasiswa dari sebuah bank BUMN, ia ingin memperdalam komunitas Muslim di Amerika.

“Kuliah di KWA UI sangat relevan dengan kerja saya sebagai jurnalis sekaligus organisator,” jelas Fakhruddin.

Baca Juga : Kiat Sukses Berkarier Usai Lulus Kuliah

Diakui oleh Sekretaris Informasi, Komunikasi, dan Telekomunikasi PP Pemuda Muhammadiyah ini, ilmu di perkuliahan sekaligus statusnya sebagai mahasiswa UI memudahkan proses kolaborasi dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Pria asal NTB ini pun sukses menggelar acara literasi di enamkota di Indonesia bersama jejaring tersebut

“Kerjasama ini mampu membuat studi saya di UI menjadi sangat relevan dan aplikatif dengan organisasi yang saya geluti,” jelas Fakhruddin mengakui.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini