Kesulitan Cari Tenaga Kerja, Amerika Ciptakan Robot Petani

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 24 Februari 2019 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 22 612 2021703 kesulitan-cari-tenaga-kerja-amerika-ciptakan-robot-petani-rKMrULPrtu.jpg Robot petani (Foto:Washingtonpost)

INDUSTRI pertanian dan agraria dunia diprediksi akan segera mengalami revolusi secara besar-besaran. Salah satu indikatornya adalah kemunculan teknologi robot yang digadang-gadang dapat menggantikan kontribusi manusia dalam berbagai aspek, termasuk dalam proses produksi maupun saat musim panen berlangsung.

Kabar ini semakin berhembus kencang setelah salah satu perusahaan pertanian di kawasan Florida, Amerika Serikat, mengumumkan bahwa dalam waktu dekat ini mereka akan menggunakan robot untuk mengelola lahan seluas 454 lapangan bola.

Adalah Harvest CROO Robotics, perusahaan mesin yang belum lama ini meluncurkan robot pertanian yang mereka beri nama Harv. Mereka mengklaim bahwa, hasil pertanian seperti buah dan sayuran akan jauh lebih murah ketika Harv sudah mulai beroperasi.

Desain robot yang mereka usung pun telah disesuaikan dengan kebutuhan pertanian. Setiap robot dapat memilah buah yang sekira sudah matang, mencabut daun-daun kering, hingga menyiram seluruh lahan.

Sementara untuk urusan harga, Gary Whishnatzki, salah seorang petani stroberi asal Florida mengatakan, harga jual akan cenderung lebih murah seiring berkurangnya pekerja manusia.

“Para pekerja manusia terus berkurang. Jika kami tidak mencari solusi yang tepat (menggunakan robot), maka harga buah dan sayuran akan jauh lebih mahal, bahkan untuk kalangan menengah sekali pun,” tutur Gary.

Masalah sumber daya manusia (SDM) ini ternyata sangat mendesak. Para petani lokal pun mulai bersatu untuk mendatangi Harv, dan telah berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp126 miliar, termasuk dari perusahaan raksasa seperti Driscoll’s dan Naturipe Farms.

Bahkan, Wishnatzki yang menciptakan Harv dengan mantan insinyur Intel Bob Pitzer, salah satu aktor di balik serial televisi ternama “BattleBots," telah menginvestasikan sekitar Rp42 miliar dari uang mereka sendiri.

Satu robot Harv diprogram untuk menjalani pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh 30 pekerja manusia. Cara kerjanya pun terbilang efektif dan efisien. Semua robot akan melayang di lebih dari selusin baris tanaman pada saat yang sama, memetik lima stroberi setiap detik, hingga mencakup delapan hektar lahan sehari.

Teknologi robot ini semakin menarik bagi para petani, mengingat kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang lebih ketat dalam menekan pasokan pekerja musiman, serta Pabrikan mengalami evolusi serupa. Pabrik A.S. telah meningkatkan hasil selama dua dekade terakhir dengan tenaga kerja yang lebih kecil, berkat mesin yang meningkatkan efisiensi.

Seperti diketahui, setengah dari 850.000 buruh tani di Amerika Serikat ternyata bekerja secara ilegal. Data tersebut diambil dari dokumen resmi Departemen Tenaga Kerja di tahun 2016. Demikian dilansir dari, Washington Post, Jumat (22/2/2019).

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini