Mengenal Sudagaran Solo, Batik yang Dibuat di Luar Keraton

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 23 Februari 2019 10:07 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 23 194 2021807 mengenal-sudagaran-solo-batik-yang-dibuat-di-luar-keraton-4Wmdsxe0g7.jpg Batik Solo (Foto: Instagram)

BAGI traveler pencinta batik dan kain nusantara, mungkin bisa mampir ke JCC, Jakarta, 20-24 Maret di Hall A-B. Karena di sini, kalian bisa menjumpai acara Adiwastra Nusantara 2019 yang setiap tahunnya rutin dilakukan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pameran ini diselenggarakan menampilkan berbagai kain khas nusantara. Tak hanya itu saja, kolektor Batik dan juga penulis buku soal batik, Hartono Sumarsono akan ambil bagian dalam acara Adiwastra Nusantara 2019.

"Buku ke lima segera akan kita keluarkan. Judulnya batik Sudagaran Solo. Batik batik yang dibuat oleh saudagar di luar keraton. Karena di keraton sendiri tak sembarangan orang yang menggunakan batik khas keraton. Ternyata batik karya saudagar ini tak kalah bagusnya dengan keraton," kata Hartono saat ditemui di Jakarta, belum lama ini.

Baca Juga: Batik Solo nan Melegenda

Adiwastra Nusantara 2019 yang mengambil tema Wastra Adati Generasi Digital, menurut Hartono, sebagai pondasi bagi kaum milenial untuk aware terhadap budaya nusantara, dalam hal ini batik. Dia mengaku membuat buku tentang batik itu wujud dari keinginan untuk bersumbangsih kepada negeri ini. Termasuk membantu kaum milenial mencari referensi dalam hal batik.

"Saya merasa ada tanggung jawab untuk berkontribusi dalam bidang budaya khususnya batik dengan membuat buku soal batik Indonesia. Dalam buku-buku saya, ada sekitar 200 motif batik yang saya tampilkan dari berbagai referensi. Mungkin suatu saat nanti, buku saya atau referensi lain bisa didigitalisasi untuk lebih memudahkan lagi bagi milenial," jelas dia.

Batik Solo

Hartono mengaku, tak gampang menemukan data atau narasumber pendukung saat menyusun buku soal batik. Tetapi berkat koneksi pencinta batik, akhirnya bisa terbantu.

"Batik kita banyak motifnya. Dari batik tulis hingga corak yang terpengaruh dari China hingga Jepang. Kadang para pengrajin batik tak menurunkan ilmunya ke kerabatnya, jadi kita agak kesulitan mencari data dan narasumber," ungkap dia.

Awalnya, kata dia, koleksi batik bukan menjadi prioritas utama. Karena dia lebih suka mengoleksi keramik. Namun perkataan teman Hartono yang berasal dari Padang mengubah pandangannya.

"Awalnya saya suka keramik (pajangan), suatu waktu lagi nyari keramik di Jalan Surabaya, ada teman saya orang Padang bilang, corak batik kita yang bagus-bagus akan lenyap dari Indonesia, karena dibawa ke mancanegara. Dari situ saya mulai berpikir, bener juga omongan temen saya itu," kata Hartono.

"Apalagi saya bisnis batik, bakal ngerasa bersalah saya kalau bisnis batik tapi enggak mampu jaga batik indonesia. akhirnya fokus koleksi batik. Dimulai koleksi batik-batik yang corak kuno sejak 1983. Batik yang saya koleksi itu pertama kali itu batik pesisir, seperti pekalongan, lasem. Koleksi batik saya yang paling tua itu berasal dari tahun 1850an," pungkas Hartono.

Baca Juga: Tonjolkan Motif Kearifan Lokal, Ini Keistimewaan Batik Banten

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini