Djaduk Ferianto Main Musik Etnik Modern sebagai Bukti Cinta dan Doa untuk Tanah Air

Dewi Kania, Jurnalis · Minggu 24 Februari 2019 00:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 24 612 2022008 djaduk-ferianto-main-musik-etnik-modern-sebagai-bukti-cinta-dan-doa-untuk-tanah-air-KGbpLI8OGM.JPG Sesaji Nagari (Foto: Anggoro Tri Wicaksono)

Djaduk Ferianto kembali menciptakan karya musik keren yang mengawinkan antara alat musik tradisional dan instrumen modern. Hasilnya tentu enak didengar dan memukau para penonton.

Uniknya lagi, dia juga mengaransemen lagu dengan menggunakan mainan anak dan benda-benda peralatan dapur. Perpaduan musik yang kreatif ditampilkan dalam panggung yang mewah.

Tak cuma sendiri, Djaduk menggandeng Komunitas Seni Kuaetnika, yang didirikannya. Penampilannya malam ini di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta bikin penonton berdecak kagum.

 BACA JUGA : Rayakan 100 Juta Follower, National Geographic Unggah Foto-Foto Spektakuler

Bagaimana tidak, dalam konser bertajuk "Sasaji Nagari" ada 10 lagu yang dibawakan. Antara lain Sasaji Nagari, Ulan Andung-Andung, Batanghari, Kadal Nongak, Lalan Belek, Doni Dale, Anak Khatulistiwa, Made Cantik, Sigule Pong dan Air Kehidupan.

Jangan heran, aransemen musik dari lagu-lagu tersebut sangat memukau. Karena dikemas dengan aliran musik jazz, etnik modern hingga blues. Kemudian ada perpaduan warna musik dari Sumatera, Bali, Jawa yang disatukan dengan indah.

"Sasaji Nagari" diartikan sebagai puji-pujian dan doa yang dipersembahkan untuk negeri. Saat ini kondisinya negeri kita dinilai tengah mengalami kegelisahan dan sedang sedih.

Padahal Tanah Air kaya potensi, baik sosial dan budaya. Nah, lewat pertunjukan musik ini, diharapkan dapat membuat negara lebih damai, tentram dan masyarakatnya bersatu.

 

(Foto: Anggoro Tri Wicaksono)

Meskipun konteksnya menjaga serta mendoakan negara Indonesia agar damai, Djaduk Ferianto mengatakan, tidak ada kaitannya dengan huru-hara tahun politik. Dia murni ingin menjaga aset negara yang dimiliki, khususnya budaya dan tradisi.

"Apa yang kami kerjakan ini tidak kaitannya dengan berpolitik. Kami ingatkan kembali kepada masyarakat, kita merayakan kebebasan kemerdekaan. Kami hadir tidak untuk kekuasaan," tuturnya kepada Okezone ditemui di TIM, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2/2019).

Di Indonesia, sebut Djaduk, ada beraga etnis dan suku bangsa, serta agama. Ada suku Jawa, Sunda, Minang, Ambon, hingga Batak. Pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, sampah Konghucu pun ada.

"Semua punya hak sama, kalau ada mayoritas harus saling berdialog. Perbedaan bukan permusuhan. Jadi kalau beda pendapat, ada satu perdebatan bukan berarti musuh," kata dia.

Pesan dari konser ini, menurut Djaduk, budaya dan tradisi Indonesia harus dijaga selamanya. Sebabnya, pendiri bangsa di zaman sejarah sudah susah payah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

"Kami ingatkan inilah yang kita punya jangan sampai hilang. Saya titip Indonesia kepada generasi milenial," tuturnya

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan, Kuaetnika sering memberi kejutan untuk para penikmat musik. Karena setiap penampilannya di panggung dijamin unik dan bikin penonton kagum.

 

"Para personilnya selalu menggali dan memadukan musik tradisi dengan instrumen elektrik. Harmoninya unik, indah dan mudah didengar penikmat musik, khususnya generasi muda," kata Renitasari.

Kuaetnika merupakan komunitas musik yang dibentuk sebagai sebuah upaya dialog dalam bermusik. Ada nuansa lain yang selalu disajikan agar dicintai para generasi milenial.

 BACA JUGA : 5 Tipe Orgasme Wanita, Coba Sensasinya Pasti Nikmat Banget

Bersama dengan Djaduk Ferianto, banyak album yang sudah diluncurkan dan konser besar serupa. Seperti Nang Ning Nong Orkes (1996), Ritus Swara (2000), Unen Unen (2001), Many Skyns One Rhythm (2002), Pata Java (2003), Nusa Swara (2010), sampai Sending Djaduk (2014).

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini